Banyak orang tua mencari vitamin untuk nafsu makan anak ketika si kecil mulai sulit makan atau berat badannya tidak kunjung naik. Padahal, tidak semua vitamin mampu meningkatkan nafsu makan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa yang berperan adalah perbaikan kekurangan (defisiensi) mikronutrien tertentu, terutama zinc, zat besi, dan vitamin B1 (tiamin).
Jika kebutuhan zat gizi anak sebenarnya sudah terpenuhi, pemberian vitamin tambahan umumnya tidak akan membuat nafsu makan meningkat secara signifikan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vitamin dan mineral merupakan bentuk suplementasi yang diberikan bila kebutuhan mikronutrien tidak dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari atau terdapat indikasi tertentu.
Karena itu, langkah pertama tetap memperbaiki pola makan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memberikan suplemen apa pun.
Jawaban singkatnya adalah bisa, tetapi tidak pada semua anak.
Banyak produk di pasaran dipasarkan sebagai vitamin penambah nafsu makan anak, seolah-olah semua anak yang sulit makan akan langsung lahap setelah mengonsumsinya. Faktanya, hal tersebut merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.
Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah perbedaan antara vitamin dan mineral.
Vitamin merupakan senyawa organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, seperti vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin D. Sementara itu, zinc dan zat besi sebenarnya termasuk kelompok mineral, meskipun dalam praktik sehari-hari sering ikut disebut sebagai “vitamin”.
Pada anak yang mengalami kekurangan zinc, zat besi, atau vitamin B kompleks, memperbaiki kekurangan tersebut memang dapat membantu mengembalikan nafsu makan. Namun apabila status gizinya sudah baik, pemberian vitamin tambahan belum tentu memberikan efek yang berarti.
Inilah mengapa orang tua tidak sebaiknya langsung membeli suplemen ketika anak tidak mau makan. Penyebab nafsu makan menurun bisa sangat beragam, mulai dari tumbuh gigi, infeksi ringan, kebiasaan ngemil, jadwal makan yang kurang tepat, hingga fase perkembangan.
Sebelum mempertimbangkan suplemen, orang tua juga perlu memahami berbagai penyebab nafsu makan anak tiba-tiba turun agar penanganannya sesuai dengan akar masalah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hanya beberapa mikronutrien yang memiliki hubungan cukup kuat dengan nafsu makan anak. Berikut adalah zat gizi yang paling banyak diteliti.
Di antara berbagai mikronutrien, zinc merupakan zat yang memiliki bukti ilmiah paling konsisten dalam kaitannya dengan nafsu makan.
Zinc berperan dalam lebih dari 300 proses enzimatik di dalam tubuh, termasuk metabolisme energi, fungsi sistem imun, pertumbuhan sel, dan regulasi hormon yang memengaruhi rasa lapar.
Ketika anak mengalami kekurangan zinc, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
Sebuah uji klinis acak oleh Khademian dkk. (2014) melibatkan 77 anak prasekolah yang mendapatkan suplementasi zinc 10 mg per hari selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan asupan energi harian serta perbaikan pada beberapa aspek perilaku makan dibanding kelompok plasebo.
Meski demikian, manfaat tersebut terutama terlihat pada anak yang memang memiliki risiko kekurangan zinc, bukan pada semua anak sehat.
Sumber zinc yang baik antara lain:
Menurut Permenkes RI No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), kebutuhan zinc adalah:
Baca Juga: Dampak Anak Suka Pilih-pilih Makanan untuk Kesehatan dan Mental
Selain zinc, zat besi juga memiliki hubungan erat dengan nafsu makan. Anak yang mengalami kekurangan zat besi atau anemia sering kali tampak:
Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan hemoglobin untuk mengangkut oksigen secara optimal ke seluruh jaringan.
Menurut IDAI, suplementasi zat besi memang direkomendasikan pada kelompok usia tertentu sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia. Namun, pemberian suplemen tetap perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing anak.
