Menu dan camilan penambah berat badan anak sebaiknya kaya kalori padat gizi seperti protein dan lemak sehat, disesuaikan tekstur dan porsinya per usia, serta dilengkapi camilan sehat diantara jam makan utama. Prinsip utamanya bukan sekadar memberikan porsi besar, tetapi meningkatkan densitas kalori dan gizi per suapan agar kebutuhan anak tetap terpenuhi dalam porsi yang sesuai usianya. Kombinasi karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah membantu membuat pola makan lebih seimbang. Selain makanan utama dan camilan, susu juga dapat menjadi pelengkap asupan kalori dan gizi harian di luar makanan padat.
Anak memiliki kebutuhan energi untuk pertumbuhan, aktivitas, dan perkembangan, tetapi kapasitas lambungnya masih terbatas. Karena itu, menambah jumlah makanan secara berlebihan bukan selalu strategi yang tepat. Makanan dengan densitas energi dan zat gizi lebih tinggi dapat membantu memenuhi kebutuhan dalam porsi yang tetap sesuai usia.
WHO menekankan bahwa makanan anak perlu cukup energi, protein, dan mikronutrien serta diberikan sesuai usia dan kemampuan anak. Pada usia 12–24 bulan, WHO juga merekomendasikan makanan keluarga yang kaya zat gizi, termasuk sumber pangan hewani.
Di Indonesia, SKI 2023 mencatat prevalensi underweight pada balita sebesar 15,9% secara nasional. Karena itu, menu harian yang berkualitas penting untuk mendukung kecukupan asupan anak, terutama bila berat badan sulit bertambah.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sesuai Usia
Menu penambah berat badan sebaiknya tidak hanya mengandalkan makanan tinggi kalori, tetapi menggabungkan protein, lemak, dan karbohidrat dalam pola makan yang seimbang. Protein dapat berasal dari telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, atau kacang-kacangan. Lemak sehat dapat diperoleh dari alpukat, minyak nabati, santan secukupnya, keju, atau selai kacang yang diberikan dalam bentuk aman sesuai usia.
Karbohidrat seperti nasi, kentang, ubi, oatmeal, pasta, atau roti dapat menjadi sumber energi. Sayur dan buah tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat.
Kebutuhan energi juga berbeda menurut kelompok usia. Berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2019, angka kecukupan energi rata-rata yang dianjurkan adalah 1.350 kkal per hari untuk usia 1–3 tahun dan 1.400 kkal untuk usia 4–6 tahun. Angka ini merupakan acuan kelompok usia, bukan target yang harus dipenuhi dengan porsi yang sama pada setiap anak.
| Kelompok Usia | Tekstur | Fokus Kalori Padat Gizi |
| 1–2 tahun | Cincang halus/lunak, finger food kecil | Protein hewani lunak, lemak sehat seperti alpukat dan minyak nabati |
| 2–3 tahun | Potongan kecil, mulai tekstur keluarga | Karbohidrat kompleks, protein, dan camilan padat gizi |
| 4–6 tahun | Tekstur keluarga penuh | Porsi lebih besar sesuai kebutuhan, tetap prioritaskan camilan padat gizi |
Untuk anak usia 1–2 tahun, tekstur makanan perlu tetap disesuaikan dengan kemampuan mengunyah dan menelan. WHO menyebutkan bahwa pada usia sekitar 12 bulan, sebagian besar anak sudah dapat mengonsumsi jenis makanan yang sama dengan keluarga, dengan perhatian terhadap tekstur, keamanan, dan kepadatan zat gizi.
Baca Juga: Terapkan Aturan 30 Menit Sebagai Tips Anak Susah Makan yang Suka Mengemut
Menu makan utama dapat dibuat sederhana tetapi tetap mengandung beberapa kelompok makanan. Contohnya, nasi dengan telur orak-arik dan sayur yang dimasak lunak; nasi dengan ayam cincang, tahu, dan sayuran; atau kentang tumbuk dengan ikan, telur, dan sayuran.
