Tidak ada satu makanan yang secara langsung merangsang nafsu makan anak. Yang terbukti membantu adalah makanan padat gizi yang memperbaiki akar penyebabnya, terutama sumber zinc, protein hewani berkualitas, dan minyak ikan. Zinc berperan dalam fungsi indra pengecap dan regulasi rasa lapar sehingga kekurangannya dapat menurunkan selera makan. Kuncinya bukan menambah volume makanan, melainkan meningkatkan densitas gizi melalui porsi kecil yang kaya energi, disertai pola 3 makan utama + 2 selingan tanpa memaksa anak makan. Bila berat badan anak tidak naik selama dua bulan berturut-turut, konsultasikan dengan dokter anak.
Masalah asupan gizi pada balita masih menjadi tantangan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi underweight sebesar 15,9%, wasting 8,5%, dan stunting 21,5%. Selain itu, 96,7% penduduk usia ≥5 tahun masih kurang mengonsumsi sayur dan buah, menunjukkan bahwa kualitas makanan sama pentingnya dengan jumlah makanan. Oleh karena itu, ketika orang tua mencari makanan penambah nafsu makan atau makanan agar berat badan anak naik, fokus utamanya adalah memenuhi kebutuhan zat gizi yang mendukung pertumbuhan dan metabolisme.
Tidak ada makanan yang bekerja seperti obat perangsang nafsu makan. Pada anak sehat, rasa lapar dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi kesehatan, aktivitas, kualitas tidur, hingga kecukupan zat gizi. Karena itu, pendekatan yang dianjurkan bukan mencari satu makanan “ajaib”, melainkan memperbaiki kualitas makanan, jadwal makan, dan kebiasaan makan melalui responsive feeding.
Makanan padat gizi membantu anak susah makan melalui tiga cara. Pertama, memperbaiki kemungkinan kekurangan mikronutrien seperti zinc, zat besi, dan vitamin A. Kedua, meningkatkan densitas energi sehingga setiap suapan mengandung lebih banyak kalori dan zat gizi. Ketiga, membantu membentuk kembali siklus lapar dan kenyang melalui jadwal makan yang teratur.
Pendekatan ini lebih efektif dibandingkan memaksa anak menghabiskan makanan. Bila nafsu makan anak tiba-tiba menurun setelah sebelumnya baik, orang tua juga perlu mencari penyebabnya. Pembahasan lebih lengkap tersedia pada artikel Nafsu Makan Anak Tiba-Tiba Turun: 8 Penyebab & Cara Mengatasinya.
Zinc merupakan mineral yang paling sering dikaitkan dengan nafsu makan karena berperan pada fungsi indra pengecap, aktivitas enzim pencernaan, sistem imun, dan pertumbuhan sel. Kekurangan zinc dapat membuat makanan terasa kurang menarik sehingga anak makan lebih sedikit.
Telaah sistematis Chao dkk. (2018) menunjukkan bahwa kecukupan zinc berkaitan dengan perbaikan pertumbuhan linear anak, sedangkan penelitian Khademian dkk. (2014) menemukan bahwa suplementasi zinc pada anak prasekolah meningkatkan asupan energi dan memperbaiki perilaku makan.
Selain zinc, protein hewani menyediakan asam amino esensial untuk pertumbuhan, sedangkan minyak ikan membantu memenuhi kebutuhan energi pada anak yang porsi makannya masih kecil.
| Kelompok Usia | Energi (kkal) | Protein (g) | Lemak (g) | Zinc (mg) | Vitamin A (mcg RE) |
| 1–3 tahun | 1.350 | 20 | 45 | 3 | 400 |
| 4–6 tahun | 1.400 | 25 | 50 | 5 | 450 |
Sumber: Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Makanan berikut dikelompokkan berdasarkan zat gizi yang paling berperan pada nafsu makan dan pertumbuhan anak. Porsi anjuran mengacu pada AKG 2019 untuk usia 1–3 tahun.
Kebutuhan zinc anak usia 1–3 tahun adalah 3 mg per hari dan paling mudah dipenuhi dari pangan hewani karena penyerapannya lebih baik.
| Makanan Sumber | Porsi Anjuran per Sajian (1–3 tahun) | Usia Mulai Aman |
| Hati ayam | 20–30 g | ≥1 tahun |
| Daging sapi | 30–40 g | ≥9 bulan |
| Telur | 1 butir | ≥6 bulan |
| Kerang | 20–30 g | ≥1 tahun |
| Kacang merah/kacang hijau | 2–3 sdm | ≥8 bulan |
Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat Tanpa Memaksa
Kebutuhan protein anak usia 1–3 tahun adalah 20 gram per hari. Variasikan sumbernya agar anak tidak bosan sekaligus memperoleh zat gizi yang lebih beragam.
