Minyak ikan merupakan sumber asam lemak omega-3 rantai panjang, terutama EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid), yang berperan penting dalam perkembangan otak, penglihatan, dan daya tahan tubuh anak. Menurut Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019, kebutuhan omega-3 anak usia 1–3 tahun adalah 0,7 gram per hari dan usia 4–6 tahun 0,9 gram per hari. Sementara itu, EFSA merekomendasikan 100 mg DHA per hari untuk anak di bawah usia dua tahun dan 250 mg DHA+EPA per hari untuk usia 2–18 tahun. Minyak ikan bukan penambah nafsu makan secara langsung, tetapi membantu memenuhi kebutuhan omega-3 ketika konsumsi ikan anak belum optimal.
Indonesia memang negara maritim, tetapi konsumsi ikan masih timpang antarwilayah. KKP mencatat konsumsi ikan nasional tahun 2024 sebesar 58,76 kg per kapita per tahun, dengan Maluku sebagai provinsi tertinggi dan DI Yogyakarta terendah. Di sisi lain, SKI 2023 menunjukkan prevalensi underweight balita mencapai 15,9% dan wasting 8,5%, sehingga kecukupan lemak sehat tetap menjadi bagian penting dari upaya mendukung pertumbuhan anak.
Minyak ikan berasal dari daging ikan berlemak seperti salmon, sarden, makarel, tuna, dan ikan kembung. Kandungan utamanya adalah EPA dan DHA yang mendukung perkembangan otak, retina mata, serta berbagai fungsi tubuh lainnya. Tubuh memang dapat membentuk EPA dan DHA dari ALA yang terdapat pada flaxseed atau chia seed, tetapi jumlahnya sangat kecil sehingga ikan tetap menjadi sumber terbaik. Minyak ikan bukan obat maupun solusi tunggal untuk anak susah makan, melainkan bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Minyak ikan berasal dari daging ikan dan kaya EPA serta DHA. Berbeda dengan itu, minyak hati ikan (cod liver oil) juga mengandung vitamin A dan vitamin D dalam jumlah tinggi sehingga dosisnya perlu lebih diperhatikan. Sementara omega-3 nabati seperti flaxseed, chia seed, dan kenari mengandung ALA yang hanya sebagian kecil dikonversi tubuh menjadi EPA dan DHA sehingga tidak dapat menggantikan minyak ikan sepenuhnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat minyak ikan berbeda-beda tergantung tujuan penggunaannya. Ada manfaat yang didukung bukti kuat, ada pula yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
DHA merupakan komponen utama jaringan otak sehingga berperan dalam perkembangan sistem saraf, kemampuan belajar, memori, dan konsentrasi. Karena itu, konsumsi ikan secara rutin dianjurkan sebagai bagian dari pola makan sehat anak.
Telaah Maternal & Child Nutrition (2019) menunjukkan suplementasi DHA maupun ALA berpotensi mendukung pertumbuhan anak usia 6–24 bulan, terutama pada anak dengan status gizi kurang. Namun, manfaat tersebut tetap perlu didukung kecukupan energi, protein, vitamin, dan mineral.
EPA membantu mengatur respons peradangan sehingga mendukung fungsi sistem imun. Meski demikian, minyak ikan tetap menjadi pelengkap pola makan sehat, bukan pengganti imunisasi maupun gaya hidup sehat.
DHA merupakan komponen penting retina sehingga kecukupan asupannya mendukung perkembangan fungsi penglihatan pada bayi dan anak.
Minyak ikan tidak terbukti secara langsung meningkatkan nafsu makan. Perannya adalah membantu memenuhi kebutuhan lemak esensial dan omega-3, sehingga mendukung pertumbuhan pada anak yang asupan ikannya masih rendah.
