MPASI Anak 1 Tahun yang Susah Makan: Kenapa Terjadi & 7 Strategi Pemberian yang Tepat

Ditulis oleh: Morigro
Anak 1 Tahun yang Susah Makan

MPASI anak 1 tahun yang susah makan umumnya disebabkan oleh beberapa hal yang masih berkaitan dengan tumbuh kembang, mulai dari growth plateau atau kebutuhan kalori yang tidak lagi naik secepat masa bayi, fase otonomi ketika anak ingin mengontrol apa yang masuk ke mulutnya, transisi tekstur yang terlambat, hingga milestone motorik yang membuat anak terlalu aktif untuk duduk lama. Strategi yang tepat bukan memaksa anak makan lebih banyak, melainkan membangun jadwal 3+2 yang konsisten, menaikkan tekstur secara bertahap, mengenalkan finger food, melatih self-feeding, dan menghindari distraksi saat makan.

Pada usia 1 tahun, banyak orang tua mulai merasa bingung. Anak yang sebelumnya lahap makan bubur atau nasi tim tiba-tiba menolak suapan. Ia menutup mulut, melepeh makanan, hanya mau menu tertentu, atau lebih tertarik berjalan dan bermain daripada duduk di kursi makan.

Kondisi anak tidak mau makan sering membuat orang tua khawatir anak kekurangan gizi. Namun, tidak semua penurunan nafsu makan di usia 12 bulan berarti ada masalah medis. WHO menyebut periode MPASI 6–23 bulan sebagai masa penting bagi anak untuk belajar menerima makanan sehat, membangun pola makan jangka panjang, sekaligus tetap dipantau karena risiko gangguan pertumbuhan dan kekurangan zat gizi masih bisa terjadi.

Kenapa Anak 1 Tahun Tiba-Tiba Susah Makan?

Anak 1 tahun yang susah makan tidak selalu sedang sakit. Pada usia ini, tubuh, kemampuan motorik, dan perkembangan emosional anak sedang berubah cepat. Karena itu, cara orang tua membaca perilaku makan anak juga perlu berubah.

Ada anak yang sebenarnya lapar, tetapi tidak mau duduk lama. Ada yang bosan dengan tekstur terlalu halus. Ada pula yang mulai ingin makan sendiri, tetapi belum diberi kesempatan karena orang tua khawatir makanan berantakan.

Growth Plateau: Nafsu Makan Memang Turun di Usia Ini

Pada tahun pertama kehidupan, pertumbuhan bayi berlangsung sangat cepat. Berat badan naik pesat, kebutuhan energi tinggi, dan orang tua sering melihat anak makan dengan cukup lahap. Namun setelah melewati usia 12 bulan, laju pertumbuhan mulai melambat dibandingkan masa bayi.

Kondisi ini sering disebut sebagai physiological anorexia of toddlerhood, yaitu fase ketika nafsu makan toddler tampak menurun secara fisiologis karena pertumbuhan tidak lagi secepat sebelumnya. Secara sederhana, tubuh anak tidak selalu membutuhkan porsi sebesar yang dibayangkan orang tua.

WHO Child Growth Standards menunjukkan standar pertumbuhan anak berdasarkan data Multicentre Growth Reference Study, termasuk indikator berat badan menurut usia, panjang/tinggi badan, dan indikator pertumbuhan lainnya. Standar ini digunakan untuk memantau apakah anak tetap mengikuti kurva pertumbuhan yang sesuai, bukan hanya menilai dari habis atau tidaknya makanan dalam satu kali makan.

Karena itu, saat anak 1 tahun makan lebih sedikit dari sebelumnya, orang tua sebaiknya melihat pola lebih luas: apakah berat badan tetap naik sesuai kurva, anak tetap aktif, dan tidak ada gejala medis yang mengganggu.

Fase Otonomi: Anak Ingin Mengontrol Apa yang Masuk ke Mulutnya

Usia 1 tahun juga menjadi fase ketika anak mulai menyadari bahwa ia punya kendali atas tubuhnya. Salah satu bentuk paling terlihat adalah saat makan. Anak mulai ingin menentukan makanan mana yang dipegang, kapan ia membuka mulut, dan kapan ia berhenti.

