Berapa kali sehari anak harus minum susu agar BB naik? Tidak ada jumlah yang otomatis membuat berat badan anak naik lebih cepat. Susu sebaiknya diberikan sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebanyak mungkin untuk mengejar angka timbangan.
Untuk anak usia 1–2 tahun, susu atau produk susu dapat menjadi bagian penting dari asupan harian, sementara setelah usia 2 tahun jumlahnya tetap perlu disesuaikan dengan pola makan dan kebutuhan anak. Terlalu banyak susu justru dapat membuat anak cepat kenyang sehingga makan makanan utama lebih sedikit. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya frekuensi minum susu, tetapi juga total asupan makanan, pertumbuhan anak, dan jadwal makan sehari-hari.
Tidak ada frekuensi tunggal yang berlaku untuk semua anak. Kebutuhan susu dipengaruhi usia, pola makan, aktivitas, serta apakah anak mendapatkan sumber nutrisi lain seperti yogurt, keju, telur, ikan, daging, kacang-kacangan, sayur, dan buah.
Untuk anak usia 1–2 tahun, AAFP menyebut susu sapi utuh sebagai salah satu minuman utama dan memberikan contoh pola makan toddler yang menggunakan susu dalam beberapa waktu makan. Sementara itu, CDC menjelaskan bahwa anak usia 12–23 bulan membutuhkan sekitar dua porsi kelompok susu per hari yang dapat berasal dari susu, yogurt full-fat, keju, atau alternatif susu yang diperkaya.
Jadi, pertanyaan “berapa kali sehari” sebaiknya tidak dijawab dengan mengejar jumlah gelas sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah memastikan susu tidak mengambil porsi terlalu besar dari pola makan anak.
Baca Juga: Kecanduan Gadget Saat Jam Makan, Benarkah Jadi Penyebab Anak Tidak Mau Makan Sama Sekali?
| Usia | Takaran Harian yang Dapat Dijadikan Acuan |
| 1–2 tahun | Sekitar 2–3 gelas atau kurang lebih 470–700 ml, disesuaikan dengan total asupan anak |
| 2–5 tahun | Sekitar 2–2,5 gelas atau kurang lebih 470–590 ml, disesuaikan dengan pola makan dan kebutuhan anak |
Angka tersebut sebaiknya dipandang sebagai kisaran praktis, bukan target wajib. Total produk susu anak juga mencakup sumber lain seperti yogurt dan keju, sehingga tidak semuanya harus dipenuhi melalui minum susu.
Untuk anak yang sedang mengalami masalah kenaikan berat badan, kebutuhan individual sebaiknya dinilai bersama dokter atau tenaga kesehatan, terutama bila berat badan tidak mengikuti pola pertumbuhan sebelumnya.
Susu memang mengandung protein, lemak, kalsium, vitamin D, dan zat gizi lainnya. Namun, terlalu banyak susu dapat menimbulkan masalah lain.
Pertama, susu dapat membuat anak cepat kenyang. Perut anak yang sudah penuh oleh susu mungkin tidak lagi tertarik pada nasi, telur, ikan, sayuran, buah, atau sumber makanan lain yang juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Kedua, konsumsi susu yang berlebihan dapat berkaitan dengan masalah asupan zat besi. CDC menyebut terlalu banyak susu sapi dapat membuat tubuh anak lebih sulit memanfaatkan zat besi dari makanan. Healthline juga menyoroti hubungan konsumsi susu berlebihan dengan berkurangnya nafsu makan dan penyerapan zat besi.
Ketiga, menjadikan susu sebagai cara utama menaikkan berat badan dapat membuat pola makan anak menjadi kurang beragam. Padahal, pertumbuhan membutuhkan lebih dari sekadar tambahan kalori dari minuman.
Karena itu, jika anak susah naik berat badan, jangan langsung menambah volume susu. Lebih baik cari tahu penyebabnya dan pastikan makanan utama serta camilan juga memberikan energi dan zat gizi yang cukup.
Baca Juga: Berat Badan Ideal Anak 1 Tahun Menurut WHO
Jadwal susu sebaiknya dibuat supaya tidak mengganggu waktu makan utama.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah memberikan susu bersama atau setelah waktu makan, bukan terus-menerus sepanjang hari. Healthline menyarankan susu diberikan pada waktu makan dan air putih menjadi pilihan di antara waktu makan.
Contoh sederhana untuk anak yang makan tiga kali sehari:
Pagi: sarapan → susu sesuai kebutuhan
Siang: makan utama → air putih
Sore: camilan → susu bila memang menjadi bagian dari kebutuhan anak
Malam: makan utama → air putih
Pola tersebut tidak harus diterapkan sama pada semua anak. Yang penting, anak tetap memiliki waktu untuk makan makanan padat dan tidak terus merasa kenyang karena susu.
CDC juga menekankan bahwa susu sapi dan alternatif susu yang sesuai merupakan bagian dari pola makan yang beragam, bukan pengganti makanan.
Bila menggunakan susu seperti Morigro dengan Formula GROMAX yang mengandung Minyak Ikan (Omega-3) untuk membantu nafsu makan, Probiotik BB536 & Prebiotik FOS untuk pencernaan, serta protein, kalsium, dan vitamin D dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi anak.
Pemberiannya sebaiknya tetap mengikuti takaran pada kemasan dan ditempatkan sebagai bagian dari pola makan harian, bukan diberikan berlebihan hanya untuk mengejar kenaikan berat badan.
Untuk memahami lebih banyak tentang pemilihan susu, baca Susu Penambah Berat Badan Anak, Pilihan Tepat Si Kecil. Sementara perbandingan karakteristik susu formula dan susu UHT dapat dilihat pada artikel Susu Formula vs Susu UHT, Mana Efektif Naikkan BB Anak?
Tidak. Menambah susu secara berlebihan tidak otomatis membuat berat badan anak naik lebih cepat. Susu yang terlalu banyak justru dapat membuat anak kenyang dan mengurangi asupan makanan lain yang dibutuhkan.
Sebaiknya atur agar susu tidak membuat anak kehilangan nafsu makan untuk makanan utama. Memberikannya bersama atau setelah makan dapat menjadi salah satu cara mengatur jadwal, sementara air putih dapat diberikan di antara waktu makan.
Salah satu tandanya adalah anak sering kenyang karena susu dan menjadi kurang tertarik makan makanan utama. Bila pola ini berlangsung terus, asupan makanan anak dapat menjadi kurang beragam.
Tidak selalu. Kandungan dan petunjuk penyajian setiap produk dapat berbeda. Selain itu, total asupan susu juga perlu dilihat bersama yogurt, keju, dan produk susu lainnya yang dikonsumsi anak.
Ya. Air putih dapat menjadi pilihan minuman di antara waktu makan dan tidak menggantikan kebutuhan nutrisi dari makanan.