Anak Tidak Mau Makan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sesuai Usia

Ditulis oleh: Morigro
Ilustrasi anak tidak mau makan

Anak tidak mau makan adalah kondisi ketika anak menolak makanan secara konsisten, paling sering disebabkan oleh tiga faktor: gangguan medis ringan, fase perkembangan normal (GTM usia 1–3 tahun), atau pola makan tidak konsisten. Solusi: jadwal 3x makan + 2 snack, variasi tekstur, libatkan anak memasak, tanpa distraksi gadget.

Kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi dan balita, tetapi tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi asupan nutrisi harian dan tumbuh kembang anak bila berlangsung terlalu lama.

Cara mengatasi anak tidak mau makan perlu disesuaikan dengan usia dan penyebabnya. Strategi yang paling efektif biasanya dimulai dari pengaturan jadwal makan yang konsisten, pemberian porsi kecil namun sering, variasi tekstur makanan, serta menciptakan suasana makan yang nyaman tanpa distraksi seperti gadget atau televisi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak idealnya memiliki jadwal makan berupa tiga kali makan utama dan satu hingga dua kali snack setiap hari. Bila anak menolak makan lebih dari dua minggu, berat badan turun, tampak lemas, atau menunjukkan tanda dehidrasi, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan.

Apa Itu Anak Tidak Mau Makan? (Definisi & Tanda)

Dalam dunia kesehatan anak, istilah “anak tidak mau makan” digunakan ketika anak menolak makan secara konsisten sehingga asupan hariannya jauh berkurang dibanding kebutuhan usianya. Kondisi ini berbeda dengan anak yang sesekali kehilangan selera makan karena sedang bosan atau kurang aktif.

Orang tua juga perlu membedakan antara anak tidak mau makan dan picky eater. Anak yang tidak mau makan cenderung menolak hampir semua jenis makanan, termasuk makanan favoritnya. Sementara picky eater masih mau makan, tetapi sangat memilih jenis makanan tertentu, misalnya hanya mau nasi putih, makanan manis, atau makanan bertekstur tertentu.

Tanda anak susah makan biasanya meliputi menutup mulut saat disuapi, memuntahkan makanan, makan sangat lama, menangis saat jam makan, atau hanya mau makan dalam jumlah sangat sedikit. Pada beberapa anak, kondisi juga disertai berat badan yang sulit naik, tubuh tampak lebih kurus, dan energi berkurang.

Fase ini sebenarnya cukup umum, terutama pada usia toddler. Banyak anak mengalami penurunan nafsu makan setelah usia satu tahun karena laju pertumbuhan mereka tidak secepat masa bayi. Namun, jika berlangsung terlalu lama atau menyebabkan gangguan pertumbuhan, kondisi perlu dievaluasi lebih lanjut.

Penyebab Anak Tidak Mau Makan: 8 Faktor Utama

Penyebab anak tidak mau makan sangat beragam dan sering kali melibatkan kombinasi faktor medis, psikologis, fisiologis, serta lingkungan. Memahami penyebabnya membantu orang tua menentukan pendekatan yang paling tepat.

UsiaPenyebab TerseringGejala KhasTindakan Pertama
6–12 blnAdaptasi MPASI, tumbuh gigiMenolak tekstur baru, rewelPerkenalkan bertahap, variasi rasa
1–3 thnGTM/fase otonomiTutup mulut, lempar makananJadwal konsisten, porsi kecil
3–5 thnPicky eater, pengaruh temanHanya mau makanan tertentuVariasi menu kreatif, libatkan anak
5+ thnKebiasaan buruk, screen timeSering ngemil/junk foodAtur pola makan keluarga

Penyebab Medis (Sariawan, Infeksi, Anemia)

Gangguan medis ringan merupakan salah satu penyebab paling sering membuat anak kehilangan selera makan. Sariawan, radang tenggorokan, flu, tumbuh gigi, atau infeksi telinga menyebabkan ketidaknyamanan saat makan. Demam juga sering menurunkan nafsu makan anak sementara. Anemia defisiensi besi dan kekurangan zinc juga diketahui berkaitan langsung dengan penurunan nafsu makan pada anak.