Bagi orang tua, perilaku ini bisa terlihat seperti “melawan”. Padahal, anak sedang belajar mandiri. Jika semua keputusan makan diambil alih orang tua, anak bisa semakin menolak karena merasa kehilangan kendali.

Di sinilah pendekatan pemberian makan perlu bergeser. Orang tua tetap menentukan jadwal, menu, dan suasana makan. Namun, anak diberi ruang untuk belajar mengenali lapar, kenyang, dan memilih dari makanan yang sudah disediakan.

Transisi Tekstur yang Terlewat

Salah satu penyebab MPASI anak 1 tahun susah makan yang sering tidak disadari adalah tekstur yang tidak berkembang. Anak yang terlalu lama diberi bubur halus bisa merasa bosan atau kesulitan menerima tekstur yang lebih kompleks.

Pada usia 12 bulan, banyak anak sudah mulai bisa mengunyah makanan keluarga yang dimodifikasi, seperti nasi lembek, lauk cincang, sayur lunak, atau finger food yang aman. Jika tekstur tetap terlalu halus, anak bisa kehilangan kesempatan melatih kemampuan oral motor. Sebaliknya, jika tekstur dinaikkan terlalu drastis, anak bisa kaget dan menolak.

Kuncinya adalah bertahap: dari nasi tim, naik ke cincang kasar, lalu ke makanan lunak yang bisa digenggam. Proses ini perlu dilakukan pelan-pelan, bukan menunggu anak benar-benar “siap” tanpa pernah dilatih.

Selain tiga hal tersebut, milestone motorik juga berpengaruh. Anak 1 tahun biasanya sedang aktif belajar berdiri, berjalan, memanjat, atau mengeksplorasi ruangan. Duduk diam untuk makan bisa terasa membosankan. Karena itu, waktu makan perlu dibuat singkat, terstruktur, dan bebas distraksi.

Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat

Normal atau Tidak? Ciri Anak Susah Makan yang Masih Wajar

Tidak semua anak susah makan perlu langsung dianggap berbahaya. Ada kondisi yang masih bisa dipantau di rumah, tetapi ada juga tanda yang perlu segera dikonsultasikan.

Penelitian Wright dkk. dalam Pediatrics (2007) menemukan bahwa 89 dari 455 orang tua (sekitar 20%) menganggap makan sebagai masalah pada anak usia toddler, tetapi sebagian besar kasus tidak berkaitan dengan gangguan pertumbuhan serius. Sementara itu, studi Cano dkk. menemukan prevalensi picky eating sebesar 26,5 persen pada usia 18 bulan, dan hampir dua pertiga anak yang picky eater pada usia dini mengalami remisi dalam tiga tahun berikutnya.

Agar lebih jelas, berikut tabel pembeda antara kondisi yang masih dapat dipantau dan kondisi yang perlu diperiksakan.

IndikatorMasih NormalPerlu Konsultasi Dokter
Berat badanMasih naik mengikuti kurva pertumbuhan, meski tidak banyakBerat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut atau turun
Energi dan aktivitasAnak tetap aktif bermain, responsif, dan ceriaAnak tampak lemas, mudah mengantuk, atau tidak seaktif biasanya
Durasi susah makanBerlangsung beberapa hari atau naik-turun sesuai faseBerlangsung lama, semakin berat, dan mengganggu asupan harian
Variasi makananMasih mau beberapa jenis makanan dari kelompok berbedaHanya mau 1–2 jenis makanan dalam waktu lama
Tanda medisTidak ada muntah, diare kronis, demam, atau sulit menelanAda muntah berulang, diare berkepanjangan, tersedak, nyeri, atau demam
MilestoneAnak tetap berkembang sesuai usia, belajar berdiri/berjalan/berbicaraMilestone tampak terlambat atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah bisa

Jika anak masih aktif, tetap tumbuh, dan susah makan hanya terjadi naik-turun, orang tua bisa mencoba strategi pemberian makan terlebih dahulu. Namun, bila berat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut atau muncul tanda bahaya, segera konsultasikan ke dokter anak.

