Diare Si Kecil akhirnya reda, tetapi berat badannya turun? GroMoms bisa membantu pemulihannya melalui pola makan bertahap selama dua minggu. Catch-up feeding adalah pola makan pemulihan yang menambah frekuensi makan dan kepadatan energi untuk membantu mengembalikan berat badan anak setelah diare. Utamakan tiga kali makan utama dan dua hingga tiga camilan, dengan sumber protein dan lemak sehat. Berikan porsi bertahap, lanjutkan ASI, serta pantau berat badan secara berkala. Jika berat badan tidak pulih atau kondisi Si Kecil memburuk, konsultasikan kepada dokter.
Catch-up feeding adalah pola makan pemulihan yang membantu Si Kecil mengejar kembali berat badan yang hilang selama sakit. Fase ini umumnya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu, bergantung pada kondisi anak dan banyaknya berat badan yang turun.
WHO dan UNICEF menekankan pentingnya melanjutkan pemberian makan setelah diare. Pada fase pemulihan, GroMoms dapat menambahkan frekuensi makan dan memperkaya menu dengan protein serta sumber energi. Sementara itu, alasan medis anak diare tetap harus makan dapat membantu GroMoms memahami pentingnya asupan sejak fase sakit.
Diare dapat membuat berat badan turun karena tubuh kehilangan cairan dan nafsu makan berkurang. Jika asupan belum kembali mencukupi setelah diare mereda, berat badan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Namun, jangan langsung memberikan porsi besar untuk mengejar berat badan. Usus Si Kecil mungkin masih sensitif, sehingga peningkatan jumlah makanan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Fokus pada makanan padat energi dan bergizi seimbang, bukan sekadar memperbanyak porsi.
Baca juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat
Pola pemulihan dibagi menjadi fase transisi pada minggu pertama dan fase peningkatan energi pada minggu kedua. Sesuaikan tekstur, porsi, dan jenis makanan dengan usia serta kemampuan makan Si Kecil.
Pada hari pertama hingga ketiga, tingkatkan tekstur makanan secara bertahap, misalnya dari nasi tim menjadi nasi lembek dengan ayam suwir dan pisang matang. Pertahankan tiga kali makan utama dan dua camilan dalam porsi yang nyaman.
Pada hari keempat hingga ketujuh, menu dapat berangsur mendekati makanan keluarga yang seimbang. Jika feses masih lunak, hindari sementara daftar makanan yang perlu dihindari saat Si Kecil diare. Untuk referensi menu, GroMoms juga bisa membaca daftar makanan yang aman saat fase diare. Teruskan ASI untuk bayi.
Pada minggu kedua, tambahkan camilan padat energi di antara waktu makan. Targetkan tiga kali makan utama dan dua hingga tiga camilan, sehingga Si Kecil makan sekitar lima hingga enam kali sehari.
Pilih telur rebus, alpukat matang, pisang dengan selai kacang sesuai usia dan toleransi, atau yogurt tawar dengan buah matang. Usahakan sumber protein hewani seperti telur, ayam, ikan, atau daging hadir dalam setidaknya dua waktu makan utama.
| Fase | Target | Contoh menu | Frekuensi | Catatan |
| Hari 1–3 | Transisi tekstur | Nasi lembek, ayam suwir, pisang | 3 makan + 2 camilan | Naikkan tekstur bertahap |
| Hari 4–7 | Kembali ke menu biasa | Nasi, lauk, sayur matang | 3 makan + 2 camilan | Lanjutkan ASI |
| Minggu 2 | Menambah energi | Alpukat, telur, keju, yogurt tawar | 3 makan + 2–3 camilan | Sertakan protein hewani |
| Minggu 3 | Evaluasi pemulihan | Menu keluarga seimbang | Pola biasa | Konsultasi bila berat stagnan |
Makanan padat energi membantu menambah asupan tanpa mengharuskan Si Kecil makan dalam porsi besar.
Setelah Si Kecil dinyatakan pulih dan feses kembali normal, susu pendamping dapat menjadi pelengkap asupan bila diperlukan. Morigro, misalnya, menyediakan 180 kkal per sajian serta tinggi kalsium dan vitamin D. Susu bukan pengganti makanan utama, dan pemilihannya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan anak.
Baca juga: Makanan Penambah Nafsu Makan Anak: 15 Pilihan Makanan Bergizi
Timbang Si Kecil setiap satu hingga dua minggu menggunakan timbangan yang sama, idealnya pada waktu dan kondisi pakaian yang serupa. Catat hasilnya di buku KIA agar perubahan berat badan lebih mudah dibandingkan.
Targetnya adalah kembali mendekati berat sebelum sakit, bukan mengejar kenaikan drastis. Jika setelah sekitar tiga minggu berat badan belum pulih, justru terus turun, atau diare kembali terjadi, konsultasikan kepada dokter untuk mengevaluasi kemungkinan masalah asupan, penyerapan, atau penyakit lain.
GroMoms tidak perlu terburu-buru. Pemulihan setiap anak berbeda, sehingga konsistensi makan dan pemantauan lebih penting daripada memaksakan porsi.
Baca juga: Cara Memantau Pertumbuhan Anak di Rumah, dari Berat Badan, Lingkar Kepala, hingga IMT
Umumnya sekitar satu hingga dua minggu, bergantung pada kondisi Si Kecil dan berat badan yang hilang. Pantau tren berat badan secara berkala. Jika setelah tiga minggu belum pulih atau berat terus turun, konsultasikan kepada dokter.
Pilih menu seimbang yang padat energi, seperti nasi dengan telur atau ayam, ditambah sayuran matang dan camilan alpukat, keju, atau yogurt tawar dengan buah. Sesuaikan tekstur dan porsi dengan usia serta toleransi anak.
Target praktisnya lima hingga enam kali sehari, terdiri dari tiga kali makan utama dan dua hingga tiga camilan. Menambah camilan bergizi secara bertahap biasanya lebih nyaman daripada langsung memperbesar porsi makan utama.
Susu dapat melengkapi asupan jika sesuai kebutuhan anak. Namun, setelah diare, sebagian anak mungkin mengalami intoleransi laktosa sementara. Jika feses kembali cair setelah minum susu, diskusikan pilihan yang tepat dengan dokter.
Sebagian anak dapat pulih dalam satu hingga dua minggu, tetapi waktunya berbeda-beda. Jika berat badan belum membaik setelah sekitar tiga minggu, atau muncul tanda dehidrasi maupun diare berulang, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.