Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter karena Berat Badan Kurang?

dr. Theresia Sugiarto
Ditulis oleh: Morigro
Ditinjau oleh:
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter karena Berat Badan Kurang?

Bawa anak ke dokter bila berat badannya menunjukkan pola pertumbuhan yang mengkhawatirkan pada pengukuran berulang, terutama bila berat badan tampak menurun atau tidak mengikuti pola pertumbuhan sebelumnya. Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah anak terlihat semakin kurus, lebih mudah lelah, nafsu makan menurun dalam waktu lama, sering muntah atau diare, atau mengalami keluhan kesehatan lain yang dapat memengaruhi asupan dan pertumbuhan. Namun, anak yang bertubuh kecil belum tentu mengalami kekurangan gizi. Penilaian perlu melihat berat badan dan tinggi badan secara berkala pada kurva pertumbuhan, bukan hanya berdasarkan satu hasil timbang.

Apa Saja Tanda Anak Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Ada perbedaan antara anak yang secara alami bertubuh kecil dengan anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Anak yang tetap aktif, berkembang sesuai usia, dan mengikuti pola pertumbuhan secara konsisten belum tentu membutuhkan intervensi khusus.

Sebaliknya, orang tua perlu berkonsultasi bila berat badan anak mulai menyimpang dari pola pertumbuhannya atau terdapat gejala yang menyertai. AAFP menjelaskan bahwa weight faltering dikenali melalui pola kenaikan berat badan yang tidak memadai dari waktu ke waktu dan sebaiknya dikonfirmasi dengan pengukuran yang valid dan berulang.

Beberapa hal yang layak diperhatikan antara lain:

  • Berat badan tidak mengikuti pola pertumbuhan sebelumnya. Berat badan yang terus melambat atau turun pada beberapa kali pengukuran perlu dievaluasi, terutama bila disertai perubahan pada tinggi atau panjang badan.
  • Anak tampak semakin kurus. Tulang atau tulang rusuk yang terlihat lebih jelas, berkurangnya lemak tubuh, atau pakaian yang terasa semakin longgar dapat menjadi tanda bahwa komposisi tubuh anak berubah dan perlu diperhatikan bersama data pertumbuhan lainnya.
  • Energi anak menurun. Anak yang biasanya aktif tetapi kemudian tampak lebih lemas, cepat lelah, atau kurang responsif perlu diperiksa, terutama bila perubahan berlangsung terus-menerus.
  • Nafsu makan turun dalam waktu lama. Penurunan nafsu makan dapat membuat asupan energi tidak mencukupi. Dokter perlu mencari tahu apakah penyebabnya berkaitan dengan pola makan, kondisi medis, atau faktor lain.
  • Ada gejala medis lain. Muntah berulang, diare berkepanjangan, kesulitan menelan, atau keluhan lain yang membuat anak sulit makan atau mempertahankan makanan juga dapat memengaruhi berat badan dan membutuhkan evaluasi.

Tren Persentil Lebih Penting daripada Angka Sesaat

Melihat berat badan satu kali saja tidak cukup untuk menentukan apakah anak mengalami masalah pertumbuhan. AAFP menekankan bahwa pengukuran berat dan tinggi secara serial diperlukan untuk mengenali weight faltering.

Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa tren berat badan secara keseluruhan lebih penting daripada satu penurunan berat badan, karena anak, terutama toddler, dapat mengalami perubahan berat seiring pertumbuhan dan aktivitas. Dokter biasanya melihat hubungan berat badan dengan tinggi atau panjang badan serta perkembangan dari waktu ke waktu.

Karena itu, jangan langsung memberi label “kurus” atau “kurang gizi” hanya karena angka timbangan berada di bawah anak lain. WHO menyediakan berbagai kurva pertumbuhan yang dapat digunakan untuk memantau berat badan, tinggi atau panjang badan, dan indikator pertumbuhan lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah anak tetap mengikuti pola pertumbuhan atau justru terjadi perubahan yang nyata dari pola sebelumnya. Pada anak yang terus tumbuh sesuai jalurnya, ukuran tubuh yang lebih kecil dapat merupakan variasi individual.

Baca Juga: Mengenal Neophobia pada Balita: Fase Anak Susah Makan Akibat Takut Menu Baru

Proses Pemeriksaan di Dokter

Saat berkonsultasi, dokter biasanya tidak hanya melihat angka berat badan. Riwayat pertumbuhan, pola makan, kondisi kesehatan, serta hasil pemeriksaan fisik akan menjadi bagian dari evaluasi.

Dokter dapat menanyakan frekuensi makan, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, kebiasaan ngemil, minuman yang diminum, kesulitan makan, muntah atau diare, hingga riwayat penyakit sebelumnya.

Selanjutnya, berat dan tinggi atau panjang badan akan dibandingkan dengan kurva pertumbuhan yang sesuai. Pada anak tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan bila terdapat tanda yang mengarah pada kondisi medis tertentu. AAFP mencatat bahwa tidak ada satu paket pemeriksaan laboratorium yang wajib untuk semua anak dengan masalah berat badan. Pemeriksaan sebaiknya diarahkan pada dugaan penyebab berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat melibatkan ahli gizi anak atau dokter spesialis terkait untuk membantu menyusun kebutuhan nutrisi dan mencari penyebab yang lebih spesifik.