Untuk anak yang makannya sedikit, komposisi makanan dapat dibuat lebih padat gizi tanpa harus memperbesar porsinya. Misalnya, menambahkan sedikit minyak atau sumber lemak ke dalam makanan yang sesuai. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada memaksa anak menghabiskan porsi besar.
Camilan bukan sekadar makanan selingan, tetapi dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. AAP menyarankan camilan balita dibuat dengan kombinasi kelompok makanan, misalnya sumber protein atau produk susu dengan buah, sayur, atau sumber biji-bijian.
Contohnya yogurt dengan buah, roti dengan olesan selai kacang tipis, pisang dengan yogurt, alpukat, telur matang, atau keju dengan buah yang dipotong sesuai usia.
Untuk anak usia 12–24 bulan, WHO merekomendasikan tambahan camilan bergizi 1–2 kali sehari sesuai kebutuhan. AAP juga mencatat bahwa balita dapat membutuhkan beberapa camilan sehat dalam rutinitas harian. Yang penting, camilan diberikan pada waktu yang terjadwal agar tidak berubah menjadi kebiasaan makan terus-menerus sepanjang hari.
Orang tua dapat membaca lebih lanjut mengenai 7 Cemilan Sehat Penambah Berat Badan Anak 1 Tahun serta perbedaan Snack Sehat vs Snack Kemasan.
Jika kebutuhan gizi anak belum optimal dari makanan, Susu Penambah Berat Badan Anak dapat menjadi salah satu pelengkap asupan, bukan pengganti menu utama dan camilan. Pilihannya perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kebutuhan gizi, serta anjuran tenaga kesehatan bila anak memiliki masalah pertumbuhan.
Pendekatan diet tinggi kalori dan protein juga dapat digunakan dalam kondisi tertentu dengan pendampingan dokter atau ahli gizi. Children’s Healthcare of Atlanta, misalnya, memberikan panduan peningkatan kepadatan energi dan protein untuk balita serta anak prasekolah dalam konteks kebutuhan medis tertentu.
Dalam konteks pola makan sehari-hari, susu seperti Morigro dapat digunakan sebagai pelengkap nutrisi di luar makanan padat. Morigro 200 gr dengan Formula GROMAX yang mengandung Minyak Ikan (Omega-3) untuk membantu nafsu makan, Probiotik BB536 & Prebiotik FOS untuk pencernaan, serta protein, kalsium, dan vitamin D dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi anak.
Sementara menu utama dan camilan tetap menjadi bagian penting dari pola makan seimbang. Jika berat badan anak sulit bertambah, orang tua juga perlu memahami Berat Badan Anak Sulit Naik: Penyebab dan Cara Mengatasinya dan tidak hanya mengandalkan penambahan kalori.
Tidak harus tinggi lemak secara berlebihan. Lemak merupakan sumber energi yang padat, tetapi menu tetap perlu seimbang dengan protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat.
Kebutuhannya bergantung pada usia dan pola makan. Anak usia 12–24 bulan dapat diberikan 1–2 camilan bergizi sesuai kebutuhan, sementara balita dapat membutuhkan beberapa camilan terjadwal.
Prinsipnya sama, tetapi tekstur, ukuran potongan, dan porsinya perlu disesuaikan dengan kemampuan makan serta kebutuhan usia. Anak usia 1 tahun masih membutuhkan perhatian lebih besar terhadap risiko tersedak.
Boleh sesekali, tetapi sebaiknya bukan pilihan utama. AAP menyarankan lebih banyak makanan utuh dan membatasi makanan yang tinggi gula, garam, serta sangat diproses.
Salah satu indikator penting adalah berat dan panjang/tinggi badan anak menunjukkan pola pertumbuhan yang sesuai pada kurva pertumbuhan. Jika berat badan tetap tidak bertambah, turun, atau muncul keluhan lain, konsultasikan dengan dokter. Penilaian tidak sebaiknya hanya berdasarkan jumlah makanan yang dihabiskan.
Referensi