Anak susah naik berat badan tidak selalu berarti ia sedang mengalami penyakit tertentu. Dalam istilah medis, kondisi ini dapat berkaitan dengan growth faltering atau weight faltering, yaitu pola pertambahan berat badan yang tidak sesuai harapan atau mengalami penurunan pada kurva pertumbuhan dari waktu ke waktu. Kondisinya perlu dilihat dari tren pertumbuhan, bukan hanya dari satu kali penimbangan.
Penyebabnya dapat berasal dari asupan kalori yang kurang, gangguan penyerapan nutrisi, kebutuhan energi yang meningkat akibat kondisi medis tertentu, maupun pola makan dan faktor lingkungan. Penanganannya dimulai dengan mencari penyebab, memastikan asupan bergizi dan cukup energi, lalu memantau pertumbuhan secara berkala menggunakan kurva pertumbuhan.
Berat badan anak tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama. Seiring bertambahnya usia, laju pertumbuhan memang cenderung melambat sehingga kebutuhan dan nafsu makan anak juga dapat berubah. Karena itu, anak yang terlihat lebih kecil dibanding teman seusianya belum tentu mengalami masalah pertumbuhan.
Yang lebih penting adalah melihat pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. WHO menyediakan standar pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin, termasuk indikator berat badan menurut umur (weight-for-age). Jika berat badan anak terus mengikuti pola pertumbuhannya secara stabil, kondisi tersebut dapat berbeda dengan anak yang berat badannya mengalami penurunan lintasan secara konsisten.
Dengan kata lain, “kurus” secara kasatmata tidak cukup untuk menentukan apakah anak mengalami masalah gizi. Penilaian perlu mempertimbangkan berat badan, tinggi atau panjang badan, usia, jenis kelamin, serta hasil pengukuran yang dilakukan berulang.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan. Penyebab paling umum dari growth faltering adalah asupan kalori yang tidak mencukupi kebutuhan pertumbuhan. Hal ini bisa terjadi ketika anak makan dalam jumlah sedikit, anak tidak mau makan, sangat memilih makanan, sering melewatkan waktu makan, atau terlalu banyak minum sehingga cepat kenyang. Pada sebagian anak, masalahnya bukan sekadar jumlah makanan, tetapi juga kepadatan gizinya, di mana porsi kecil dengan kandungan energi dan protein yang cukup justru dapat lebih membantu dibandingkan memaksa anak menghabiskan porsi besar.
Selain itu, anak bisa saja sudah makan cukup tetapi tubuhnya tidak menyerap nutrisi secara optimal akibat gangguan pada saluran cerna. Alergi makanan atau protein tertentu juga dapat berpengaruh pada pola makan dan asupan, terutama bila anak mengalami gejala berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Faktor lain yang juga berperan adalah kebutuhan energi yang meningkat akibat infeksi berulang, penyakit kronis, atau kondisi tertentu yang memengaruhi metabolisme. Di sisi lain, picky eating, Gerakan Tutup Mulut (GTM), suasana makan yang penuh tekanan, jadwal makan tidak teratur, atau kebiasaan makan sambil terdistraksi juga dapat membuat asupan harian anak tidak optimal.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sesuai Usia
Berat badan yang sulit bertambah dan berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Bila tidak ditangani, dampaknya dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dalam kondisi kekurangan nutrisi yang berkelanjutan, anak dapat mengalami penurunan energi, lebih mudah sakit, nafsu makan menurun, dan pada kondisi tertentu mengalami gangguan perkembangan. Bila masalah pertumbuhan berlanjut, kekurangan gizi juga dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan linear atau stunting. WHO mencatat bahwa stunting yang berkaitan dengan kekurangan gizi jangka panjang dapat berdampak pada perkembangan dan kemampuan belajar anak.
Konteks ini penting di Indonesia. Berdasarkan hasil SKI 2023, prevalensi balita underweight secara nasional tercatat sebesar 15,9 persen, sedangkan prevalensi wasting meningkat dari 7,7 persen pada 2022 menjadi 8,5 persen pada 2023.
IDAI juga menekankan besarnya dampak malnutrisi pada anak. Dalam rekomendasinya, IDAI menyebut sekitar 45 persen kematian balita berkaitan dengan malnutrisi, sehingga masalah asupan dan pertumbuhan tidak sebaiknya diabaikan.
Tidak tepat menentukan berat badan anak hanya dengan melihat apakah tubuhnya tampak kurus atau gemuk.
