Banyak orang tua khawatir ketika balita menolak makanan baru dan hanya mau makan menu yang sudah dikenalnya. Kondisi ini sering kali merupakan food neophobia, yaitu fase perkembangan normal ketika anak enggan mencoba makanan baru sebagai mekanisme perlindungan alami. Sekitar 40–60% anak mengalaminya dengan puncak pada usia 2–6 tahun. Cara mengatasinya bukan dengan memaksa, melainkan memberi paparan makanan baru secara berulang. Sebagian besar anak membutuhkan 8–15 kali paparan sebelum mau menerima makanan yang sebelumnya ditolak. Strategi seperti food chaining, makan bersama keluarga, dan menawarkan makanan tanpa tekanan terbukti lebih efektif dibandingkan memaksa anak makan.
Food neophobia adalah kecenderungan anak takut atau enggan mencoba makanan yang belum pernah dikenalnya. Kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan balita dan berbeda dengan hilangnya nafsu makan akibat penyakit. Anak dengan food neophobia umumnya tetap memiliki selera makan, tetapi hanya terhadap makanan yang sudah familiar.
Menurut telaah Dovey dkk. (Appetite, 2008), kondisi ini dialami sekitar 40–60% anak dan menjadi salah satu penyebab rendahnya konsumsi buah dan sayur. Selama anak tetap aktif, tumbuh sesuai kurva WHO, dan tidak menunjukkan tanda sakit, orang tua tidak perlu panik.
Food neophobia merupakan mekanisme perlindungan alami. Saat memasuki usia sekitar dua tahun, anak mulai lebih aktif mengeksplorasi lingkungan sehingga tubuh secara alami menjadi lebih waspada terhadap makanan yang belum dikenal. Selain faktor biologis, balita juga sedang belajar mandiri sehingga lebih sering mengatakan “tidak”. Rasa asing terhadap aroma, warna, atau tekstur baru membuat anak membutuhkan waktu sebelum mau menerima makanan tersebut.
Istilah food neophobia dan picky eating sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.
Food neophobia berfokus pada penolakan terhadap makanan yang benar-benar baru. Sebaliknya, picky eating menggambarkan anak yang menolak makanan yang sebenarnya sudah dikenal, biasanya karena alasan rasa, tekstur, warna, atau preferensi tertentu.
Tinjauan sistematis oleh Taylor dan kolega (2015) menunjukkan bahwa prevalensi picky eating sangat bervariasi tergantung definisi yang digunakan, mulai dari 5,8% hingga hampir 60%. Namun, berbagai penelitian memperkirakan angka rata-ratanya sekitar 22%.
Sementara itu, penelitian longitudinal oleh Cardona Cano dan rekan (2015) menemukan bahwa picky eating umumnya mencapai puncaknya sekitar usia tiga tahun dan sebagian besar akan membaik seiring bertambahnya usia.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sesuai Usia
| Aspek | Food Neophobia | Picky Eating |
| Definisi | Takut atau enggan mencoba makanan baru | Menolak makanan yang sudah dikenal |
| Objek penolakan | Makanan asing atau belum pernah dicoba | Makanan yang sudah familiar tetapi tidak disukai |
| Usia puncak | Sekitar 2–6 tahun | Umumnya memuncak sekitar usia 3 tahun |
| Pemicu utama | Ketakutan terhadap hal baru sebagai mekanisme protektif | Preferensi rasa, tekstur, pengalaman makan, atau pola makan |
| Strategi utama | Paparan berulang tanpa tekanan dan food chaining | Variasi menu, konsistensi, serta membatasi makanan pengganti |
| Prognosis | Cenderung mereda seiring bertambahnya usia | Sebagian besar membaik, meski pada sebagian anak dapat berlangsung lebih lama |
Memahami perbedaan ini penting karena pendekatan yang digunakan juga tidak selalu sama. Anak dengan food neophobia membutuhkan kesempatan berulang untuk mengenal makanan baru, sedangkan picky eater sering kali membutuhkan variasi penyajian dan konsistensi aturan makan.
Food neophobia umumnya mulai tampak ketika anak memasuki usia sekitar dua tahun, yaitu saat kemampuan eksplorasi meningkat pesat.