Ketika demam, tubuh akan melawan infeksi sehingga energi tubuh lebih difokuskan untuk proses pemulihan sehingga anak cenderung makan lebih sedikit.

Anemia defisiensi besi juga dapat memengaruhi nafsu makan anak. Anak dengan anemia biasanya tampak pucat, cepat lelah, kurang aktif, dan berat badannya sulit bertambah. Kekurangan zinc juga diketahui berkaitan dengan penurunan nafsu makan pada anak.

Gangguan pencernaan seperti sembelit, refluks asam lambung, atau intoleransi makanan juga dapat membuat anak merasa tidak nyaman saat makan. Pada kondisi tertentu, alergi makanan dapat menyebabkan anak takut makan karena mengaitkan makanan dengan rasa sakit atau mual.

Penyebab Psikologis (Stres, Pola Asuh, Suasana Makan)

Anak yang sering dipaksa makan justru semakin menolak karena menganggap waktu makan sebagai pengalaman tidak menyenangkan. Suasana makan penuh tekanan, distraksi gadget/TV, serta perubahan lingkungan seperti pindah rumah atau kelahiran adik baru dapat mempengaruhi nafsu makan anak secara psikologis.

Anak memang terlihat “lebih mudah disuapi”, tetapi sebenarnya tidak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami. Pada beberapa anak, stres emosional dapat muncul dalam bentuk penolakan makan.

Penyebab Fisiologis (Fase Perkembangan, GTM)

GTM (Gerakan Tutup Mulut) pada usia 1-3 tahun adalah fase fisiologis normal ketika anak mulai memiliki kontrol atas pilihannya. Laju pertumbuhan yang melambat setelah usia 1 tahun membuat kebutuhan kalori berkurang sehingga anak tampak “tidak lapar”. Banyak orang tua mencari solusi mpasi anak 1 tahun yang susah makan karena perubahan preferensi tekstur dan rasa yang terjadi di fase ini.

Fase ini terjadi karena anak mulai memiliki kontrol terhadap tubuh dan pilihannya sendiri. Mereka mulai belajar mengatakan “tidak”, termasuk saat makan. Selain itu, laju pertumbuhan anak setelah usia satu tahun memang melambat dibanding masa bayi, sehingga kebutuhan kalorinya tidak sebesar sebelumnya.

Perubahan tekstur makanan saat MPASI juga sering menjadi tantangan. Banyak orang tua mencari solusi mpasi anak 1 tahun yang susah makan karena anak mulai lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, dan aroma makanan.

Selain faktor tersebut, terlalu banyak minum susu atau camilan menjelang jam makan juga dapat membuat anak cepat kenyang sehingga menolak makanan utama.

Penyebab Lingkungan (Gadget, Screen Time, Pola Makan Keluarga)

Faktor lingkungan sering diabaikan padahal pengaruhnya signifikan. Anak yang terbiasa makan sambil bermain gadget atau menonton TV secara perlahan kehilangan kemampuan mengenali sinyal lapar dan kenyang secara alami. Pola makan keluarga turut berkontribusi: jika orang tua sering melewatkan sarapan, jarang makan sayur, atau lebih sering memesan makanan cepat saji, anak cenderung meniru kebiasaan tersebut.

Jadwal makan tidak konsisten memberikan camilan tidak teratur, membiarkan anak makan sambil berjalan, atau sering mengganti makan utama dengan snack membuat anak tidak pernah benar-benar merasa lapar saat jam makan tiba.