| Makanan Sumber | Porsi Anjuran per Sajian (1–3 tahun) | Usia Mulai Aman |
| Ayam | 30–40 g | ≥6 bulan |
| Ikan (kembung/salmon/tuna) | 30–40 g | ≥6 bulan |
| Udang | 20–30 g | ≥1 tahun |
| Daging kambing tanpa lemak | 25–30 g | ≥1 tahun |
| Yogurt tanpa gula | 100 ml | ≥8 bulan |
Kebutuhan energi anak usia 1–3 tahun adalah 1.350 kkal dengan lemak 45 gram per hari. Bahan-bahan ini cukup ditambahkan pada makanan yang sudah biasa dikonsumsi anak.
| Makanan Sumber | Porsi Anjuran per Sajian (1–3 tahun) | Usia Mulai Aman |
| Alpukat | ¼–½ buah | ≥6 bulan |
| Keju | 15–20 g | ≥8 bulan |
| Santan | 1–2 sdm | ≥1 tahun |
| Selai kacang tanpa gula | 1 sdm | ≥1 tahun |
Dosis omega-3 mengikuti anjuran pada kemasan produk atau rekomendasi dokter.
| Makanan Sumber | Porsi Anjuran per Sajian (1–3 tahun) | Usia Mulai Aman |
| Minyak ikan | Sesuai anjuran produk | Sesuai produk/dokter |
Pembahasan lengkap mengenai manfaat, dosis per usia, dan kaitan minyak ikan dengan nafsu makan dapat dibaca pada artikel Minyak Ikan untuk Anak: Manfaat, Dosis per Usia, dan Kaitannya dengan Nafsu Makan.
Catatan: Porsi di atas merupakan panduan umum per sajian, bukan total kebutuhan harian. Usia mulai berlaku untuk anak tanpa kondisi medis khusus, dan tekstur makanan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan makan masing-masing anak.
Cara Menyajikan agar Anak Mau Mencoba
Makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat optimal jika anak terus menolaknya. Karena itu, selain memilih bahan makanan yang tepat, orang tua juga perlu memperhatikan cara penyajiannya. Penelitian yang dirangkum dalam USDA Nutrition Evidence Systematic Review menunjukkan bahwa anak umumnya membutuhkan 8–10 kali paparan sebelum menerima makanan baru. Artinya, penolakan pada percobaan pertama bukan berarti anak tidak menyukai makanan tersebut.
Anak yang susah makan sering kali hanya mampu menghabiskan beberapa sendok makanan. Dalam kondisi ini, lebih efektif meningkatkan densitas energi daripada memperbesar porsi.
Misalnya, nasi tim dapat diperkaya telur, daging cincang, atau sedikit keju parut. Bubur dapat ditambahkan hati ayam atau ikan, sedangkan sup bisa diberi sedikit santan atau minyak sehat. Dengan cara ini, setiap suapan mengandung lebih banyak energi, protein, dan mikronutrien.
Untuk anak yang porsinya masih kecil, kebutuhan gizi harian juga dapat dibantu melalui selingan bergizi. Morigro dengan formula GROMAX dan Fish Oil dapat menjadi salah satu pilihan pelengkap nutrisi di antara jam makan utama. Susu tetap diberikan sebagai selingan, bukan pengganti makan utama.
Perkenalkan makanan baru bersama makanan yang sudah disukai anak agar proses adaptasi lebih mudah. Tekstur juga perlu dinaikkan bertahap sesuai kemampuan mengunyah.
Orang tua sebaiknya makan bersama anak dan memberikan contoh menikmati berbagai jenis makanan. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan membujuk atau memaksa anak menghabiskan makanannya.
Pola makan yang konsisten membantu membangun rasa lapar alami. Jadwal yang dianjurkan adalah tiga kali makan utama dan dua kali selingan dengan jarak sekitar 2–3 jam.
Di antara waktu makan, hindari memberikan susu, jus, camilan manis, atau makanan ringan lain yang dapat membuat anak kenyang sebelum waktunya. Durasi makan juga sebaiknya dibatasi sekitar 20–30 menit agar anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang tanpa tekanan.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan: GTM, Nafsu Makan Rendah, atau Masalah Medis? Ini Cara Membedakannya.
Selain memilih makanan yang tepat, orang tua juga perlu menghindari kebiasaan yang membuat anak cepat kenyang sebelum makan utama.
Yang paling sering adalah memberikan susu terlalu dekat dengan jam makan, diikuti kebiasaan mengonsumsi jus atau minuman manis, serta camilan tinggi gula dan garam. Makanan tersebut membuat anak kenyang tetapi tidak memberikan kualitas gizi yang optimal.