Pada periode ini, anak mulai lebih selektif terhadap makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Banyak orang tua mengira anak tiba-tiba berubah menjadi susah makan, padahal yang berubah sebenarnya adalah preferensi terhadap makanan baru.
Fase ini biasanya bertahan hingga usia sekitar lima atau enam tahun, kemudian secara bertahap membaik seiring meningkatnya pengalaman anak terhadap berbagai jenis makanan.
Meski demikian, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Ada anak yang cepat menerima makanan baru, sementara sebagian lainnya memerlukan waktu lebih lama.
Hal yang paling berpengaruh bukan hanya usia, tetapi juga pengalaman makan sehari-hari. Tinjauan sistematis oleh Cole dan kolega (2017) menunjukkan bahwa praktik pemberian makan dan keyakinan pengasuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan food neophobia maupun picky eating. Edukasi kepada orang tua terbukti membantu meningkatkan variasi makanan yang dikonsumsi anak.
Menghadapi food neophobia membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tujuannya bukan membuat anak langsung menyukai makanan baru dalam satu kali percobaan, melainkan membangun rasa aman terhadap makanan tersebut.
Kesalahan paling umum adalah menyerah setelah satu atau dua kali penolakan.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak sering kali membutuhkan 8–15 kali paparan sebelum akhirnya bersedia menerima makanan baru.
Paparan tidak selalu berarti anak harus memakan makanan tersebut. Melihat, menyentuh, mencium aroma, membantu menyiapkan makanan, atau sekadar meletakkannya di piring juga termasuk bagian dari proses mengenal makanan.
Karena itu, jangan langsung menghapus suatu menu dari daftar makanan keluarga hanya karena anak pernah menolaknya.
Food chaining merupakan teknik memperkenalkan makanan baru melalui makanan yang sudah disukai anak.
Misalnya, apabila anak menyukai kentang goreng, orang tua dapat mulai menawarkan kentang panggang, kemudian mashed potato, dilanjutkan ubi kukus yang memiliki tekstur serupa.
Jika anak menyukai ayam goreng tepung, tahap berikutnya bisa berupa ayam panggang, ayam rebus, hingga ikan dengan tekstur yang mirip.
Pendekatan bertahap ini membantu anak merasa lebih aman karena perubahan yang diberikan tidak terlalu drastis.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan: GTM, Nafsu Makan Rendah, atau Masalah Medis? Ini Cara Membedakannya
Anak belajar terutama melalui pengamatan.
Ketika melihat orang tua dan saudara menikmati berbagai jenis makanan dengan ekspresi positif, anak akan lebih terdorong untuk ikut mencoba.
Karena itu, biasakan makan bersama keluarga tanpa tekanan. Hindari menyiapkan menu yang berbeda hanya untuk anak setiap hari karena kebiasaan tersebut justru mempersempit variasi makanan yang dikenalnya.
Bila anak masih menolak, tetap sajikan makanan yang sama pada kesempatan berikutnya tanpa memaksa.
Apabila penolakan makanan disertai masalah lain, misalnya nyeri gusi akibat tumbuh gigi, pendekatan yang digunakan tentu berbeda. Orang tua dapat membaca pembahasannya pada artikel Fase Anak Susah Makan Saat Tumbuh Gigi (Teething), Begini Trik Menyiasatinya.
Begitu pula jika anak tampak sulit makan bukan hanya karena makanan baru, tetapi juga dipengaruhi jadwal makan, kebiasaan ngemil, atau aturan makan yang kurang konsisten. Kondisi tersebut dibahas lebih mendalam dalam artikel Penyebab Anak Tidak Mau Makan Sama Sekali: Evaluasi Jadwal Harian dan Feeding Rules.
Niat baik orang tua terkadang justru memperkuat penolakan makanan.
Kesalahan pertama adalah memaksa anak mencicipi makanan baru. Penelitian oleh Galloway dan kolega (2006) menunjukkan bahwa tekanan saat makan membuat anak mengonsumsi makanan lebih sedikit dan memberikan respons emosional yang lebih negatif terhadap makanan tersebut.
Kesalahan berikutnya adalah terus-menerus menyembunyikan sayuran atau bahan makanan lain tanpa pernah memperlihatkan bentuk aslinya. Cara ini mungkin membantu meningkatkan asupan sesaat, tetapi tidak mengajarkan anak mengenali makanan tersebut sehingga kesempatan belajar menjadi berkurang.
