Nafsu makan anak yang tiba-tiba turun paling sering disebabkan oleh tiga hal yang sebenarnya normal, yaitu perlambatan pertumbuhan (growth plateau), infeksi ringan yang sedang berkembang, atau kebosanan terhadap menu yang diberikan setiap hari. Pada banyak kasus, kondisi ini hanya berlangsung beberapa hari hingga satu atau dua minggu dan akan membaik dengan sendirinya setelah penyebabnya teratasi. Karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik ketika anak tidak mau makan hanya menghabiskan beberapa suap makanan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengamati pola makan anak secara menyeluruh. Jangan memaksa anak makan, variasikan menu yang diberikan, hilangkan distraksi seperti televisi atau gawai saat makan, dan pantau berat badan selama dua minggu. Jika penurunan nafsu makan berlangsung lebih dari dua minggu, disertai berat badan turun, anak tampak lemas, atau muncul gejala penyakit lain seperti demam berkepanjangan, konsultasi ke dokter anak sangat dianjurkan.
Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah ketika anak yang biasanya makan dengan lahap tiba-tiba kehilangan selera makan. Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua penurunan nafsu makan merupakan tanda penyakit.
Menurut WHO Child Growth Standards, kenaikan berat badan bayi pada tahun pertama kehidupan dapat mencapai sekitar 6–7 kilogram. Setelah memasuki tahun kedua kehidupan, laju pertumbuhan melambat drastis menjadi sekitar 2–2,5 kilogram per tahun. Perlambatan pertumbuhan ini menyebabkan kebutuhan energi dan kalori ikut menurun. Akibatnya, nafsu makan anak juga sering tampak berkurang dibandingkan saat masih bayi.
Kondisi tersebut merupakan respons fisiologis yang normal. Banyak orang tua menganggap anak tiba-tiba susah makan, padahal kebutuhan energinya memang tidak sebesar sebelumnya.
Penelitian besar Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) yang melibatkan 5.710 anak (Emmett dkk., 2018) juga menemukan bahwa 56% anak usia 15 bulan digambarkan sebagai pemilih makanan (picky eater). Dari kelompok tersebut, 27% ibu mengaku sedikit khawatir dan hanya 5% yang sangat khawatir terhadap pola makan anaknya. Meski begitu, sebagian besar anak tetap tumbuh normal. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan nafsu makan dan perilaku makan merupakan bagian yang cukup umum dalam proses tumbuh kembang anak.
Yang perlu diperhatikan adalah membedakan penurunan nafsu makan yang masih normal dengan kondisi yang memerlukan evaluasi medis. Jika anak tetap aktif bermain, berat badan stabil, tidur nyenyak, dan tidak menunjukkan gejala lain, biasanya kondisi masih dapat dipantau terlebih dahulu di rumah.
Nafsu makan anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara umum, penyebabnya dapat dibagi menjadi faktor fisiologis normal, faktor medis, faktor psikologis, dan faktor lingkungan.
Growth plateau merupakan penyebab paling umum nafsu makan anak menurun, terutama pada usia 1–3 tahun. Setelah pertumbuhan pesat pada masa bayi, tubuh anak tidak lagi membutuhkan kalori sebanyak sebelumnya.
Ciri khas kondisi ini adalah anak tetap aktif, tidak tampak sakit, tetapi porsi makan berkurang dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Biasanya kondisi berlangsung cukup lama karena merupakan bagian dari proses pertumbuhan normal.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan ekspektasi orang tua. Jangan membandingkan porsi makan anak usia dua tahun dengan saat ia masih berusia delapan bulan.
Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat
Infeksi ringan seperti flu, batuk, radang tenggorokan, tumbuh gigi, atau infeksi telinga sering membuat nafsu makan anak turun secara mendadak.
Saat tubuh sedang melawan infeksi, berbagai zat peradangan diproduksi sehingga rasa lapar berkurang. Anak biasanya tampak kurang aktif, lebih banyak tidur, atau menunjukkan gejala penyakit lain.
Pada kondisi ini, fokus utama bukan memaksa anak makan, melainkan menjaga kecukupan cairan dan membantu proses pemulihan.
Anak juga dapat kehilangan minat makan karena bosan dengan menu yang terlalu monoton. Hal ini sering terjadi ketika makanan yang disajikan hampir sama setiap hari.
Selain itu, perubahan rutinitas seperti liburan, pindah rumah, mulai sekolah, atau perubahan jadwal tidur dapat memengaruhi pola makan anak untuk sementara waktu.
Biasanya kondisi membaik setelah orang tua memperkenalkan variasi menu baru dan rutinitas kembali stabil.
Meski sering dianggap hanya terjadi pada orang dewasa, anak juga dapat mengalami stres. Perubahan lingkungan sosial, konflik keluarga, kelahiran adik baru, atau adaptasi di sekolah dapat memengaruhi nafsu makan.
Beberapa anak menjadi lebih banyak makan saat stres, tetapi sebagian lainnya justru kehilangan selera makan.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan kondisi emosional anak, bukan hanya jumlah makanan yang dihabiskan.
Anak yang sering mengonsumsi camilan tinggi kalori, minuman manis, atau susu berlebihan biasanya tidak merasa lapar saat waktu makan utama tiba.
Masalah ini sangat umum terjadi karena orang tua sering menawarkan makanan kecil setiap kali anak menolak makan besar. Akibatnya, anak tetap kenyang sepanjang hari tetapi asupan nutrisinya tidak optimal.
Susu memang penting bagi tumbuh kembang anak, tetapi konsumsi berlebihan dapat menurunkan nafsu makan terhadap makanan utama.
Anak yang minum susu terlalu sering cenderung merasa kenyang lebih lama. Akibatnya, ketika waktu makan tiba, mereka hanya makan sedikit atau bahkan menolak sama sekali.