Menyajikan porsi yang terlalu besar juga dapat membuat balita merasa kewalahan. Sebaiknya mulai dengan porsi kecil yang bisa ditambah bila anak masih lapar. Hindari pula membujuk, mengejar anak sambil makan, atau menggunakan gadget sebagai distraksi karena kebiasaan tersebut dapat memperburuk hubungan anak dengan makanan.
Perbaikan pola makan membutuhkan waktu. Pada sebagian anak, penerimaan terhadap makanan baru mulai membaik dalam 2–4 minggu, sedangkan perubahan berat badan dinilai setiap bulan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) atau kurva pertumbuhan WHO.
Keberhasilan tidak diukur dari jumlah suapan setiap hari, tetapi dari tren pertumbuhan, meningkatnya variasi makanan yang diterima, berkurangnya konflik saat makan, dan anak yang tampak lebih aktif.
Segera konsultasikan dengan dokter apabila berat badan anak tidak naik selama dua bulan berturut-turut, pertumbuhan keluar dari kurva WHO atau Kartu Menuju Sehat (KMS), anak sering tersedak atau muntah saat makan, hanya mau mengonsumsi sangat sedikit jenis makanan, atau nafsu makan menurun disertai gejala penyakit lain seperti demam berkepanjangan atau diare kronis.
Bila setelah evaluasi dicurigai terdapat kekurangan vitamin atau mineral tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemberian suplemen sesuai kebutuhan. Pembahasan lebih lengkap tersedia pada artikel Vitamin untuk Nafsu Makan Anak: Mana yang Terbukti dan Kapan Benar-Benar Dibutuhkan.
Umumnya orang tua mencari asupan yang mengandung protein berkualitas, zinc, zat besi, vitamin A, vitamin C, vitamin D, dan minyak ikan. Selain itu, jadwal makan dan variasi menu juga perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap nafsu makan.
Pastikan kebutuhan energi, protein, minyak ikan, zinc, zat besi, dan vitamin A terpenuhi. Kenaikan berat badan yang sehat diperoleh melalui makanan padat gizi dan pola makan yang konsisten, bukan dari makanan tinggi gula atau tinggi lemak yang miskin nutrisi.
Tidak ada makanan yang bekerja secara instan. Perbaikan nafsu makan umumnya terjadi ketika kebutuhan zat gizi terpenuhi dan kebiasaan makan diperbaiki.
Pilih susu pertumbuhan yang mengandung protein berkualitas, zinc, zat besi, vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan diperkaya omega-3. Morigro dengan formula GROMAX dan Fish Oil merupakan salah satu contoh yang dapat diberikan sebagai selingan 150–200 ml, bukan pengganti makan utama.
Tidak dianjurkan. Gorengan memang tinggi kalori, tetapi rendah protein, vitamin, dan mineral. Pilih makanan padat gizi seperti telur, ikan, daging, alpukat, dan sumber minyak ikan lainnya.
Segera periksakan bila berat badan tidak naik selama dua bulan, pertumbuhan menyimpang dari kurva, anak sering tersedak, muntah saat makan, atau hanya mau mengonsumsi sangat sedikit jenis makanan.
Tidak ada makanan yang secara langsung merangsang nafsu makan anak. Pendekatan yang lebih efektif adalah memperbaiki kualitas makanan melalui sumber zinc, protein hewani, dan minyak ikan, serta menerapkan pola makan yang teratur. Menyusun menu dengan densitas gizi tinggi, membatasi camilan di luar jadwal, dan menerapkan responsive feeding membantu anak membangun kembali rasa lapar secara alami.
Keberhasilan dinilai dari pertumbuhan berat badan yang mengikuti kurva Kartu Menuju Sehat (KMS), semakin beragamnya makanan yang diterima anak, dan berkurangnya konflik saat makan. Bila pola makan sudah diperbaiki tetapi berat badan tetap tidak bertambah atau muncul tanda bahaya, segera konsultasikan dengan dokter anak.
1. Chao HC, et al. (2018). Zinc supplementation and growth in children: A systematic review and meta-analysis. Nutrition in Clinical Practice.
2. Khademian M, et al. (2014). Effects of zinc supplementation on appetite and nutritional behavior among preschool children: A randomized controlled trial. Pakistan Journal of Medical Sciences, 30(6), 1213–1217.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
5. World Health Organization. (2006). WHO Child Growth Standards: Length/height-for-age, weight-for-age, weight-for-length, weight-for-height and body mass index-for-age. Geneva: WHO.
6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). Sulit makan pada bayi dan anak. IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
7. USDA Nutrition Evidence Systematic Review. Evidence on repeated exposure and acceptance of new foods among children.