Orang tua juga sering menyerah terlalu cepat. Setelah dua atau tiga kali ditolak, makanan tersebut tidak pernah disajikan lagi. Padahal, penerimaan makanan baru merupakan proses bertahap yang memerlukan banyak paparan.
Selain itu, memberikan makanan favorit sebagai pengganti setiap kali anak menolak menu baru dapat memperkuat perilaku penolakan. Anak belajar bahwa dengan mengatakan “tidak”, ia akan mendapatkan makanan yang lebih disukai.
Apabila setelah berbagai upaya variasi makanan anak masih mengalami nafsu makan menurun dalam jangka panjang, orang tua sebaiknya memahami penyebabnya terlebih dahulu sebelum mencari suplemen atau penambah nafsu makan.
Ya. Food neophobia merupakan fase perkembangan yang umum terjadi pada usia sekitar 2–6 tahun. Selama anak tetap aktif, tumbuh sesuai kurva pertumbuhan, dan masih mau mengonsumsi makanan yang sudah dikenalnya, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
Sebagian besar penelitian menunjukkan anak membutuhkan sekitar 8–15 kali paparan sebelum bersedia menerima makanan baru. Karena itu, jangan menyerah hanya karena satu atau dua kali penolakan.
Food neophobia adalah penolakan terhadap makanan yang benar-benar baru, sedangkan picky eating adalah penolakan terhadap makanan yang sebenarnya sudah dikenal tetapi tidak disukai karena rasa, tekstur, atau alasan lain.
Tidak. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa memaksa anak makan justru meningkatkan penolakan dan membuat pengalaman makan menjadi negatif. Pendekatan yang lebih efektif adalah menawarkan makanan secara konsisten tanpa tekanan, memberi contoh melalui makan bersama, dan menggunakan teknik food chaining.
Food neophobia merupakan fase perkembangan yang normal dan dialami oleh banyak balita. Penolakan terhadap makanan baru bukan berarti anak nakal atau memiliki gangguan makan, melainkan bagian dari mekanisme alami yang membantu mereka lebih berhati-hati terhadap hal yang belum dikenal. Dengan memahami proses ini, orang tua dapat mengurangi tekanan saat makan dan lebih fokus membangun pengalaman positif terhadap makanan.
Selama fase neophobia ketika variasi makanan anak masih terbatas, pastikan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi. Susu pertumbuhan seperti Morigro dengan Formula GROMAX yang diperkaya Fish Oil (minyak ikan) dapat membantu melengkapi asupan gizi harian sebagai pendamping pola makan, bukan sebagai pengganti upaya memperkenalkan makanan baru. Yang terpenting, tetap berikan paparan makanan secara berulang, jadikan waktu makan sebagai momen yang menyenangkan, dan bersabar karena sebagian besar anak akan menerima lebih banyak variasi makanan seiring bertambahnya usia.
1. Dovey, T. M., Staples, P. A., Gibson, E. L., & Halford, J. C. G. (2008). Food neophobia and “picky/fussy” eating in children: A review. Appetite, 50(2–3), 181–193.
2. Taylor, C. M., Wernimont, S. M., Northstone, K., & Emmett, P. M. (2015). Picky/fussy eating in children: Review of definitions, assessment, prevalence and dietary intakes. Appetite, 95, 349–359.
3. Cardona Cano, S., et al. (2015). Trajectories of picky eating during childhood: A general population study. International Journal of Eating Disorders, 48(6), 570–579.
4. Cole, N. C., An, R., Lee, S.-Y., & Donovan, S. M. (2017). Correlates of picky eating and food neophobia in young children: A systematic review and meta-analysis. Nutrition Reviews, 75(7), 516–532.
5. Galloway, A. T., Fiorito, L. M., Francis, L. A., & Birch, L. L. (2006). “Finish your soup”: Counterproductive effects of pressuring children to eat on intake and affect. Appetite, 46(3), 318–323.
6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). Sulit makan pada bayi dan anak. IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
7. World Health Organization (WHO). Guidance on healthy diet and complementary feeding for infants and young children.