7 Strategi Pemberian MPASI untuk Anak 1 Tahun yang Susah Makan

Menghadapi MPASI anak 1 tahun yang susah makan perlu strategi berbasis perkembangan, bukan sekadar mengganti menu setiap hari. Menu memang penting, tetapi cara pemberian makan sering kali lebih menentukan.

1. Konsisten dengan Jadwal, Bukan Kejar Volume

Pada usia 1 tahun, pola makan yang bisa diterapkan adalah 3 kali makan utama dan 2 kali selingan bergizi. Fokusnya bukan mengejar porsi besar dalam satu waktu, tetapi membangun ritme makan yang dapat diprediksi anak.

Jika anak menolak makan, hindari langsung mengganti dengan camilan manis atau susu terlalu dekat dengan jam makan. Hal ini bisa membuat anak semakin kenyang saat waktu makan utama tiba.

Cukup tawarkan makanan dalam waktu makan yang wajar, misalnya 20–30 menit. Setelah itu, akhiri dengan tenang dan lanjutkan jadwal berikutnya. Konsistensi membantu anak memahami bahwa makan punya waktu dan tempat.

2. Naik Tekstur: Kapan & Bagaimana

Jika anak masih sering diberi bubur halus di usia 1 tahun, mulai naikkan tekstur secara bertahap. Jangan langsung dari bubur halus ke nasi biasa kering. Gunakan tahapan yang lebih ramah anak.

Mulailah dari nasi tim yang lebih padat, lalu cincang kasar lauk dan sayur, kemudian kenalkan makanan lunak yang bisa digenggam. Contohnya perkedel lembut, potongan kentang kukus, telur dadar lembut, ayam cincang, tahu kukus, atau buah lunak.

Jika anak melepeh, belum tentu ia tidak suka. Bisa jadi ia sedang belajar mengatur makanan di mulut. Beri kesempatan berulang, tetapi tetap pastikan tekstur aman dan anak duduk tegak saat makan.

3. Self-Feeding: Biarkan Anak Eksplorasi Sendiri

Self-feeding atau makan sendiri membantu anak merasa punya kendali. Anak bisa memegang makanan, mencium aromanya, merasakan tekstur, lalu belajar memasukkan makanan ke mulut.

WHO dalam guideline MPASI 2023 menekankan bahwa masa 6–23 bulan adalah periode penting untuk anak belajar menerima makanan sehat dan membangun pola makan jangka panjang. Pendekatan responsive feeding juga mendorong anak makan secara lebih mandiri sesuai kemampuan perkembangannya.

Untuk memulai, gunakan kursi makan yang aman, alat makan anak, dan makanan yang mudah digenggam. Orang tua tetap mendampingi, tetapi tidak perlu terus mengambil alih. Berantakan adalah bagian dari proses belajar.

4. Hindari Distraksi Saat Makan

Memberi makan sambil menonton video sering terasa efektif karena anak membuka mulut tanpa sadar. Namun, dalam jangka panjang, anak tidak belajar mengenali makanan, rasa lapar, atau rasa kenyang.

Biasakan makan di tempat yang sama, tanpa layar, dan dengan suasana tenang. Jika anak ingin turun dari kursi, beri pengingat singkat. Bila tetap menolak, akhiri makan tanpa drama dan coba lagi di jadwal berikutnya.

5. Tawarkan Makanan Baru Berulang, Bukan Sekali Lalu Menyerah

Anak bisa menolak makanan baru berkali-kali sebelum akhirnya menerima. USDA Systematic Review menyebut paparan berulang terhadap buah atau sayur dapat meningkatkan nafsu makan anak serta penerimaan makanan setelah 8–10 kali paparan atau lebih, meski respons setiap anak bisa berbeda.

