Diperbarui: 17 September 2026
Anak usia 3 tahun berada pada masa yang menarik dalam perkembangannya. Setiap langkah yang mereka ambil dan setiap kata yang mereka ucapkan adalah bagian dari pertumbuhan dan pembelajaran yang luar biasa. Normalnya, perkembangan anak pada usia 3 tahun harus memenuhi beberapa keterampilan dasar, mulai dari lancar komunikasi, semakin aktif, hingga bereksplorasi sambil bermain.
Berikut berbagai tahapan perkembangan yang perlu dimiliki Si Kecil ketika ia mencapai usia 3 tahun.
Memasuki usia 3 tahun, berat badan anak perempuan umumnya antara 11,3-17,3 kg, sedangkan anak laki-laki antara 11,8-17,5 kg. Tinggi badan anak perempuan berkisar antara 87,4-102,7 cm, sementara anak laki-laki umumnya 88,7-103,5 cm. Fisiknya semakin aktif dengan kemampuan berjalan, berlari, dan melempar.
Dalam usia ini, fisiknya semakin aktif dengan kemampuannya berjalan, berlari, ataupun melempar. Ia juga suka bereksplorasi maupun belajar keterampilan baru, seperti menendang bola atau mengendarai sepeda roda tiga. Penting sekali untuk memberinya waktu bermain dan mengajaknya istirahat dengan cukup untuk memaksimalkan perkembangannya.
Mencapai usia ini, kemampuan bahasa serta bicara Si Kecil biasanya meliputi:
Keterampilan kognitif dan kemampuan belajar anak pada usia ini, antara lain:
Pada masa ini, Si Kecil biasanya sudah lebih mahir dalam kemampuan motorik halus dan kasar berikut:
Kemampuan sosio-emosional Si Kecil juga makin berkembang loh, Moms. Berikut beberapa keterampilan yang mulai dimilikinya:
Moms, terjadinya tantrum pada Si Kecil merupakan hal yang perlu ditangani dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Untuk mengetahui cara mengatasinya, yuk, cek artikel yang satu ini: Cara Praktis untuk Mengatasi Tantrum pada Si Kecil.
Selain memantau milestone di atas secara mandiri, GroMoms juga bisa menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), alat skrining resmi yang disusun Kemenkes RI dan dipakai di puskesmas serta posyandu untuk anak usia 3 sampai 72 bulan. KPSP berisi 9 sampai 10 pertanyaan sesuai usia anak, dan untuk usia 3 tahun (36 bulan) termasuk salah satu jadwal skrining rutin.
Jadwal pemeriksaan KPSP rutin dilakukan setiap 3 bulan untuk anak di bawah 24 bulan, dan setiap 6 bulan untuk anak usia 24 sampai 72 bulan. Hasilnya diinterpretasikan sebagai berikut: jika 9 sampai 10 jawaban “Ya”, perkembangan anak sesuai usia. Jika 7 sampai 8 jawaban “Ya”, hasilnya meragukan dan perlu stimulasi lebih intensif selama 2 minggu sebelum dites ulang. Jika jawaban “Ya” 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan dan sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter spesialis anak.
GroMoms perlu memahami bahwa perkembangan Si Kecil berusia 3 tahun bisa berbeda-beda, dan tidak semua anak mencapai tonggak perkembangan dengan sama cepatnya. Meskipun begitu, ada beberapa tanda peringatan untuk keterlambatan yang perlu diperhatikan, seperti:
Untuk memastikan tumbuh kembangnya normal sesuai usia, GroMoms bisa ikut berpartisipasi dalam menstimulasi kemampuannya. Beberapa aktivitas yang bisa Moms lakukan bersama, di antaranya:
Penting untuk diingat bahwa mendukung perkembangan anak usia 3 tahun melibatkan lebih dari sekadar pemahaman dan dukungan emosional. Agar tumbuh kembangnya optimal, Moms juga perlu memberinya asupan nutrisi dengan tepat.
Dengan memberikan asupan nutrisi yang seimbang, Moms dapat membantu Si Kecil memenuhi kebutuhan perkembangan otaknya maupun menjaga agar ia selalu memiliki cukup tenaga untuk bereksplorasi. Yuk, cari tahu mengenai nutrisi ini di sini: Asupan Nutrisi Penting untuk Optimalkan Pertumbuhan Anak.
Pada usia 3 tahun, anak umumnya sudah bisa berbicara dalam kalimat yang dimengerti orang lain, memahami kata ganti dan kata depan, menggambar lingkaran, berlari dan melompat dengan mudah, naik sepeda roda tiga, serta mulai belajar mengungkapkan emosi dan bermain peran dengan teman-temannya.
GroMoms bisa memantau menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) dari Kemenkes, yang dilakukan setiap 6 bulan sejak usia 24 bulan. Selain itu, perhatikan milestone fisik, bahasa, kognitif, motorik, dan sosio-emosional sesuai usia seperti yang dijelaskan pada artikel ini.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain hilangnya kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki, sering jatuh atau cedera, sangat lamban dalam kemampuan motorik seperti tidak bisa berlari atau melompat sama sekali, dan mudah lelah saat beraktivitas hingga menjadi pasif. Jika muncul tanda-tanda ini, sebaiknya konsultasikan ke dokter anak.