Sembelit merupakan penyebab yang sering tidak disadari orang tua. Anak yang sulit buang air besar biasanya merasa tidak nyaman, perut terasa penuh, dan akhirnya kehilangan selera makan.
Gangguan pencernaan lain seperti refluks, kembung, atau intoleransi makanan juga dapat menyebabkan penurunan nafsu makan secara mendadak.
Kekurangan zat besi atau zinc dapat memengaruhi nafsu makan anak. Namun penting untuk dipahami bahwa tidak semua anak yang susah makan mengalami kekurangan vitamin atau mineral tertentu.
Inilah salah satu mitos yang sering muncul di masyarakat. Banyak orang tua langsung membeli suplemen ketika nafsu makan anak turun, padahal penyebabnya bisa berasal dari faktor lain seperti infeksi ringan atau perubahan rutinitas.
| Penyebab | Ciri Khas | Durasi Tipikal | Cara Mengatasi | Kapan ke Dokter |
| Growth plateau | Aktif, BB stabil | Minggu–bulan | Sesuaikan porsi | Jika BB turun |
| Infeksi ringan | Demam, pilek, batuk | 3–7 hari | Fokus hidrasi | Demam >3 hari |
| Bosan menu | Menolak makanan tertentu | Beberapa hari | Variasi menu | Bila makin memburuk |
| Stres lingkungan | Murung, sensitif | Sesuai pemicu | Dukungan emosional | Jika menetap |
| Terlalu banyak camilan | Tidak lapar saat makan | Harian | Batasi snack | Bila pola menetap |
| Susu berlebihan | Cepat kenyang | Harian | Atur jadwal susu | Jika BB tidak naik |
| Konstipasi | BAB keras/jarang | Beberapa hari | Tambah serat dan cairan | Jika berat |
| Defisiensi nutrisi | Lemas, pucat | Minggu–bulan | Evaluasi dokter | Perlu pemeriksaan |
Cara mengatasi nafsu makan anak yang menurun harus disesuaikan dengan penyebabnya. Tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua kondisi.
Jika penyebabnya adalah growth plateau, orang tua perlu memahami bahwa penurunan nafsu makan merupakan bagian dari proses perkembangan normal. Fokuslah pada kualitas makanan, bukan jumlah yang dimakan dalam sekali waktu.
Jika anak sedang sakit, prioritaskan cairan dan makanan yang mudah diterima. Nafsu makan biasanya akan kembali setelah kondisi kesehatan membaik.
Pada anak yang bosan dengan makanan, variasi bentuk, warna, dan tekstur dapat membantu meningkatkan nafsu makan. Libatkan anak saat memilih atau menyiapkan makanan agar mereka merasa memiliki kontrol terhadap apa yang dimakan.
Bila penyebabnya berkaitan dengan stres atau perubahan lingkungan, dukungan emosional menjadi faktor yang lebih penting daripada strategi makan tertentu.
Selain itu, pastikan jadwal makan konsisten, hindari distraksi saat makan, dan jangan menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman.
Selama mencari penyebab dan menerapkan strategi di atas, orang tua juga perlu memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi. Susu pertumbuhan seperti Morigro yang memiliki formula GROMAX dan diperkaya minyak ikan (fish oil) dapat menjadi pilihan praktis untuk membantu menjaga kecukupan gizi selama periode nafsu makan sedang menurun. Namun, susu tetap berfungsi sebagai selingan dan bukan pengganti makan utama.
Sebagian besar kasus nafsu makan turun bersifat sementara dan akan membaik sendiri. Namun ada beberapa kondisi yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
Orang tua perlu waspada apabila nafsu makan turun lebih dari dua minggu tanpa perbaikan. Berat badan yang mulai turun atau tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan juga menjadi tanda penting yang tidak boleh diabaikan.
Selain itu, anak yang tampak sangat lemas, mengalami dehidrasi, muntah berulang, diare berkepanjangan, atau demam yang tidak kunjung membaik perlu segera diperiksa dokter.
Meskipun sebagian besar anak yang susah makan tidak mengalami masalah serius, sekitar 3–10% kasus dapat berkembang menjadi Pediatric Feeding Disorder yang memerlukan intervensi profesional. Karena itu, pemantauan pertumbuhan secara rutin tetap penting dilakukan.
Baca Juga: Rekomendasi Susu untuk Meningkatkan Berat Badan Si Kecil
Tidak. Growth plateau, perubahan rutinitas, atau kebosanan menu merupakan penyebab yang sangat umum dan sering kali tidak berkaitan dengan penyakit.
Secara umum, penurunan nafsu makan selama beberapa hari hingga dua minggu masih dapat dipantau di rumah selama anak tetap aktif dan berat badan tidak turun.
Pada growth plateau, anak tetap aktif dan tidak menunjukkan gejala lain. Pada kondisi sakit, biasanya terdapat gejala tambahan seperti demam, batuk, pilek, atau tubuh yang tampak lemas.
Boleh jika memang terdapat indikasi tertentu, tetapi tidak semua kasus memerlukan suplemen. Penyebab utama tetap perlu dicari terlebih dahulu.
Ya. Sebagian anak mengalami penurunan nafsu makan selama satu hingga dua hari setelah imunisasi sebagai respons sementara tubuh terhadap vaksin.
Segera konsultasi jika disertai berat badan turun, dehidrasi, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau berlangsung lebih dari dua minggu.
Susu pertumbuhan seperti Morigro dapat membantu menjaga asupan protein, zinc, vitamin A, C, dan E ketika anak sedang makan sangat sedikit. Berikan sekitar 150–200 ml sebagai selingan, bukan pengganti makan utama.