Kebutuhan zat besi berdasarkan AKG Indonesia adalah:
Sumber zat besi yang mudah diserap tubuh meliputi:
Sedangkan sumber nabati antara lain:
Agar penyerapannya lebih optimal, makanan sumber zat besi sebaiknya dikonsumsi bersama makanan yang mengandung vitamin C.
Vitamin B1 atau tiamin berperan dalam proses perubahan karbohidrat menjadi energi.
Ketika tubuh kekurangan vitamin B1, metabolisme energi menjadi kurang efisien sehingga anak dapat tampak lesu dan kehilangan nafsu makan.
Selain vitamin B1, vitamin B kompleks lain seperti B2, B6, dan B12 juga berperan dalam metabolisme tubuh dan fungsi sistem saraf.
Namun, hingga saat ini bukti bahwa vitamin B kompleks dapat meningkatkan nafsu makan pada anak yang status gizinya sudah baik masih terbatas.
Sumber vitamin B kompleks antara lain:
Vitamin A sering dianggap sebagai vitamin penambah nafsu makan, padahal fungsi utamanya bukan untuk merangsang rasa lapar.
Vitamin ini berperan penting dalam:
Pada anak yang mengalami infeksi berulang akibat kekurangan vitamin A, pemberian vitamin A dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan sehingga nafsu makan ikut membaik.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyediakan program kapsul vitamin A gratis di Posyandu dan Puskesmas setiap bulan Februari dan Agustus.
Bayi usia 6–11 bulan mendapatkan kapsul biru 100.000 IU, sedangkan balita usia 12–59 bulan memperoleh kapsul merah 200.000 IU.
Vitamin A dapat diperoleh dari:
Baca Juga: Makanan Penambah Nafsu Makan Anak 1 Tahun
Tidak semua vitamin dan mineral memiliki pengaruh langsung terhadap nafsu makan. Beberapa zat gizi lebih berperan dalam memperbaiki kondisi tubuh yang menyebabkan nafsu makan menurun, sementara yang lain membantu mendukung metabolisme dan penyerapan nutrisi.
| Zat Gizi | Peran pada Nafsu Makan | AKG Harian (1–3 th / 4–6 th) | Sumber Makanan Utama | Kekuatan Bukti | Catatan Suplementasi |
| Zinc | Membantu regulasi nafsu makan dan metabolisme | 3 mg / 5 mg | Daging merah, hati, telur, ikan, susu | Kuat | Diberikan bila ada indikasi atau risiko defisiensi |
| Zat Besi | Kekurangan menyebabkan anemia dan nafsu makan menurun | 7 mg / 10 mg | Daging merah, hati, ayam, ikan | Kuat | Suplementasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan |
| Vitamin B1 (Tiamin) | Mendukung metabolisme energi | 0,6 mg / 0,8 mg | Gandum utuh, kacang, daging | Sedang | Efektif bila terdapat defisiensi |
| Vitamin A | Membantu pemulihan setelah infeksi | 400 mcg RE / 450 mcg RE | Wortel, hati, telur, susu fortifikasi | Tidak langsung | Program kapsul vitamin A tersedia gratis di Posyandu |
| Vitamin D | Mendukung pertumbuhan tulang dan imun | 15 mcg / 15 mcg | Ikan berlemak, telur, susu fortifikasi | Tidak langsung | Diberikan bila ada indikasi |
| Vitamin C | Membantu penyerapan zat besi | 40 mg / 45 mg | Jeruk, jambu biji, stroberi, brokoli | Pendukung | Lebih efektif dikombinasikan dengan sumber zat besi |
Dari tabel di atas terlihat bahwa zinc dan zat besi merupakan mikronutrien dengan bukti paling kuat terkait perbaikan nafsu makan, sedangkan vitamin lain lebih banyak berperan mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Kalau anak susah makan, apakah langsung perlu diberi vitamin?”
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jawabannya belum tentu.
IDAI menjelaskan bahwa vitamin dan mineral pada dasarnya merupakan suplementasi, sehingga hanya diberikan bila kebutuhan mikronutrien anak tidak dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari atau terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan kebutuhan meningkat.
