Diperbarui: 10 Oktober 2026
Saat seorang anak memasuki usia dua tahun, umumnya ia sudah mendapatkan nutrisi utama dari makanan yang dikonsumsinya. Nah, ketika ia menolak untuk makan, tentu GroMoms akan khawatir. Namun, ternyata wajar loh jika seorang anak dua tahun tiba-tiba susah makan. Kira kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasannya di sini.
Wajar kalau GroMoms khawatir. Berikut penyebab yang paling sering muncul, dan mengenalinya membantu memilih solusi yang sesuai.
Susah makan biasa: porsi mengecil tetapi Si Kecil masih mau mencoba, membaik dalam hitungan hari, suasana hati umumnya baik.
Gerakan Tutup Mulut (GTM): anak yang GTM biasanya akan membuat kebiasaan mulut dirapatkan atau makanan dilepeh setiap disuapi, bisa berlangsung berminggu-minggu, sering disertai tangisan.
Menurut IDAI, yang paling membantu adalah paparan berulang dan suasana makan yang tenang, bukan tekanan.
Namun, jika Si Kecil tetap menolak makan dengan gerakan tutup mulut atau GTM, jangan khawatir, Moms. Ada banyak strategi lain yang bisa dicoba untuk mengatasi GTM. Untuk lebih lengkapnya, yuk, pelajari cara-cara efektif menangani GTM pada batita di artikel berikut ini: Atasi GTM pada Batita tanpa Tersedak Dengan Cara Ini.
Jangan memaksa Si Kecil menghabiskan nasi. Ganti sumber karbohidratnya dengan kentang, oatmeal, atau pasta, dan ajak ia memasak bersama agar timbul rasa bangga dan mau mencicipi hasilnya. Tawarkan nasi lagi beberapa hari kemudian dalam bentuk berbeda, misalnya nasi bola atau nasi tim goreng sayur.
Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat
Kondisi ini sering muncul saat Si Kecil kenyang susu sehingga menolak makanan utama. Kurangi porsi susu di jam makan, tawarkan susu sebagai camilan di antara waktu makan, dan pastikan total menunya tetap bergizi seimbang. Bila pola ini bertahan lebih dari dua minggu, konsultasikan ke dokter anak.
Makanan yang diemut lama biasanya karena tekstur terlalu sulit, porsi terlalu besar, atau Si Kecil terdistraksi. Potong makanan lebih kecil, sesuaikan tekstur dengan kemampuan mengunyahnya, dan jauhkan distraksi agar ia fokus menyelesaikan suapannya.
Libatkan Si Kecil menyiapkan sarapan sederhana, misalnya roti panggang selai buah atau oatmeal susu dengan potongan buah. Buat nugget homemade berisi campuran sayur agar protein dan seratnya masuk dalam satu suapan. Untuk makan malam, sajikan protein tinggi seperti ikan goreng atau sup ayam agar kenyang lebih lama.
Untuk camilan, pilih yang alami seperti potongan buah, smoothie, puding buah, atau yoghurt beku. Hindari camilan kemasan agar Si Kecil tidak kenyang sebelum waktu makan utama.
Konsultasikan ke dokter anak bila:
Baca Juga: Kecanduan Gadget Saat Jam Makan, Benarkah Jadi Penyebab Anak Tidak Mau Makan Sama Sekali?
Ya, umumnya wajar dan sementara, terkait fase otonomi, pertumbuhan yang melambat, atau lingkungan. Yang perlu dipantau adalah durasi dan berat badannya.
Biasanya hitungan hari sampai satu dua minggu. Bila berminggu-minggu dengan penolakan total, sebaiknya evaluasi ke dokter anak.
Ganti dengan kentang, oatmeal, atau pasta, lalu tawarkan nasi lagi beberapa hari kemudian dalam bentuk yang lebih menarik.
Kurangi porsi susu di jam makan dan jadikan susu sebagai camilan di antara waktu makan. Bila bertahan lebih dari dua minggu, konsultasikan ke dokter.
Bila berat badan turun, menolak hampir semua makanan lebih dari dua minggu, disertai muntah, diare, atau demam berkepanjangan, atau tampak lemas.
Baca Juga: Mengenal Neophobia pada Balita: Fase Anak Susah Makan Akibat Takut Menu Baru