Jadi, ketika anak menolak brokoli hari ini, bukan berarti brokoli harus dicoret selamanya. Tawarkan lagi dalam bentuk berbeda: dicincang dalam telur, dibuat sup, disajikan kecil di samping nasi, atau dijadikan finger food lunak.

6. Beri Pilihan Terbatas

Karena anak 1 tahun sedang belajar otonomi, pilihan terbatas bisa membantu. Misalnya, “Mau telur atau tahu?” atau “Mau makan pisang dulu atau kentang dulu?”

Pilihan seperti ini memberi rasa kontrol tanpa membuat orang tua kehilangan struktur. Hindari bertanya terlalu luas seperti “Mau makan apa?”, karena anak belum siap mengambil keputusan sebesar itu.

7. Jaga Emosi Orang Tua Saat Makan

Anak bisa menangkap ekspresi cemas, kesal, atau tegang dari orang tua. Jika setiap makan menjadi arena konflik, anak akan mengaitkan makan dengan tekanan.

Cobalah menurunkan ekspektasi. Tidak semua waktu makan harus sempurna. Ada hari anak makan sedikit, ada hari lebih baik. Yang penting adalah pola jangka panjang, bukan satu piring yang tidak habis hari ini.

Rekomendasi Menu MPASI Anak yang Susah Makan

Berikut tiga ide menu yang bisa dicoba untuk anak 1 tahun yang sedang susah makan. Sesuaikan tekstur dengan kemampuan anak dan pastikan bahan aman.

1. Nasi tim ayam wortel cincang
Gunakan nasi lembek, ayam cincang, wortel parut atau cincang halus, dan sedikit minyak sehat. Menu ini bisa menjadi transisi dari bubur ke tekstur yang lebih padat.

2. Bola tahu telur bayam
Campurkan tahu, telur, bayam cincang, dan sedikit nasi atau kentang tumbuk. Bentuk kecil-kecil lalu kukus atau panggang hingga matang. Menu ini cocok untuk latihan finger food.

3. Kentang kukus salmon atau ikan lokal lembut
Kentang kukus bisa dipotong kecil atau ditumbuk kasar. Tambahkan ikan matang yang disuwir halus. Teksturnya lembut tetapi tetap memberi kesempatan anak belajar mengunyah.

Dalam mengenalkan menu baru, hindari langsung memberi porsi besar. Sajikan sedikit dulu, berdampingan dengan makanan yang sudah dikenal anak.

Baca Juga: Rekomendasi Susu untuk Meningkatkan Berat Badan Si Kecil

Kesalahan Pemberian MPASI yang Justru Memperburuk Susah Makan

Kesalahan pertama adalah memaksa anak membuka mulut atau menghabiskan makanan. Paksaan bisa membuat anak semakin menolak karena waktu makan terasa tidak aman.

Kesalahan kedua adalah kembali terus-menerus ke bubur halus setiap anak menolak tekstur baru. Sesekali menurunkan tekstur boleh saja saat anak sakit, tetapi jika selalu mundur, anak tidak mendapat kesempatan belajar mengunyah.

Kesalahan ketiga adalah menyuapi dengan gadget. Cara ini mungkin membuat makanan masuk, tetapi anak tidak membangun keterampilan makan yang sehat.

Kesalahan keempat adalah terlalu cepat panik. Anak 1 tahun bisa makan sedikit hari ini dan lebih banyak besok. Selama pertumbuhan baik dan anak aktif, orang tua dapat fokus pada konsistensi strategi.

Kapan Anak Susah Makan Harus ke Dokter?

MPASI anak 1 tahun yang susah makan perlu dikonsultasikan ke dokter bila berat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut, berat badan turun, anak tampak lemas, muntah berulang, diare berkepanjangan, sering tersedak, sulit menelan, atau hanya mau makanan yang sangat terbatas.

Konsultasi juga diperlukan bila orang tua merasa cemas berlebihan atau tidak yakin apakah pola makan anak masih cukup. Dokter dapat membantu menilai kurva pertumbuhan, status gizi, dan kemungkinan penyebab medis.