Idealnya, kekurangan suatu mikronutrien dibuktikan melalui pemeriksaan klinis dan, bila diperlukan, pemeriksaan marker biokimia di laboratorium. Namun, pemeriksaan tersebut tidak selalu mudah dilakukan dan biayanya relatif tidak murah.
Karena itu, dokter biasanya akan melakukan evaluasi menyeluruh terlebih dahulu, meliputi:
Baru setelah itu diputuskan apakah anak membutuhkan suplementasi atau cukup memperbaiki pola makan.
Sebagai contoh, IDAI juga merekomendasikan suplementasi zat besi rutin pada kelompok usia tertentu sebagai bagian dari pencegahan anemia. Hal ini berbeda dengan memberikan vitamin penambah nafsu makan secara bebas tanpa mengetahui penyebab anak sulit makan.
Selain itu, tidak semua kebutuhan vitamin harus dipenuhi dengan membeli suplemen. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menjalankan program kapsul vitamin A gratis setiap bulan Februari dan Agustus di Posyandu dan Puskesmas untuk bayi dan balita sesuai kelompok usianya.
Memberikan suplemen tanpa alasan yang jelas sering dianggap tidak berbahaya karena vitamin dijual bebas. Padahal, kebiasaan ini memiliki beberapa risiko.
Beberapa vitamin larut lemak seperti vitamin A dapat menumpuk di dalam tubuh bila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
Mineral seperti zat besi dan zinc juga memiliki batas aman konsumsi. Asupan berlebihan justru dapat mengganggu keseimbangan mineral lain di dalam tubuh.
Suplemen sering kali membuat orang tua merasa sudah melakukan sesuatu, padahal akar masalahnya belum terselesaikan.
Misalnya:
Jika penyebab tersebut tidak diperbaiki, vitamin tidak akan memberikan hasil yang optimal.
Tidak sedikit orang tua yang akhirnya memberikan vitamin hampir setiap hari selama berbulan-bulan karena merasa anak akan kembali susah makan bila dihentikan.
Padahal tujuan utama adalah membangun pola makan sehat, bukan membuat anak bergantung pada produk tertentu.
Cara terbaik memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tetap berasal dari makanan sehari-hari.
Beberapa contoh kombinasi menu yang kaya mikronutrien antara lain:
Sarapan
Makan siang
Camilan
Makan malam
Untuk anak yang porsi makannya memang kecil, orang tua dapat memilih makanan dengan densitas gizi tinggi, yaitu makanan yang mengandung banyak zat gizi dalam porsi yang tidak terlalu besar.
Selain makanan keluarga, susu pertumbuhan yang difortifikasi juga dapat menjadi salah satu sumber tambahan zinc, zat besi, vitamin D, dan vitamin B kompleks sebagai pelengkap pola makan, bukan pengganti makanan utama. Salah satu sumber lemak sehat yang juga sering difortifikasi adalah minyak ikan; manfaat dan dosisnya per usia dibahas pada artikel Minyak Ikan untuk Anak: Manfaat, Dosis per Usia, dan Kaitannya dengan Nafsu Makan.
Daripada langsung membeli vitamin nafsu makan anak, orang tua sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut agar penyebab utama dapat ditemukan terlebih dahulu.
Perhatikan apakah anak sudah mendapatkan pola makan yang teratur, yaitu tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat setiap hari. Sering kali nafsu makan turun bukan karena kekurangan vitamin, melainkan karena anak terlalu sering minum susu, ngemil sepanjang hari, atau makan dengan jadwal yang berubah-ubah.
Apabila porsi makan anak memang sedikit, fokuslah pada kualitas makanannya. Tambahkan sumber protein seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, serta lemak sehat seperti alpukat atau keju agar setiap suapan mengandung lebih banyak nutrisi.
Jangan hanya melihat banyak sedikitnya anak makan dalam satu hari. Yang lebih penting adalah memantau:
Bila kurva pertumbuhan masih sesuai usianya, kemungkinan besar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi meski porsi makannya terlihat kecil.