Dokter biasanya menilai pertumbuhan menggunakan kurva sesuai usia dan jenis kelamin. WHO menyediakan standar berat badan menurut umur, berat badan menurut panjang atau tinggi badan, serta indikator pertumbuhan lainnya.
Untuk berat badan anak 1 tahun dan anak di bawah 5 tahun, salah satu indikator status gizi yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). WHO mendefinisikan underweight sebagai berat badan menurut umur di bawah -2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan WHO.
Karena itu, anak yang bertubuh kecil tetapi tetap mengikuti pola pertumbuhan secara konsisten belum tentu mengalami underweight. Sebaliknya, anak dengan berat badan yang tiba-tiba turun dari pola pertumbuhannya perlu dievaluasi meskipun angka berat badannya belum terlihat sangat rendah.
Untuk melihat gambaran berdasarkan usia, pembaca juga dapat melihat tabel berat badan dan tinggi badan ideal menurut WHO pada artikel pendukung yang membahas pertumbuhan anak berdasarkan kelompok usia.
Baca Juga: Mengenal Neophobia pada Balita: Fase Anak Susah Makan Akibat Takut Menu Baru
| Indikator | Kondisi Umumnya Normal | Perlu Dievaluasi Lebih Lanjut |
| Tren berat badan | Mengikuti pola kurva pertumbuhan secara relatif stabil | Terlihat menurun atau melambat secara konsisten pada pengukuran berulang |
| Nafsu makan | Naik turun dan anak masih mau makan dalam pola yang cukup | Penurunan nafsu makan berlangsung lama dan mulai mengganggu asupan |
| Energi dan aktivitas | Aktif dan responsif seperti biasa | Lebih lesu atau tampak jauh kurang aktif dari biasanya |
| Tampilan fisik | Proporsi tubuh sesuai pola pertumbuhan anak | Terlihat semakin kurus atau berat badan menurun |
| Riwayat kesehatan | Tidak ada keluhan medis yang menetap | Sering sakit atau terdapat kondisi medis yang dapat memengaruhi asupan, penyerapan, atau kebutuhan energi |
Penilaian sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan satu indikator saja. Dokter dapat melihat kombinasi hasil pengukuran, riwayat makan, kondisi kesehatan, serta perkembangan anak.
Menambah berat badan anak bukan berarti membuat anak makan sebanyak-banyaknya. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas dan kecukupan asupan sambil memastikan penyebab berat badan sulit naik tidak terlewat.
Baca Juga: Makanan Penambah Nafsu Makan Anak: 15 Pilihan Makanan Bergizi
Konsultasi dengan dokter anak diperlukan bila berat badan anak menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan pada pengukuran berulang, terutama bila disertai gejala lain seperti anak tampak lemas, muntah berulang, diare berkepanjangan, anak tidak mau makan dalam waktu lama, atau mengalami keluhan medis lainnya.
Pemeriksaan juga penting bila orang tua merasa anak semakin kurus atau pertumbuhannya tidak lagi mengikuti pola sebelumnya. Dokter dapat menilai kurva pertumbuhan dan mencari kemungkinan penyebabnya sebelum menentukan strategi nutrisi atau pemeriksaan lanjutan.
Tidak ada satu batas waktu yang berlaku untuk semua anak. Yang lebih penting adalah melihat perubahan berat badan dari waktu ke waktu, bukan hanya satu kali penimbangan. Penilaian growth faltering membutuhkan pengukuran yang valid dan berulang untuk melihat pola pertumbuhan.
Tidak. Tubuh anak memiliki variasi bentuk dan ukuran. Anak yang terlihat kecil belum tentu mengalami underweight selama pertumbuhannya berjalan sesuai pola. Status gizi perlu dinilai menggunakan ukuran antropometri dan kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.
Susu dapat menjadi salah satu sumber energi dan zat gizi, tetapi sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. Pada anak yang sedang berusaha mengejar pertumbuhan, penyebab berat badan sulit naik tetap perlu diketahui dan kebutuhan gizinya disesuaikan dengan kondisi anak.
Tidak. Anak dapat mengalami fase sulit makan tetapi tetap mendapatkan cukup nutrisi dan tumbuh sesuai kurva. Sebaliknya, masalah asupan perlu mendapat perhatian bila berlangsung lama atau mulai terlihat berdampak pada pertumbuhan.
“Kurus” merupakan istilah umum yang menggambarkan penampilan tubuh, sedangkan underweight adalah klasifikasi status gizi berdasarkan pengukuran antropometri. Pada anak di bawah 5 tahun, WHO menggunakan indikator berat badan menurut umur; underweight didefinisikan sebagai BB/U di bawah -2 SD dari median standar pertumbuhan WHO.