Anak tetangga sudah lari-lari, sementara Si Kecil masih betah merambat? Sebelum khawatir, kenali dulu variasi perkembangan motoriknya, GroMoms.
GroMoms perlu waspada bila Si Kecil belum mencapai kemampuan yang umumnya sudah dikuasai anak seusianya. Contohnya, belum duduk tanpa bantuan di usia 9 bulan atau belum berjalan sendiri di usia 18 bulan. Namun, satu kemampuan yang terlambat belum otomatis menunjukkan gangguan. Keterlambatan pada beberapa kemampuan, tidak ada kemajuan, atau hilangnya kemampuan yang sudah dikuasai perlu mendapat perhatian lebih.
Motorik kasar menggunakan otot besar untuk aktivitas seperti berjalan, berlari, melompat, dan melempar. Motorik halus menggunakan otot kecil, terutama tangan dan jari, untuk aktivitas yang membutuhkan koordinasi serta ketelitian.
GroMoms tidak perlu membandingkan Si Kecil dengan anak lain secara ketat. CDC menyusun tonggak perkembangan berdasarkan kemampuan yang sudah dikuasai sedikitnya 75% anak pada usia tertentu, sehingga belum mencapai satu tonggak berarti perlu dipantau, bukan langsung didiagnosis sebagai gangguan.
Untuk memahami lebih lengkap perbedaan fungsi motorik kasar dan halus, GroMoms dapat membaca panduan terkait agar stimulasi yang diberikan sesuai kebutuhan Si Kecil.
Baca juga: Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak
WHO Motor Development Study melibatkan 816 anak sehat dari lima negara. Studi tersebut menemukan bahwa kemampuan duduk tanpa bantuan dicapai dalam rentang 3,8–9,2 bulan, sedangkan berjalan sendiri berada pada 8,2–17,6 bulan.
| Usia | Waspada Bila Motorik Kasar Belum | Waspada Bila Motorik Halus Belum |
|---|---|---|
| 9 bulan | Duduk tanpa bantuan | Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain |
| 12 bulan | Menarik badan untuk berdiri dan merambat | Menjumput benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk |
| 18 bulan | Berjalan sendiri tanpa berpegangan | Mencoba makan dengan sendok |
| 2 tahun | Menendang bola | Makan dengan sendok |
| 3 tahun | Melompat dengan dua kaki | Meronce manik besar, memakai garpu |
| 4 tahun | Menangkap bola besar | Memegang krayon dengan jari, bukan kepalan |
| 5 tahun | Melompat dengan satu kaki | Mengancingkan beberapa kancing |
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, otot tampak terlalu lemas atau kaku, serta selalu menggunakan satu sisi tubuh sebelum usia 18 bulan.
Karena perkembangan setiap anak memiliki variasi, pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala membantu GroMoms melihat apakah kemampuan Si Kecil berkembang sesuai pola usianya.
Variasi normal biasanya hanya terjadi pada satu kemampuan, sementara kemampuan lain tetap berkembang. Si Kecil juga perlahan dapat mengejar kemampuan tersebut. Sebaliknya, keterlambatan yang perlu dievaluasi cenderung melibatkan beberapa area, tidak menunjukkan kemajuan, atau disertai kehilangan kemampuan.
Tidak semua anak harus melewati setiap tahap dengan urutan yang sama. Studi WHO menemukan sekitar 4,3% anak sehat tidak pernah merangkak menggunakan tangan dan lutut, tetapi tetap dapat berjalan secara normal.
| Variasi Normal | Perlu Evaluasi |
|---|---|
| Terlambat pada satu kemampuan | Beberapa kemampuan tertinggal |
| Kemampuan lain tetap berkembang | Tidak ada kemajuan |
| Perlahan mengejar kemampuan | Kehilangan kemampuan yang sudah dikuasai |
| Tidak selalu melewati fase merangkak | Otot sangat lemas atau kaku |
Pada anak yang lahir prematur, penilaian perkembangan menggunakan usia koreksi, yaitu usia kronologis yang disesuaikan dengan waktu kelahiran lebih awal, hingga sekitar usia 2 tahun.