Baca Juga: Rekomendasi Susu untuk Meningkatkan Berat Badan Si Kecil

Fase Anak Susah Makan Berdasarkan Usia

Perilaku makan anak biasanya berubah sesuai tahap perkembangan usia. Memahami pola ini membantu orang tua menentukan ekspektasi yang realistis.

Pada usia 6–12 bulan, tantangan utama biasanya muncul saat pengenalan MPASI. Bayi sedang belajar mengenali tekstur dan rasa baru sehingga wajar bila kadang menolak makanan. Pada fase ini, orang tua perlu sabar memperkenalkan makanan secara bertahap.

Memasuki usia 1–3 tahun, banyak anak mengalami fase GTM. Anak menjadi lebih aktif bergerak dan lebih tertarik bermain dibanding duduk makan. Mereka juga mulai memiliki preferensi makanan tertentu dan mudah bosan.

Pada usia 3–5 tahun, perilaku picky eater lebih sering muncul. Anak mulai memilih makanan berdasarkan warna, bentuk, atau tekstur. Sebagian anak hanya mau makan makanan tertentu secara berulang.

Sementara pada usia di atas lima tahun, kebiasaan makan mulai dipengaruhi lingkungan sosial dan pola keluarga. Anak yang terbiasa makan sambil menonton atau terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses cenderung memiliki pola makan kurang baik.

Tabel Penyebab Anak Tidak Mau Makan Berdasarkan Usia

UsiaPenyebab TerseringGejala KhasTindakan Pertama
6–12 bulanAdaptasi MPASIMenolak tekstur baruPerkenalkan bertahap
1–3 tahunGTM/fase otonomiTutup mulut, lempar makananJadwal makan konsisten
3–5 tahunPicky eaterHanya mau makanan tertentuVariasi menu kreatif
5+ tahunKebiasaan makan burukSering ngemil/junk foodAtur pola makan keluarga

10 Cara Mengatasi Anak Tidak Mau Makan

Mengatasi anak susah makan membutuhkan konsistensi. Tidak ada solusi instan, tetapi perubahan kecil yang dilakukan rutin biasanya memberikan hasil lebih baik dibanding memaksa anak makan.

Atur Jadwal & Porsi Makan

IDAI merekomendasikan 3x makan utama + 1–2 snack/hari dengan jeda 2–3 jam. Durasi makan ideal maksimal 30 menit; bila anak tidak fokus setelah 15 menit, waktu makan dapat diakhiri tanpa memaksa.

Hindari memberikan camilan atau susu terlalu dekat dengan jam makan utama karena membuat anak cepat kenyang. Porsi juga sebaiknya tidak terlalu besar. Anak sering merasa kewalahan melihat makanan terlalu banyak di piringnya.

Durasi makan ideal maksimal sekitar 30 menit. Bila anak tidak fokus makan setelah 15–30 menit, waktu makan dapat diakhiri tanpa memaksa. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa makan memiliki jadwal yang jelas.

Variasi Tekstur & Tampilan Makanan

Variasikan warna, bentuk, dan tekstur. Untuk mpasi anak 1 tahun yang susah makan, tekstur lembut dengan variasi rasa lebih efektif. Nasi bentuk karakter, sayur dalam omelet, buah dipotong berwarna-warni.

Pada anak MPASI, tekstur makanan juga perlu disesuaikan bertahap sesuai kemampuan mengunyah. Untuk mpasi anak 1 tahun yang susah makan, makanan bertekstur lembut tetapi tetap memiliki variasi rasa biasanya lebih mudah diterima dibanding makanan yang terlalu hambar.

Libatkan Anak dalam Memasak

Anak yang ikut mencuci sayur, memilih buah, atau menyusun makanan di piring cenderung lebih mau mencoba. Aktivitas ini membangun hubungan positif dengan makanan.

Anak cenderung lebih tertarik mencoba makanan yang mereka bantu siapkan sendiri. Melibatkan anak saat memasak dapat meningkatkan rasa ingin tahu terhadap makanan.