Kalau keluhan utamanya anak tidak mau makan, langkah yang lebih berdampak justru ada di meja makan: memperbaiki pilihan menu harian dan cara penyajiannya biasanya memberi perubahan yang lebih terasa dibanding menambah suplemen. Suasana makan juga menentukan, memaksa anak menghabiskan porsi sering berbalik membuatnya makin menolak, sehingga pendekatan bertahap tanpa paksaan lebih membantu untuk mencapai berat badan ideal. Adapun bila suplemen tetap dipertimbangkan, ada beberapa vitamin untuk nafsu makan, dan minyak ikan bukan termasuk di antaranya.
Baca Juga: Makanan Penambah Nafsu Makan Anak 1 Tahun
Kebutuhan omega-3 dapat mengacu pada dua pedoman yang sering digunakan.
Menurut Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019, anak usia 1–3 tahun membutuhkan sekitar 0,7 gram omega-3 per hari, sedangkan anak 4–6 tahun membutuhkan 0,9 gram per hari. Pada kelompok usia yang sama, kebutuhan lemak total masing-masing adalah 45 gram dan 50 gram per hari.
Sementara itu, European Food Safety Authority (EFSA) memberikan rekomendasi yang lebih spesifik terhadap DHA dan EPA, yaitu 100 mg DHA per hari untuk bayi dan anak di bawah usia dua tahun serta 250 mg DHA+EPA per hari untuk anak dan remaja usia 2–18 tahun.
Dalam praktik sehari-hari, kebutuhan tersebut umumnya dapat dipenuhi dengan mengonsumsi ikan berlemak 2–3 kali seminggu, disesuaikan dengan jenis ikan dan ukuran porsinya.
Agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan omega-3 anak dapat diterjemahkan ke dalam konsumsi ikan berlemak secara rutin. Tabel berikut menggabungkan rekomendasi AKG 2019 dan European Food Safety Authority (EFSA) sehingga memudahkan orang tua memahami kebutuhan berdasarkan usia.
| Kelompok Usia | Kebutuhan Omega-3 (AKG 2019) | Rekomendasi DHA/EPA (EFSA) | Setara Porsi Makanan* | Bentuk Suplemen yang Sesuai | Catatan Keamanan |
| 6–11 bulan | Mengikuti kebutuhan MPASI | 100 mg DHA/hari | 20–30 g ikan matang | Hanya bila dianjurkan dokter | Utamakan MPASI berbahan ikan |
| 1–3 tahun | 0,7 g/hari | 100 mg DHA/hari | 30–40 g ikan, 2–3 kali/minggu | Tetes atau sirup sesuai usia | Jangan melebihi dosis anjuran |
| 4–6 tahun | 0,9 g/hari | 250 mg DHA+EPA/hari | 40–50 g ikan, 2–3 kali/minggu | Sirup atau kapsul kunyah | Pilih produk teruji kualitasnya |
| 7–9 tahun | Mengikuti AKG usia sekolah | 250 mg DHA+EPA/hari | 50–70 g ikan | Kapsul kunyah atau softgel | Perhatikan kemampuan menelan |
| 10–12 tahun | Mengikuti AKG usia sekolah | 250 mg DHA+EPA/hari | 70–90 g ikan | Softgel sesuai kebutuhan | Hindari penggunaan berlebihan |
*Perkiraan porsi bergantung pada jenis ikan dan kandungan omega-3 masing-masing.
Meskipun kebutuhan dapat dipenuhi melalui suplemen, berbagai pedoman gizi tetap menempatkan ikan segar sebagai pilihan pertama karena selain menyediakan EPA dan DHA, ikan juga mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin B12, selenium, dan berbagai mikronutrien lain.