Stimulasi tidak harus berupa latihan khusus. Untuk motorik kasar, GroMoms bisa mengajak Si Kecil bermain menendang bola, berjalan mengikuti garis, atau melompat sesuai kemampuannya.
Untuk motorik halus, coba aktivitas seperti meremas playdough, menempel stiker, meronce manik berukuran besar, menuang air, atau mewarnai dengan krayon. Stimulasi juga dapat dikombinasikan dengan aktivitas melatih bicara anak agar GroMoms tidak hanya memperhatikan kemampuan motorik, tetapi juga perkembangan komunikasi Si Kecil. Ide aktivitas lainnya bisa disesuaikan dengan usia melalui panduan kegiatan motorik halus dan contoh motorik kasar.
Si Kecil yang aktif bermain dan bereksplorasi juga membutuhkan energi cukup sepanjang hari. Menu seimbang dapat dilengkapi pendamping seperti segelas Morigro untuk membantu memenuhi kebutuhan energi harian, tanpa mengklaim mempercepat perkembangan motorik.
Untuk anak yang lebih besar, GroMoms dapat memilih gerakan aktif yang aman di rumah sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan bermain.
Baca juga: Tahap Perkembangan Si Kecil 1-3 Tahun dan Stimulasinya
GroMoms sebaiknya berkonsultasi bila Si Kecil belum mencapai tonggak pada tabel, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, atau ada kekhawatiran tentang perkembangannya. CDC juga merekomendasikan skrining perkembangan pada usia 9, 18, dan 30 bulan.
Pemeriksaan dapat dimulai dari dokter spesialis anak, terutama konsultan tumbuh kembang. Bila diperlukan, dokter dapat merujuk Si Kecil ke fisioterapis atau terapis okupasi. Di Indonesia, pemantauan tumbuh kembang juga dapat dilakukan melalui Posyandu dan Puskesmas melalui layanan SDIDTK.
Percayai insting GroMoms. Bila merasa ada yang berbeda, lebih baik memeriksakan Si Kecil lebih awal agar kebutuhan stimulasi dan intervensinya dapat ditentukan dengan tepat.
Baca juga: Tumbuh Kembang Anak, Cara Membaca Kurva dan Persentil Pertumbuhan Sesuai WHO
Anak perlu dievaluasi bila belum berjalan sendiri pada usia 18 bulan. Studi WHO menemukan rentang pencapaian berjalan sendiri sekitar 8,2–17,6 bulan. Jika Si Kecil belum berjalan sendiri setelah batas tersebut, GroMoms sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak tanpa menunggu lebih lama.
Tidak. Sekitar 4,3% anak sehat dalam studi WHO tidak pernah merangkak menggunakan tangan dan lutut, tetapi tetap mencapai kemampuan berjalan. Karena itu, tidak merangkak saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya keterlambatan motorik.
Motorik halus anak 3 tahun dapat distimulasi melalui aktivitas sederhana seperti meronce manik besar, menempel stiker, meremas playdough, menuang air, dan mewarnai. Pilih aktivitas yang aman serta sesuai kemampuan Si Kecil, tanpa memaksanya menyelesaikan tugas tertentu.
Pemeriksaan dapat dimulai dari dokter spesialis anak, terutama konsultan tumbuh kembang. Jika diperlukan, dokter dapat merujuk Si Kecil ke layanan rehabilitasi medik, fisioterapis, atau terapis okupasi sesuai kebutuhan.
Anak yang lahir prematur dinilai menggunakan usia koreksi hingga sekitar usia 2 tahun. Usia koreksi mempertimbangkan jumlah minggu kelahiran lebih awal sehingga perkembangan Si Kecil tidak langsung dibandingkan dengan anak yang lahir cukup bulan.