Hindari Memaksa Anak Makan

Memaksa anak makan justru sering memperburuk masalah. Anak dapat menjadi trauma terhadap waktu makan dan semakin menolak makanan.

Sebaliknya, orang tua perlu fokus menciptakan suasana makan yang santai. Berikan contoh makan bersama keluarga tanpa tekanan atau ancaman.

Batasi Distraksi Saat Makan

Makan sambil menonton TV atau bermain gadget membuat anak tidak fokus mengenali rasa lapar dan kenyang. Kebiasaan ini juga meningkatkan risiko makan terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Usahakan waktu makan dilakukan di meja makan tanpa distraksi berlebihan agar anak belajar menikmati proses makan.

Berikan Contoh Pola Makan Sehat

Anak belajar dari lingkungan sekitar. Bila orang tua jarang makan sayur atau sering memilih junk food, anak cenderung meniru kebiasaan tersebut. Karena itu, penting bagi seluruh anggota keluarga menerapkan pola makan sehat bersama.

Baca Juga: Daftar Buah yang Mengandung Kalsium Tinggi untuk Si Kecil

Jangan Langsung Menyerah Saat Anak Menolak Makanan

Penelitian menunjukkan anak sering perlu diperkenalkan makanan baru berkali-kali sebelum akhirnya mau menerima. Jadi, jangan langsung berhenti menawarkan makanan hanya karena anak menolak sekali atau dua kali.

Pastikan Anak Aktif Bergerak

Aktivitas fisik membantu meningkatkan rasa lapar alami pada anak. Anak yang terlalu lama duduk bermain gadget biasanya memiliki nafsu makan lebih rendah dibanding anak yang aktif bergerak.

Perhatikan Asupan Susu

Susu memang penting, tetapi konsumsi berlebihan dapat membuat anak kenyang lebih lama dan menolak makanan utama. Karena itu, jumlah susu perlu disesuaikan dengan usia dan pola makan anak.

Fokus pada Progres Jangka Panjang

Orang tua sering terlalu fokus pada jumlah makanan yang dihabiskan dalam satu kali makan. Padahal, yang lebih penting adalah pola makan dan pertumbuhan anak secara keseluruhan dalam jangka panjang.

Makanan Rekomendasi untuk Anak Susah Makan

Banyak orang tua mencari cara agar anak mau makan dan gemuk. Namun, fokus utama sebenarnya bukan hanya membuat berat badan naik, melainkan memastikan anak mendapatkan nutrisi cukup dan seimbang.

Untuk anak susah makan, pilih makanan yang padat kalori tetapi tetap kaya nutrisi. Contohnya adalah telur, alpukat, keju, ikan, ayam, yoghurt, kacang-kacangan, kentang, ubi, oatmeal, dan pisang.

Protein sangat penting karena membantu pembentukan otot dan jaringan tubuh. Lemak sehat dari alpukat, santan, ikan, dan minyak zaitun juga membantu meningkatkan asupan energi anak tanpa harus memberi porsi terlalu besar.

Pada anak yang hanya mau makan nasi atau karbohidrat, orang tua dapat mencoba mencampurkan sumber protein dan sayur ke dalam makanan favorit anak secara bertahap. Misalnya membuat nasi goreng dengan telur dan sayur cincang halus atau bola-bola kentang isi ayam.

Smoothie buah dengan tambahan yoghurt atau oatmeal juga bisa menjadi pilihan selingan bergizi untuk anak yang sulit makan besar.

Contoh Jadwal Makan Harian Anak

Jadwal makan yang konsisten membantu membentuk pola makan lebih baik. Berikut contoh sederhana yang bisa diterapkan:

  • 07.00 Sarapan (nasi/roti + lauk protein + sayur)
  • 10.00 Snack pagi (buah/yoghurt)
  • 12.30 Makan siang (menu lengkap)
  • 15.30 Snack sore (camilan bergizi)
  • 18.00 Makan malam (porsi lebih ringan)
  • Susu/Morigro: di antara jam makan, bukan tepat sebelum makan utama

Dengan pola seperti ini, anak memiliki jeda cukup untuk merasa lapar sebelum waktu makan berikutnya.

