Saat tumbuh gigi atau teething, banyak anak mengalami penurunan nafsu makan sementara karena gusi membengkak dan terasa nyeri sehingga aktivitas mengunyah menjadi tidak nyaman. Kondisi ini sering membuat anak menolak makanan padat, tetapi masih mau mengonsumsi susu.
Studi prospektif Macknin et al. dalam jurnal Pediatrics (2000) menemukan bahwa penurunan minat terhadap makanan padat memang berkaitan dengan fase tumbuh gigi, sedangkan minat terhadap cairan umumnya tidak mengalami perubahan signifikan. Fase ini biasanya berlangsung singkat, sekitar 8 hari untuk setiap gigi yang muncul, yaitu 4 hari sebelum gigi erupsi hingga 3 hari setelahnya.
Agar anak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup, orang tua dapat menyiasati fase ini dengan memberikan makanan dingin, menyediakan finger food yang aman untuk digigit, membagi porsi menjadi lebih kecil, menjaga hidrasi, serta tidak memaksa anak makan.
Proses tumbuh gigi terjadi ketika gigi mulai bergerak melewati jaringan gusi sebelum muncul ke permukaan. Pergerakan ini menyebabkan tekanan pada jaringan sekitar gigi sehingga gusi dapat terasa bengkak, sensitif, dan nyeri.
Pada kondisi tersebut, aktivitas makan yang biasanya sederhana dapat terasa tidak nyaman bagi anak. Mengunyah makanan padat memberikan tekanan tambahan pada area gusi yang sedang meradang sehingga anak cenderung memilih makanan yang lebih mudah ditelan atau hanya ingin minum.
Beberapa tanda umum anak sedang mengalami fase teething antara lain:
Menurut penelitian Macknin et al. (2000), tumbuh gigi memang dapat berhubungan dengan perubahan perilaku makan, khususnya penurunan konsumsi makanan padat. Namun, efeknya biasanya ringan dan bersifat sementara.
Orang tua juga perlu memahami bahwa fase anak susah makan saat tumbuh gigi berbeda dengan kondisi ketika anak benar-benar kehilangan nafsu makan dalam waktu lama. Jika anak menolak hampir semua makanan dalam periode panjang, orang tua dapat membaca lebih lanjut mengenai penyebab anak tidak mau makan sama sekali untuk memahami faktor lain yang mungkin mempengaruhi pola makan.
Fase susah makan saat tumbuh gigi umumnya berlangsung singkat. Berdasarkan studi prospektif Macknin et al. terhadap 125 bayi sehat dengan 19.422 hari observasi dan 475 kejadian erupsi gigi, periode yang paling sering berkaitan dengan perubahan perilaku adalah sekitar 8 hari per gigi.
Rentang tersebut meliputi:
Setelah rasa nyeri berkurang, sebagian besar anak akan kembali memiliki pola makan seperti sebelumnya.
Penting diketahui bahwa tumbuh gigi bukan penyebab anak mengalami masalah kesehatan berat. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada satu gejala teething yang muncul pada lebih dari 35% bayi dan tidak ada gejala yang terjadi jauh lebih sering dibanding bayi yang tidak sedang tumbuh gigi.
Artinya, keluhan seperti sedikit rewel, banyak ngiler, atau nafsu makan padat menurun masih dapat dianggap normal. Namun, gejala berat perlu dicari penyebab lain.
Baca Juga: Agar Anak Mau Makan dan Gemuk Mencapai Berat Badan Ideal: 10 Strategi Aman & Sehat
Tidak semua anak yang susah makan berarti sedang tumbuh gigi. Beberapa penyakit juga dapat menyebabkan nafsu makan turun. Karena itu, penting membedakan tanda normal teething dengan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
| Indikator | Teething (Normal) | Kemungkinan Sakit (Perlu Cek) |
| Suhu tubuh | Naik ringan, biasanya di bawah 38°C | Demam tinggi lebih dari 38,5–39°C |
| Durasi susah makan | Singkat, sekitar beberapa hari hingga maksimal 8 hari per gigi | Menetap lebih dari 2 minggu |
| Nafsu terhadap cairan | Biasanya masih mau ASI atau susu | Menolak cairan dan berisiko dehidrasi |
| Gejala penyerta | Ngiler, suka menggigit, gusi bengkak, sedikit rewel | Diare berat, muntah, ruam luas, sangat lemas |
| Pola | Muncul dan hilang mengikuti proses erupsi gigi | Terjadi terus tanpa hubungan dengan tumbuh gigi |
| Aktivitas | Tetap aktif di luar waktu rewel | Lesu, tidak responsif, lebih banyak tidur |
Salah satu mitos yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa tumbuh gigi menyebabkan demam tinggi atau diare berat. Berdasarkan penelitian kohort, gejala seperti demam tinggi, muntah, dan diare bukan efek langsung teething sehingga perlu dicari kemungkinan penyebab lain seperti infeksi.