Baca Juga: Tips Menambah Berat Badan Si Kecil dengan Susu
Apabila anak tetap mengalami penurunan nafsu makan selama lebih dari dua minggu, berat badan stagnan atau turun, atau muncul gejala lain seperti demam berkepanjangan, muntah, diare, atau tampak sangat lemas, segera konsultasikan ke dokter anak. Dokter akan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan atau pemberian suplemen tertentu.
Bila masih ragu apakah anak mengalami GTM, nafsu makan rendah, atau terdapat masalah medis lain, Anda juga dapat membaca artikel Anak Tidak Mau Makan: GTM, Nafsu Makan Rendah, atau Masalah Medis? Ini Cara Membedakannya.
Apabila dokter menilai terdapat kekurangan mikronutrien tertentu, suplementasi dapat diberikan sesuai dosis dan lama penggunaan yang dianjurkan. Pendekatan ini jauh lebih tepat dibanding memberikan berbagai vitamin secara bersamaan tanpa mengetahui kebutuhan sebenarnya.
Tidak ada satu nutrisi yang menjadi solusi untuk semua anak. Namun, protein, zinc, zat besi, dan vitamin B1 merupakan zat gizi yang paling sering berkaitan dengan penurunan nafsu makan apabila jumlahnya tidak mencukupi. Yang terpenting adalah memastikan pola makan anak tetap beragam dan seimbang.
Prioritaskan kecukupan protein, energi, zinc, zat besi, dan lemak sehat. Untuk anak yang sulit menghabiskan porsi makan, pilih makanan dengan densitas gizi tinggi. Sebagai pelengkap, susu pertumbuhan seperti Morigro Rasa Vanilla – 200g dengan formula GROMAX yang diperkaya Fish Oil dapat menjadi pilihan selingan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. Berikan di luar jam makan utama agar tidak mengurangi selera makan.
Belum tentu. Sebagian besar produk tersebut mengandung kombinasi vitamin dan mineral yang sebenarnya hanya diperlukan bila terdapat kekurangan zat gizi tertentu. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum digunakan secara rutin.
Jika penyebabnya adalah kekurangan zinc atau zat besi, perubahan biasanya tidak terjadi dalam hitungan hari. Pada beberapa penelitian, perbaikan mulai terlihat setelah penggunaan selama beberapa minggu dengan dosis yang sesuai. Karena itu, orang tua tidak disarankan mengharapkan hasil instan.
Tidak selalu. Banyak susu pertumbuhan telah difortifikasi dengan berbagai vitamin dan mineral. Bila kebutuhan gizi anak sudah terpenuhi dari makanan dan susu, tambahan suplemen biasanya tidak diperlukan kecuali ada rekomendasi dari dokter.
Penggunaan tanpa indikasi dapat menyebabkan asupan beberapa vitamin atau mineral menjadi berlebihan. Selain itu, orang tua bisa menjadi terlalu bergantung pada suplemen dan mengabaikan perbaikan pola makan yang justru merupakan solusi jangka panjang.
Kekurangan zinc tidak dapat dipastikan hanya dari gejala seperti susah makan. Dokter akan menilai kondisi klinis, riwayat makan, pertumbuhan anak, dan bila diperlukan melakukan pemeriksaan laboratorium. Karena itu, jangan memberikan suplementasi zinc dalam jangka panjang tanpa anjuran tenaga kesehatan.
Banyak orang tua menganggap vitamin penambah nafsu makan anak sebagai solusi utama ketika si kecil mulai sulit makan. Padahal, bukti ilmiah menunjukkan bahwa vitamin atau mineral hanya akan membantu bila memang terdapat kekurangan zat gizi yang mendasarinya.
Di antara berbagai mikronutrien, zinc memiliki bukti paling kuat berkaitan dengan peningkatan nafsu makan, disusul oleh zat besi dan vitamin B1. Namun, langkah pertama yang tetap direkomendasikan adalah memperbaiki pola makan, meningkatkan kualitas asupan harian, memantau pertumbuhan, serta berkonsultasi dengan dokter bila keluhan menetap.
Dengan pendekatan yang tepat, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi tanpa bergantung pada suplemen yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan.