Berat Badan Anak Sulit Naik: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditulis oleh: Morigro
Penyebab berat badan anak sulit naik

Anak susah naik berat badan tidak selalu berarti ia sedang mengalami penyakit tertentu. Dalam istilah medis, kondisi ini dapat berkaitan dengan growth faltering atau weight faltering, yaitu pola pertambahan berat badan yang tidak sesuai harapan atau mengalami penurunan pada kurva pertumbuhan dari waktu ke waktu. Kondisinya perlu dilihat dari tren pertumbuhan, bukan hanya dari satu kali penimbangan.

Penyebabnya dapat berasal dari asupan kalori yang kurang, gangguan penyerapan nutrisi, kebutuhan energi yang meningkat akibat kondisi medis tertentu, maupun pola makan dan faktor lingkungan. Penanganannya dimulai dengan mencari penyebab, memastikan asupan bergizi dan cukup energi, lalu memantau pertumbuhan secara berkala menggunakan kurva pertumbuhan.

Anak Susah Naik Berat Badan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Berat badan anak tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama. Seiring bertambahnya usia, laju pertumbuhan memang cenderung melambat sehingga kebutuhan dan nafsu makan anak juga dapat berubah. Karena itu, anak yang terlihat lebih kecil dibanding teman seusianya belum tentu mengalami masalah pertumbuhan.

Yang lebih penting adalah melihat pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. WHO menyediakan standar pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin, termasuk indikator berat badan menurut umur (weight-for-age). Jika berat badan anak terus mengikuti pola pertumbuhannya secara stabil, kondisi tersebut dapat berbeda dengan anak yang berat badannya mengalami penurunan lintasan secara konsisten.

Dengan kata lain, “kurus” secara kasatmata tidak cukup untuk menentukan apakah anak mengalami masalah gizi. Penilaian perlu mempertimbangkan berat badan, tinggi atau panjang badan, usia, jenis kelamin, serta hasil pengukuran yang dilakukan berulang.

Kenapa Anak Bisa Susah Naik Berat Badan?

Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan. Penyebab paling umum dari growth faltering adalah asupan kalori yang tidak mencukupi kebutuhan pertumbuhan. Hal ini bisa terjadi ketika anak makan dalam jumlah sedikit, anak tidak mau makan, sangat memilih makanan, sering melewatkan waktu makan, atau terlalu banyak minum sehingga cepat kenyang. Pada sebagian anak, masalahnya bukan sekadar jumlah makanan, tetapi juga kepadatan gizinya, di mana porsi kecil dengan kandungan energi dan protein yang cukup justru dapat lebih membantu dibandingkan memaksa anak menghabiskan porsi besar.

Selain itu, anak bisa saja sudah makan cukup tetapi tubuhnya tidak menyerap nutrisi secara optimal akibat gangguan pada saluran cerna. Alergi makanan atau protein tertentu juga dapat berpengaruh pada pola makan dan asupan, terutama bila anak mengalami gejala berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Faktor lain yang juga berperan adalah kebutuhan energi yang meningkat akibat infeksi berulang, penyakit kronis, atau kondisi tertentu yang memengaruhi metabolisme. Di sisi lain, picky eating, Gerakan Tutup Mulut (GTM), suasana makan yang penuh tekanan, jadwal makan tidak teratur, atau kebiasaan makan sambil terdistraksi juga dapat membuat asupan harian anak tidak optimal.

Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sesuai Usia

Risiko Anak Susah Naik Berat Badan Kalau Dibiarkan

Berat badan yang sulit bertambah dan berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi. Bila tidak ditangani, dampaknya dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dalam kondisi kekurangan nutrisi yang berkelanjutan, anak dapat mengalami penurunan energi, lebih mudah sakit, nafsu makan menurun, dan pada kondisi tertentu mengalami gangguan perkembangan. Bila masalah pertumbuhan berlanjut, kekurangan gizi juga dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan linear atau stunting. WHO mencatat bahwa stunting yang berkaitan dengan kekurangan gizi jangka panjang dapat berdampak pada perkembangan dan kemampuan belajar anak.

Konteks ini penting di Indonesia. Berdasarkan hasil SKI 2023, prevalensi balita underweight secara nasional tercatat sebesar 15,9 persen, sedangkan prevalensi wasting meningkat dari 7,7 persen pada 2022 menjadi 8,5 persen pada 2023.

IDAI juga menekankan besarnya dampak malnutrisi pada anak. Dalam rekomendasinya, IDAI menyebut sekitar 45 persen kematian balita berkaitan dengan malnutrisi, sehingga masalah asupan dan pertumbuhan tidak sebaiknya diabaikan.

Cara Mengetahui Berat Badan Anak Sudah Ideal atau Belum

Tidak tepat menentukan berat badan anak hanya dengan melihat apakah tubuhnya tampak kurus atau gemuk.

Dokter biasanya menilai pertumbuhan menggunakan kurva sesuai usia dan jenis kelamin. WHO menyediakan standar berat badan menurut umur, berat badan menurut panjang atau tinggi badan, serta indikator pertumbuhan lainnya.

Untuk berat badan anak 1 tahun dan anak di bawah 5 tahun, salah satu indikator status gizi yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). WHO mendefinisikan underweight sebagai berat badan menurut umur di bawah -2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan WHO.

Karena itu, anak yang bertubuh kecil tetapi tetap mengikuti pola pertumbuhan secara konsisten belum tentu mengalami underweight. Sebaliknya, anak dengan berat badan yang tiba-tiba turun dari pola pertumbuhannya perlu dievaluasi meskipun angka berat badannya belum terlihat sangat rendah.

Untuk melihat gambaran berdasarkan usia, pembaca juga dapat melihat tabel berat badan dan tinggi badan ideal menurut WHO pada artikel pendukung yang membahas pertumbuhan anak berdasarkan kelompok usia.

Baca Juga: Mengenal Neophobia pada Balita: Fase Anak Susah Makan Akibat Takut Menu Baru

Ringkasan Cepat, Kapan Berat Badan Anak Perlu Dievaluasi

IndikatorKondisi Umumnya NormalPerlu Dievaluasi Lebih Lanjut
Tren berat badanMengikuti pola kurva pertumbuhan secara relatif stabilTerlihat menurun atau melambat secara konsisten pada pengukuran berulang
Nafsu makanNaik turun dan anak masih mau makan dalam pola yang cukupPenurunan nafsu makan berlangsung lama dan mulai mengganggu asupan
Energi dan aktivitasAktif dan responsif seperti biasaLebih lesu atau tampak jauh kurang aktif dari biasanya
Tampilan fisikProporsi tubuh sesuai pola pertumbuhan anakTerlihat semakin kurus atau berat badan menurun
Riwayat kesehatanTidak ada keluhan medis yang menetapSering sakit atau terdapat kondisi medis yang dapat memengaruhi asupan, penyerapan, atau kebutuhan energi

Penilaian sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan satu indikator saja. Dokter dapat melihat kombinasi hasil pengukuran, riwayat makan, kondisi kesehatan, serta perkembangan anak.

Strategi Penambah Berat Badan Anak yang Aman dan Seimbang

Menambah berat badan anak bukan berarti membuat anak makan sebanyak-banyaknya. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas dan kecukupan asupan sambil memastikan penyebab berat badan sulit naik tidak terlewat.

  1. Berikan makanan utama dengan sumber karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah yang sesuai kebutuhan anak. Pilih makanan dengan kepadatan energi dan zat gizi yang baik.
  2. Manfaatkan camilan bergizi. Camilan dapat membantu menambah asupan energi di antara waktu makan, terutama pada anak yang sulit menghabiskan porsi besar.
  3. Buat jadwal makan yang konsisten. Anak perlu memiliki kesempatan makan pada waktu yang teratur agar pola makannya lebih mudah dipantau.
  4. Hindari menjadikan makanan sebagai sumber tekanan. Memaksa, mengancam, atau terus-menerus mengejar anak agar menghabiskan makanan dapat membuat waktu makan semakin sulit.
  5. Bila anak membutuhkan tambahan nutrisi, susu dapat digunakan sebagai pelengkap dalam pola makan seimbang. Banyak orang tua juga melengkapi kebutuhan gizi anak lewat susu, seperti Morigro dengan Formula GROMAX yang mengandung Minyak Ikan (Omega-3) untuk membantu nafsu makan, Probiotik BB536 & Prebiotik FOS untuk pencernaan, serta protein, kalsium, dan vitamin D dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi anak.

Baca Juga: Makanan Penambah Nafsu Makan Anak: 15 Pilihan Makanan Bergizi

Tanda Anak Perlu Dibawa ke Dokter

Konsultasi dengan dokter anak diperlukan bila berat badan anak menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan pada pengukuran berulang, terutama bila disertai gejala lain seperti anak tampak lemas, muntah berulang, diare berkepanjangan, anak tidak mau makan dalam waktu lama, atau mengalami keluhan medis lainnya.

Pemeriksaan juga penting bila orang tua merasa anak semakin kurus atau pertumbuhannya tidak lagi mengikuti pola sebelumnya. Dokter dapat menilai kurva pertumbuhan dan mencari kemungkinan penyebabnya sebelum menentukan strategi nutrisi atau pemeriksaan lanjutan.

FAQ

Berapa lama waktu wajar sebelum berat badan anak dianggap bermasalah?

Tidak ada satu batas waktu yang berlaku untuk semua anak. Yang lebih penting adalah melihat perubahan berat badan dari waktu ke waktu, bukan hanya satu kali penimbangan. Penilaian growth faltering membutuhkan pengukuran yang valid dan berulang untuk melihat pola pertumbuhan.

Apakah anak yang kurus pasti kekurangan gizi?

Tidak. Tubuh anak memiliki variasi bentuk dan ukuran. Anak yang terlihat kecil belum tentu mengalami underweight selama pertumbuhannya berjalan sesuai pola. Status gizi perlu dinilai menggunakan ukuran antropometri dan kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.

Apakah susu bisa membantu menambah berat badan anak?

Susu dapat menjadi salah satu sumber energi dan zat gizi, tetapi sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. Pada anak yang sedang berusaha mengejar pertumbuhan, penyebab berat badan sulit naik tetap perlu diketahui dan kebutuhan gizinya disesuaikan dengan kondisi anak.

Apakah semua anak susah makan berarti susah naik berat badan?

Tidak. Anak dapat mengalami fase sulit makan tetapi tetap mendapatkan cukup nutrisi dan tumbuh sesuai kurva. Sebaliknya, masalah asupan perlu mendapat perhatian bila berlangsung lama atau mulai terlihat berdampak pada pertumbuhan.

Apa beda kurus dan underweight secara medis?

“Kurus” merupakan istilah umum yang menggambarkan penampilan tubuh, sedangkan underweight adalah klasifikasi status gizi berdasarkan pengukuran antropometri. Pada anak di bawah 5 tahun, WHO menggunakan indikator berat badan menurut umur; underweight didefinisikan sebagai BB/U di bawah -2 SD dari median standar pertumbuhan WHO.

Referensi

  1. Homan, G. J. (2016). Failure to thrive: A practical guide. American Family Physician, 94(4), 295–299. https://www.aafp.org/afp/2016/0815/p295
  2. World Health Organization. Weight-for-age. https://www.who.int/tools/child-growth-standards/standards/weight-for-age
  3. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil utama SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015, July 6). Rekomendasi praktik pemberian makan berbasis bukti pada bayi dan batita di Indonesia untuk mencegah malnutrisi. https://www.idai.or.id/professional-resources/pedoman-konsensus/rekomendasi-praktik-pemberian-makan-berbasis-bukti-pada-bayi-dan-batita-di-indonesia-untuk-mencegah-malnutrisi
  5. Cleveland Clinic. (2024, October 23). BMI for kids: Understanding your child’s body mass index. https://health.clevelandclinic.org/bmi-for-kids
Morigro mendukung program ASI Eksklusif