Ketika gusi terasa nyeri, sensasi dingin dapat membantu meredakan ketidaknyamanan. Orang tua bisa menawarkan yoghurt dingin, potongan buah dingin seperti melon atau pisang, atau timun dingin yang bisa digigit-gigit anak. Sensasi dingin dan tekanan lembut saat anak menggigit justru membantu menenangkan gusi yang bengkak.
Anak yang sedang tumbuh gigi biasanya memiliki dorongan untuk menggigit. Orang tua dapat memanfaatkan hal tersebut dengan memberikan finger food yang aman, seperti potongan buah, sayuran kukus, atau makanan bayi dengan tekstur sesuai usia.
Selain membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, aktivitas menggigit juga dapat memberikan stimulasi pada gusi. Pastikan ukuran makanan aman dan selalu awasi anak saat makan untuk mencegah tersedak.
Memaksa anak makan ketika gusi sedang sakit dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman negatif. Sebaiknya tawarkan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
Misalnya, daripada memberikan satu porsi besar sekaligus, orang tua dapat membaginya menjadi beberapa kesempatan makan kecil. Anak yang sedang teething mungkin hanya makan beberapa suap, dan hal tersebut masih normal selama asupan cairan serta kondisi tubuhnya tetap baik.
Teether dapat membantu memberikan tekanan ringan pada gusi yang terasa tidak nyaman. Pilih teether yang aman, bersih, dan sesuai usia anak.
Hindari memberikan benda keras atau benda kecil yang berisiko patah dan tertelan. Orang tua juga dapat mendinginkan teether di kulkas agar memberikan sensasi lebih nyaman, tetapi jangan membekukannya hingga terlalu keras.
Sebelum makan, orang tua dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman dengan memijat gusi secara perlahan menggunakan jari yang bersih atau kain lembut.
Tekanan ringan dapat membuat anak lebih nyaman sebelum mencoba makanan. Pastikan tangan sudah dicuci bersih sebelum menyentuh area mulut bayi.
Walaupun anak menolak makanan padat, kebutuhan cairan tetap harus diperhatikan. Pada fase ini, sebagian anak mungkin masih mau ASI atau susu karena teksturnya lebih mudah dikonsumsi dibanding makanan yang harus dikunyah.
Selama fase ketika anak hanya mau asupan cair sementara, susu pertumbuhan seperti Morigro Rasa Vanilla – 200g dengan kandungan GROMAX dan diperkaya minyak ikan dapat membantu melengkapi asupan gizi harian sebagai selingan, sambil menunggu nafsu makan terhadap makanan padat kembali normal.
Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan: GTM, Nafsu Makan Rendah, atau Masalah Medis? Ini Cara Membedakannya
Perlu diingat bahwa perubahan tekstur makanan selama teething hanya bersifat sementara. Setelah gusi tidak lagi terasa sakit, perlahan kembalikan anak ke tekstur makanan sesuai usia.
Hal ini penting agar anak tetap terbiasa dengan berbagai tekstur dan tidak mengalami kesulitan makan karena terlalu lama diberikan makanan lembut.
Jika anak juga sering menolak menu baru, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan neophobia pada balita, yaitu fase ketika anak takut mencoba makanan baru.
Susah makan karena tumbuh gigi biasanya membaik dalam beberapa hari. Namun, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter bila muncul tanda berikut:
Orang tua juga perlu mengevaluasi pola makan harian anak. Jika masalah makan terjadi di luar fase tumbuh gigi, faktor seperti jadwal makan, terlalu banyak susu, atau kebiasaan makan perlu diperhatikan. Pengaturan jadwal susu dan makan utama dapat membantu menjaga kebutuhan nutrisi anak tetap optimal.
Susah makan selama beberapa hari ketika tumbuh gigi masih termasuk normal, terutama jika anak tetap aktif, masih mau minum, dan tidak mengalami gejala lain. Namun, bila berlangsung lama atau disertai penurunan berat badan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Tidak. Tumbuh gigi dapat menyebabkan gusi bengkak, banyak ngiler, dan sedikit perubahan perilaku, tetapi demam tinggi, diare berat, dan muntah bukan gejala khas teething. Kondisi tersebut perlu dicari penyebab lainnya.
Umumnya berlangsung sekitar 8 hari untuk setiap gigi, yaitu beberapa hari sebelum gigi muncul hingga beberapa hari setelah erupsi. Setelah nyeri berkurang, nafsu makan biasanya kembali.
Ya, kondisi ini cukup umum. Studi Macknin et al. menunjukkan bahwa penurunan nafsu makan saat teething lebih banyak terjadi pada makanan padat, sementara konsumsi cairan biasanya tetap terjaga.
Tidak. Tekstur lembut hanya solusi sementara untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Setelah nyeri gusi berkurang, anak tetap perlu dikenalkan kembali dengan berbagai tekstur sesuai usianya.