Indonesia memiliki banyak jenis ikan dengan kandungan omega-3 yang baik. Memilih ikan lokal juga umumnya lebih mudah dan ekonomis dibandingkan ikan impor.
| Jenis Ikan | Perkiraan Omega-3 per 100 g | Kategori Merkuri | Cocok untuk Usia |
| Ikan kembung | ±2.000 mg | Rendah | ≥6 bulan (tekstur disesuaikan) |
| Salmon | ±1.800–2.200 mg | Rendah | ≥6 bulan |
| Sarden | ±1.400 mg | Rendah | ≥6 bulan |
| Lele | ±250–350 mg | Rendah | ≥6 bulan |
| Tuna | ±300–1.200 mg (tergantung jenis) | Sedang | Konsumsi secukupnya |
| Bandeng | ±700–900 mg | Rendah | ≥6 bulan |
Angka di atas merupakan kisaran karena kandungan omega-3 dapat berbeda menurut spesies, habitat, dan metode budidaya. Untuk anak, sebaiknya pilih ikan dengan kandungan merkuri rendah dan sajikan dalam keadaan matang sempurna.
Anak lebih mudah menerima ikan bila disajikan dalam bentuk yang familiar, seperti nasi tim, sup, perkedel, atau omelet. Bila menggunakan suplemen, berikan sesuai petunjuk usia dan sebaiknya setelah makan untuk mengurangi rasa amis. Yang terpenting adalah pemberian secara rutin sesuai kebutuhan, bukan dalam dosis besar sesekali.
Prioritas pemenuhan omega-3 tetap berasal dari ikan segar yang dikonsumsi 2–3 kali seminggu. Bila konsumsi ikan masih terbatas, makanan atau minuman yang diperkaya minyak ikan dapat membantu melengkapi asupan. Salah satu contohnya adalah Morigro Rasa Vanilla – 200g yang diperkaya Fish Oil dalam formula GROMAX sebagai pelengkap nutrisi harian, bukan pengganti ikan maupun suplemen medis. Suplemen minyak ikan baru dipertimbangkan apabila kebutuhan belum tercukupi atau atas anjuran dokter.
Minyak ikan umumnya aman bila dikonsumsi sesuai dosis. Efek samping yang paling sering adalah rasa amis, sendawa, atau gangguan pencernaan ringan. Pilih produk yang telah melalui proses pemurnian dan memiliki izin edar resmi. Anak yang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki alergi ikan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan suplemen.
Baca Juga: Tips Menambah Berat Badan Si Kecil dengan Susu
Pilih susu pertumbuhan yang mengandung protein berkualitas, vitamin dan mineral penting, serta diperkaya lemak sehat seperti minyak ikan. Morigro dengan formula GROMAX dan Fish Oil merupakan salah satu contoh yang dapat digunakan sebagai pelengkap nutrisi harian. Susu tetap berfungsi sebagai pelengkap pola makan, sementara pemantauan berat badan sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan.
Tidak secara langsung. Hingga kini belum ada bukti kuat bahwa minyak ikan bekerja sebagai perangsang nafsu makan. Perannya adalah membantu memenuhi kebutuhan omega-3 dan lemak sehat saat asupan anak belum optimal.
Omega-3 sudah dapat diperoleh sejak masa MPASI melalui ikan yang diolah sesuai tekstur usia. Suplemen diberikan sesuai usia yang tercantum pada produk atau berdasarkan anjuran dokter.
Minyak ikan berasal dari daging ikan dan terutama mengandung EPA serta DHA. Minyak hati ikan berasal dari hati ikan dan juga mengandung vitamin A serta vitamin D dalam jumlah lebih tinggi sehingga penggunaannya memerlukan perhatian terhadap dosis.
Acuan yang sering digunakan adalah rekomendasi EFSA, yaitu 100 mg DHA per hari untuk anak di bawah dua tahun dan 250 mg DHA+EPA per hari untuk usia 2–18 tahun. Dosis suplemen tetap perlu mengikuti petunjuk produk atau rekomendasi dokter.
Belum tentu. Bila kebutuhan omega-3 sudah terpenuhi dari ikan dan makanan terfortifikasi, suplemen tambahan biasanya tidak diperlukan. Evaluasi pola makan anak terlebih dahulu sebelum memutuskan menggunakan suplemen.
Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Sebagian produk minyak ikan telah dimurnikan sehingga kandungan protein penyebab alerginya sangat rendah, tetapi keputusan penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan riwayat alergi masing-masing anak.