“Kok anakmu kecil, ya?” Komentar seperti ini sering bikin GroMoms langsung cemas. Padahal, angka di timbangan saja belum cukup untuk menilai pertumbuhan Si Kecil. Berat badan anak perlu dinilai bersama tinggi badannya, bukan hanya berdasarkan usia. Misalnya, berat 12 kg pada anak laki-laki usia 3 tahun masih bisa berada dalam rentang normal menurut berat badan berdasarkan usia. Namun, hasilnya dapat berbeda ketika berat tersebut dibandingkan dengan tinggi badan. Karena itu, pemeriksaan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) menggunakan standar WHO membantu melihat apakah berat Si Kecil sudah proporsional.
Berat badan menurut umur (BB/U) memang berguna sebagai skrining awal, tetapi belum menggambarkan proporsi tubuh secara lengkap. Permenkes No. 2 Tahun 2020 juga menggunakan BB/TB untuk menilai apakah berat anak sesuai dengan panjang atau tinggi badannya.
Sebagai contoh, anak laki-laki usia tepat 3 tahun dengan berat 12 kg masih berada di atas batas -2 SD BB/U, yaitu sekitar 11,3 kg. Namun, tinggi badannya tetap perlu diperiksa karena berat yang sama dapat memiliki makna berbeda pada tinggi yang berbeda. Sebagai gambaran, GroMoms dapat melihat berat badan ideal anak usia 3 tahun berdasarkan standar WHO, tetapi hasilnya tetap perlu dibaca bersama tinggi badan Si Kecil.
Dalam tabel BB/TB Permenkes, anak laki-laki dengan tinggi 88 cm dan berat 12 kg berada di sekitar median sehingga masih termasuk gizi baik. Pada tinggi 100 cm, berat 12 kg berada di sekitar -3 SD sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Contoh tersebut menunjukkan mengapa angka berat badan tidak sebaiknya dinilai sendirian.
Untuk anak usia 0–60 bulan, Permenkes No. 2 Tahun 2020 menggunakan BB/TB untuk mengidentifikasi gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, risiko gizi lebih, gizi lebih, dan obesitas.
| Kategori | Indikator & Ambang | Artinya | Langkah Awal |
| Normal (gizi baik) | BB/TB -2 SD hingga +1 SD | Berat proporsional dengan tinggi | Pertahankan pola makan dan pantau rutin |
| Kurus (wasted) | BB/TB -3 SD hingga < -2 SD | Menunjukkan gizi kurang | Evaluasi asupan dan konsultasikan |
| Pendek (stunted) | TB/U -3 SD hingga < -2 SD | Tinggi lebih rendah dari standar usia | Evaluasi pertumbuhan dan penyebab |
| Berisiko gizi lebih/overweight | BB/TB > +1 SD | Berat melebihi proporsi tinggi | Atur pola makan dan aktivitas |
Perlu dipahami, stunted dinilai menggunakan TB/U, bukan BB/TB. Sementara itu, wasted menunjukkan berat badan terlalu rendah dibandingkan tinggi badan.
Masalah gizi masih menjadi perhatian di Indonesia. SKI 2023 mencatat prevalensi wasting balita sebesar 8,5%, stunting 21,5%, dan overweight 4,2%.
GroMoms bisa melakukan pemeriksaan awal dengan mengikuti langkah berikut.
1. Ukur berat dan tinggi badan dengan benar.
Gunakan alat yang akurat dan lakukan pengukuran dengan posisi sesuai usia. Untuk memastikan teknik pengukuran tepat, pelajari juga cara menimbang dan mengukur tinggi anak yang benar.
2. Pilih tabel sesuai usia dan jenis kelamin.
Anak di bawah 2 tahun menggunakan indikator weight-for-length, sedangkan usia 2–5 tahun menggunakan weight-for-height. WHO menyediakan tabel terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan.
3. Cari tinggi badan Si Kecil pada tabel.
Misalnya, masukkan tinggi 88 cm atau 100 cm pada kolom tinggi badan.
4. Bandingkan berat dengan garis z-score.
Perhatikan posisi berat terhadap -2 SD, median, +1 SD, +2 SD, dan batas lainnya.