Red Flag Berat Badan Anak, Kapan Perlu ke Dokter?

TandaMasih Bisa Dipantau di RumahPerlu Diperiksakan Segera
Tren berat badanTetap mengikuti pola pertumbuhan sebelumnyaBerat badan turun atau pertumbuhannya melambat pada pengukuran berulang
Nafsu makanNaik turun dan anak tetap mendapat asupan yang cukupPenurunan nafsu makan berlangsung lama atau mengganggu asupan
EnergiAnak tetap aktif dan responsifAnak tampak lemas, kurang aktif, atau berbeda dari biasanya
Tampilan fisikProporsi tubuh tetap sesuai pola pertumbuhanTerlihat semakin kurus atau kehilangan lemak tubuh
Keluhan kesehatanTidak ada gejala yang menetapMuntah berulang, diare berkepanjangan, sulit menelan, atau keluhan lain yang mengganggu makan

Tabel ini bukan alat diagnosis. Kondisi anak perlu dinilai secara keseluruhan, termasuk pertumbuhan, asupan makanan, aktivitas, dan gejala yang menyertai.

Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Sambil Menunggu Jadwal ke Dokter

Orang tua dapat mulai membuat catatan makan dan gejala. Tulis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, waktu makan, kira-kira jumlah yang dimakan, serta keluhan yang muncul setelah makan.

Catat juga berat badan secara berkala, tetapi hindari menimbang anak terlalu sering hanya untuk mencari perubahan kecil. AAFP menyebut pemantauan berat dilakukan dalam interval yang sesuai untuk melihat perkembangan, bukan pemeriksaan berulang setiap hari.¹

Saat menunggu jadwal konsultasi, tetap tawarkan makanan bergizi dalam suasana yang tenang. Jangan memaksa anak menghabiskan makanan atau mengganti semua makanan dengan camilan tinggi gula hanya agar berat badan cepat bertambah.

Orang tua juga sebaiknya tidak langsung memberikan obat penambah nafsu makan, suplemen, atau mengganti pola makan secara drastis tanpa mengetahui penyebab berat badan sulit naik. Penanganan akan lebih tepat bila penyebabnya sudah dipahami.

FAQ

Apakah anak kurus tapi aktif tetap perlu diperiksakan?

Tidak selalu. Anak yang bertubuh kecil tetapi tetap aktif, berkembang sesuai usia, dan mengikuti pola pertumbuhan secara konsisten belum tentu mengalami masalah gizi. Namun, evaluasi tetap diperlukan bila berat badan mulai menyimpang dari pola pertumbuhan atau muncul gejala lain.

Berapa kali penurunan persentil baru dianggap tanda bahaya?

Tidak ada jumlah kunjungan yang otomatis menjadi diagnosis. Yang lebih penting adalah melihat pola perubahan secara serial dengan pengukuran yang valid. Penurunan yang konsisten atau perubahan nyata dari pola pertumbuhan sebelumnya layak dibahas dengan dokter.

Dokter apa yang tepat untuk konsultasi berat badan anak?

Dokter anak dapat menjadi tempat pertama untuk evaluasi. Bila diperlukan, dokter dapat melibatkan ahli gizi anak atau dokter spesialis lain berdasarkan penyebab yang dicurigai.

Apakah pemeriksaan berat badan kurang butuh tes laboratorium?

Tidak selalu. AAFP menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium rutin tidak diperlukan untuk semua kasus. Pemeriksaan tambahan biasanya dipilih berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik, dan dugaan penyebab tertentu.

Apa yang terjadi kalau tanda-tanda ini diabaikan terlalu lama?

Masalah pertumbuhan yang berlangsung lama dapat berkaitan dengan kekurangan nutrisi dan pada kondisi yang berat dapat berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak. IDAI juga menekankan bahwa malnutrisi pada masa bayi dan batita dapat memberikan dampak yang serius sehingga deteksi dan penanganan dini penting.

Baca Juga: Terapkan Aturan 30 Menit Sebagai Tips Anak Susah Makan yang Suka Mengemut

Referensi

  1. Homan, G. J. (2016). Failure to thrive: A practical guide. American Family Physician, 94(4), 295–299. https://www.aafp.org/afp/2016/0815/p295aafp
  2. Cleveland Clinic. (2024, July 1). Growth faltering (formerly known as failure to thrive). https://health.clevelandclinic.org/10-possible-reasons-why-your-child-is-not-growing
  3. World Health Organization. (n.d.). Child growth standards. https://www.who.int/tools/child-growth-standardswho
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015, July 6). Rekomendasi praktik pemberian makan berbasis bukti pada bayi dan batita di Indonesia untuk mencegah malnutrisi. https://www.idai.or.id/professional-resources/pedoman-konsensus/rekomendasi-praktik-pemberian-makan-berbasis-bukti-pada-bayi-dan-batita-di-indonesia-untuk-mencegah-malnutris
Morigro mendukung program ASI Eksklusif