Sambil menerapkan 7 strategi di atas, pastikan kebutuhan nutrisi dasar tetap terpenuhi. Susu pertumbuhan seperti Morigro dengan formula GROMAX dan kandungan minyak ikan dapat menjadi pelengkap harian untuk anak 1 tahun yang sedang berada dalam fase susah makan, agar gap gizi dapat dibantu selama proses adaptasi berlangsung. Namun, susu tetap sebaiknya diberikan sebagai pelengkap, bukan pengganti MPASI utama.

FAQ

Kenapa anak 1 tahun tiba-tiba tidak mau makan padahal sebelumnya lahap?

Penyebabnya bisa karena growth plateau, fase otonomi, transisi tekstur yang terlambat, atau anak sedang terlalu aktif mengeksplorasi kemampuan motoriknya. Selama anak tetap aktif dan tumbuh sesuai kurva, kondisi ini sering kali masih bisa dipantau.

Apakah growth plateau di usia 1 tahun berbahaya?

Tidak selalu. Growth plateau adalah fase ketika laju pertumbuhan tidak lagi secepat masa bayi, sehingga nafsu makan tampak menurun. Yang perlu dipantau adalah kurva berat badan, tinggi badan, energi anak, dan tanda medis lain.

Kapan harus mulai self-feeding dan bagaimana caranya?

Self-feeding bisa mulai dikenalkan ketika anak sudah mampu duduk tegak, tertarik memegang makanan, dan menunjukkan kesiapan motorik. Gunakan kursi makan, alat makan anak, dan finger food yang aman. Dampingi anak tanpa memaksa.

Bagaimana tekstur MPASI yang tepat untuk anak 12 bulan ke atas?

Anak 12 bulan umumnya mulai diarahkan ke makanan keluarga yang dimodifikasi. Teksturnya bisa berupa nasi lembek, cincang kasar, lauk lunak, sayur matang, dan finger food yang aman. Naikkan tekstur bertahap dari nasi tim ke cincang kasar lalu makanan lunak yang bisa digenggam.

BB anak 1 tahun tidak naik 1 bulan, haruskah langsung ke dokter?

Jika berat badan tidak naik selama 1 bulan tetapi anak tetap aktif dan tidak ada gejala medis, orang tua bisa memperbaiki jadwal dan cara makan terlebih dahulu sambil memantau. Namun, bila berat badan tidak naik 2 bulan berturut-turut, sebaiknya konsultasi dokter.

Bagaimana cara membedakan MPASI susah makan normal vs masalah medis?

Susah makan yang masih normal biasanya anak tetap aktif, berat badan mengikuti kurva, dan masih mau beberapa jenis makanan. Perlu dicurigai masalah medis bila anak lemas, berat badan turun, muntah berulang, diare lama, sulit menelan, sering tersedak, atau sangat membatasi makanan.

Susu apa yang baik untuk anak 1 tahun yang susah makan MPASI?

Susu pertumbuhan yang mengandung minyak ikan dan protein berkualitas seperti Morigro dapat menjadi pelengkap nutrisi untuk anak 1 tahun yang sedang susah makan MPASI. Berikan sebagai selingan sesuai kebutuhan, bukan sebagai pengganti MPASI utama.


Referensi

  • Cardona Cano, S., Tiemeier, H., Van Hoeken, D., Tharner, A., Jaddoe, V. W. V., Hofman, A., Verhulst, F. C., & Hoek, H. W. (2015). Trajectories of picky eating during childhood: A general population study. International Journal of Eating Disorders, 48(6), 570–579.
  • Spill, M. K., et al. (2019). Repeated Exposure to Foods and Early Food Acceptance: A Systematic Review. USDA Nutrition Evidence Systematic Review.
  • World Health Organization. (2006). WHO Child Growth Standards. WHO.
  • World Health Organization. (2023). WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. WHO.
  • Wright, C. M., Parkinson, K. N., Shipton, D., & Drewett, R. F. (2007). How do toddler eating problems relate to their eating behavior, food preferences, and growth? Pediatrics.
Morigro mendukung program ASI Eksklusif