5. Tentukan kategorinya.
Untuk balita, BB/TB lebih tepat digunakan untuk menilai apakah anak kurus atau memiliki berat berlebih dibandingkan BB/U karena indikator ini sudah memperhitungkan tinggi badan.
Untuk anak di atas 5 tahun, penilaian status gizi menggunakan IMT menurut umur (IMT/U). Jika GroMoms ingin memahami keseluruhan posisi pertumbuhan Si Kecil, penting juga mengetahui cara membaca kurva dan persentil pertumbuhan.
Baca juga: Cara Menghitung IMT Anak Sesuai Usia, Ini Rumus dan Cara Bacanya
Wasted berarti berat badan terlalu rendah dibandingkan tinggi badan, sehingga menunjukkan masalah gizi yang cenderung berkaitan dengan kondisi akut. Stunted berarti tinggi badan terlalu rendah dibandingkan usia, yang dapat berkaitan dengan masalah pertumbuhan jangka panjang. Seorang anak juga dapat mengalami keduanya sekaligus.
| Wasted | Stunted |
| Dinilai dengan BB/TB | Dinilai dengan TB/U |
| BB/TB < -2 SD | TB/U < -2 SD |
| Menunjukkan gizi kurang | Menunjukkan perawakan pendek |
| Lebih berkaitan dengan masalah akut | Dapat berkaitan dengan masalah kronis |
Untuk memahami faktor yang memengaruhi tinggi badan, GroMoms juga dapat melihat faktor genetik, nutrisi, kesehatan, dan lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan.
Baca juga: 7 Gerakan Penambah Tinggi Badan Anak yang Aman Dilakukan di Rumah
Jika berat badan kurang, jangan langsung menambah porsi makan secara berlebihan. Konsultasikan hasil pengukuran kepada tenaga kesehatan, kemudian evaluasi pola makan, riwayat sakit, dan perkembangan berat badan. Menu dapat dibuat lebih padat energi sesuai kebutuhan. Sebagai pendamping menu, Morigro menyediakan 180 kkal per sajian serta sumber protein dan minyak ikan untuk membantu melengkapi kebutuhan energi harian.
GroMoms juga dapat membaca panduan cara menambah berat badan anak dengan aman agar strategi yang dilakukan tetap sesuai kebutuhan Si Kecil.
Jika berat badan berlebih, fokuskan pada pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin. Kurangi minuman manis serta makanan tinggi gula dan energi, tetapi hindari diet ketat tanpa pendampingan tenaga kesehatan.
Jadi, GroMoms, jangan langsung cemas hanya karena angka timbangan. Cek proporsinya dengan tinggi badan, pantau trennya secara berkala, dan konsultasikan hasilnya jika berada di luar rentang normal.
Menurut standar WHO, batas -2 SD BB/U pada usia tepat 3 tahun sekitar 11,3 kg untuk anak laki-laki dan 10,8 kg untuk anak perempuan. Namun, angka tersebut hanya menggambarkan berat menurut usia. Penilaian yang lebih lengkap tetap perlu mempertimbangkan tinggi badan dan indikator BB/TB.
Belum tentu. Periksa BB/TB terlebih dahulu karena berat yang terlihat rendah menurut usia belum otomatis berarti gizi kurang. Jika BB/TB berada di bawah -2 SD, Si Kecil perlu dievaluasi lebih lanjut. Bila masih normal, pantau tren pertumbuhannya secara berkala.
Wasting adalah kondisi ketika berat badan terlalu rendah dibandingkan tinggi badan. Berdasarkan standar antropometri Indonesia, BB/TB di bawah -2 SD masuk kategori gizi kurang atau wasted, sedangkan di bawah -3 SD termasuk gizi buruk.
Tidak selalu. Berat badan yang melebihi proporsi tinggi dapat menunjukkan risiko gizi lebih atau overweight. UNICEF mencatat sekitar satu dari lima anak usia sekolah di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada 2023.
Rumus dapat memberikan gambaran kasar, tetapi bukan alat utama untuk menentukan status gizi. Untuk penilaian yang lebih akurat, gunakan standar antropometri WHO dan pantau perubahan pertumbuhan dari waktu ke waktu.