Cara menambah berat badan anak 2 tahun secara alami dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas makanan, bukan sekadar memperbanyak porsinya. Pilih makanan yang padat gizi dan energi, seperti telur, ikan, kacang-kacangan atau selai kacang, alpukat, yogurt dan keju, lalu tambahkan camilan bergizi di antara waktu makan.
Lemak sehat dapat membantu meningkatkan kepadatan energi tanpa membuat porsi makanan terlalu besar. Yang tak kalah penting, hindari menjadikan makanan manis atau junk food sebagai jalan pintas. Anak juga perlu mendapat suasana makan yang santai, teratur, dan tidak penuh tekanan.
Untuk anak usia 2 tahun yang perlu menambah berat badan, pilih makanan dengan kombinasi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Academy of Nutrition and Dietetics menyarankan makanan dan camilan yang kaya nutrisi, termasuk telur, selai kacang dan selai kacang lain, kacang-kacangan, yogurt, keju, serta susu berlemak. Sumber lemak seperti alpukat, kacang, biji-bijian, dan minyak zaitun atau canola juga dapat membantu menambah kepadatan energi makanan.
Beberapa pilihan yang mudah dimasukkan ke menu harian antara lain:
Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, selai kacang, yogurt, dan keju dapat menjadi sumber protein. Pilih bentuk yang sesuai kemampuan mengunyah anak.
Alpukat, minyak zaitun atau canola, selai kacang, serta biji-bijian yang diolah dengan aman dapat membantu meningkatkan kalori dalam porsi kecil.
Nasi, kentang, ubi, oatmeal, roti gandum, pasta, buah, dan sayuran tetap penting sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Untuk kacang atau makanan berukuran kecil dan keras, perhatikan bentuk penyajiannya agar sesuai kemampuan makan anak. Selai kacang atau kacang yang sudah diolah lebih aman daripada memberikan kacang utuh.
Menambah berat badan tidak berarti anak harus dipaksa menghabiskan makanan dalam jumlah besar. Konsep yang lebih penting adalah nutrient-dense food, yaitu makanan yang memberikan energi sekaligus zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Makanan tinggi gula dan lemak memang dapat meningkatkan jumlah kalori, tetapi belum tentu memberikan cukup protein, vitamin, dan mineral. Academy of Nutrition and Dietetics justru menyarankan sebagian besar makanan dan camilan berasal dari pilihan yang kaya nutrisi.
Kebutuhan energi setiap anak juga berbeda. Dalam Permenkes No. 28 Tahun 2019, AKG untuk kelompok usia 1–3 tahun tercantum sebesar 1.350 kkal per hari dan 45 gram lemak per hari. Angka ini merupakan acuan kebutuhan rata-rata berdasarkan kelompok umur, sehingga tidak perlu dijadikan target yang harus dipenuhi secara kaku oleh setiap anak.
Karena itu, fokusnya bukan menghitung setiap kalori secara berlebihan, melainkan membuat pola makan anak lebih lengkap dan padat gizi.
Baca Juga: Kecanduan Gadget Saat Jam Makan, Benarkah Jadi Penyebab Anak Tidak Mau Makan Sama Sekali?
Berikut contoh sederhana yang bisa disesuaikan dengan selera anak, kebiasaan keluarga, dan kebutuhan gizinya.
| Waktu Makan | Menu | Sumber Kalori Padat Gizi |
| Sarapan | Telur orak-arik dengan keju dan roti gandum | Protein dan lemak dari telur serta keju |
| Camilan pagi | Smoothie yogurt dan buah dengan sedikit selai kacang | Lemak, protein, dan energi dari yogurt serta selai kacang |
| Makan siang | Nasi, ayam cincang, wortel, dan sayuran yang ditumis dengan sedikit minyak | Protein ayam dan tambahan energi dari minyak |
| Camilan sore | Alpukat lumat atau guacamole dengan roti lembut | Lemak tak jenuh dari alpukat |
| Makan malam | Ikan kukus, nasi atau kentang, dan alpukat | Protein ikan serta lemak sehat dari alpukat |
Smoothie dapat menjadi pilihan camilan, tetapi jangan sampai terlalu sering diberikan dalam jumlah besar hingga membuat anak kenyang sebelum makan utama. WHO menekankan bahwa pada usia 12–23 bulan, anak tetap membutuhkan makanan keluarga yang sesuai dan dapat diberikan 3–4 kali sehari, dengan 1–2 camilan sesuai kebutuhan dan nafsu makan.
Menu yang sudah bagus belum tentu berhasil bila waktu makan selalu menjadi sumber tekanan. Anak usia 2 tahun sedang belajar mengenali rasa lapar dan kenyang, sehingga orang tua perlu memberikan kesempatan untuk makan tanpa paksaan.
Buat jadwal makan yang relatif konsisten dan batasi distraksi seperti layar. Anak juga bisa dilibatkan dalam kegiatan sederhana, misalnya memilih buah, mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau membantu menata makanan.
Ketika anak menolak makanan, tidak perlu langsung mengganti dengan makanan favorit atau camilan manis. Tawarkan kembali pada kesempatan berikutnya dengan suasana tetap tenang. Tujuannya adalah membangun pola makan yang positif, bukan mengejar satu porsi besar.
Untuk mengetahui apakah berat badan anak memang perlu dikejar atau masih mengikuti pola pertumbuhan yang sesuai, orang tua dapat melihat berat badan ideal anak menurut WHO dan memperhatikan tren pertumbuhannya, bukan hanya angka timbangan sekali ukur. WHO menyediakan standar pertumbuhan anak yang mencakup berat badan menurut umur dan indikator pertumbuhan lainnya.
Selain makanan utama dan camilan, susu dapat menjadi salah satu pelengkap asupan harian. Produk seperti Morigro dapat ditempatkan sebagai pelengkap dalam pola makan seimbang, bukan sebagai pengganti makanan utama.
Bila anak memang mengalami masalah kenaikan berat badan, penting juga mengetahui penyebabnya. Berat Badan Anak Sulit Naik: Penyebab dan Cara Mengatasinya untuk melihat faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan kapan perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.
Baca Juga: Mengenal Neophobia pada Balita: Fase Anak Susah Makan Akibat Takut Menu Baru
Smoothie dapat membantu menambah asupan energi dan zat gizi bila dibuat dari bahan bergizi, misalnya yogurt, buah, dan selai kacang. Namun, smoothie sebaiknya menjadi bagian dari pola makan dan bukan menggantikan sebagian besar makanan utama.
Alpukat dapat menjadi salah satu pilihan karena mengandung lemak dan memberikan energi dalam porsi relatif kecil. Alpukat juga dapat dikombinasikan dengan makanan lain, misalnya roti, telur, atau dibuat menjadi guacamole.
Tidak ada satu jumlah yang berlaku untuk semua anak. WHO menyebut anak usia 12–23 bulan dapat mendapat 1–2 camilan sesuai kebutuhan dan nafsu makan, di luar makanan utama. Pada usia 2 tahun, jadwal camilan dapat disesuaikan dengan pola makan dan kebutuhan masing-masing anak.
Susu dapat menjadi salah satu sumber energi dan zat gizi, tetapi sebaiknya tetap menjadi pelengkap. Anak tetap membutuhkan makanan utama yang beragam untuk memperoleh protein, lemak, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya.
Hindari menjadikan minuman manis, permen, makanan ultra-proses, atau makanan tinggi gula sebagai cara utama menaikkan berat badan. Kalori memang dapat bertambah, tetapi kualitas gizinya belum tentu cukup. Hindari juga memaksa anak makan karena dapat membuat waktu makan semakin penuh tekanan.