Baca Juga: Berat Badan Ideal Anak 2 Tahun Menurut Standar WHO

Mitos vs Fakta Seputar Suplemen Nafsu Makan

Banyak orang tua langsung mencari suplemen ketika anak tidak mau makan. Namun, tidak semua yang diyakini tentang suplemen anak adalah fakta.

Mitos: Madu bisa langsung meningkatkan nafsu makan anak.

Fakta: Bukti ilmiah bahwa madu secara langsung meningkatkan nafsu makan anak masih sangat terbatas. Madu menambah kalori tapi tidak mengatasi akar masalah. Untuk bayi di bawah 12 bulan, madu tidak boleh diberikan karena berisiko infant botulism.

Mitos: Semakin banyak suplemen diberikan, semakin baik.

Fakta: Memberikan berbagai suplemen sekaligus tanpa indikasi yang jelas bisa mengganggu penyerapan nutrisi. Konsultasikan dengan dokter anak sebelum memulai suplemen apapun.

Mitos: Vitamin pasti langsung meningkatkan nafsu makan.

Fakta: Zinc dan vitamin B memang berperan dalam metabolisme dan fungsi pengecap, namun hasilnya tidak instan. Perbaikan pola makan dan jadwal tetap menjadi intervensi utama untuk mengatasi anak tidak mau makan.

Mitos: Susu bisa menggantikan makan utama agar anak gemuk.

Fakta: Susu fortifikasi seperti Morigro berfungsi sebagai pelengkap nutrisi bukan pengganti makan utama. Memberikan susu berlebihan justru membuat anak kenyang dan semakin tidak mau makan.

Suplemen & Vitamin: Kapan Diperlukan?

Banyak orang tua langsung mencari vitamin penambah nafsu makan ketika anak susah makan. Padahal, suplemen bukan solusi utama dan tidak selalu diperlukan.

Vitamin atau suplemen biasanya dipertimbangkan bila anak memiliki tanda kekurangan nutrisi tertentu, pertumbuhan kurang optimal, pola makan sangat terbatas, atau terdapat kondisi medis tertentu.

Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang cukup sering dikaitkan dengan nafsu makan anak. Kekurangan zinc dapat menyebabkan penurunan selera makan dan gangguan pertumbuhan. Selain zinc, vitamin D, zat besi, dan vitamin B kompleks juga berperan penting dalam metabolisme tubuh.

Namun, pemberian suplemen sebaiknya tetap berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan. Orang tua tidak disarankan memberikan berbagai suplemen sekaligus tanpa indikasi jelas.

Tabel Pilihan Suplemen Berdasarkan Kondisi

JenisContohKandungan UtamaUsiaPerlu ResepCatatan
ZincSirup zincZinc>6 bulanTidak selaluBila ada defisiensi
MultivitaminVitamin anakVit B kompleks, D>1 tahunTidakSesuai kebutuhan
Zat besiSuplemen FeBesiSesuai indikasiYaUntuk anemia
Susu fortifikasiMorigroMinyak Ikan (Omega-3), Probiotik & Prebiotik, Kalsium, Vit D, Protein>12 bulanTidakPelengkap nutrisi harian

Untuk anak yang susah makan, susu pertumbuhan seperti Morigro dengan Formula GROMAX dapat menjadi pilihan praktis sebagai pelengkap nutrisi harian. Morigro mengandung Minyak Ikan kaya Omega-3 yang membantu merangsang nafsu makan serta Probiotik BB536 & Prebiotik FOS yang menjaga kesehatan saluran cerna, dilengkapi tinggi kalori, protein, kalsium, vitamin D, dan 14 vitamin & 9 mineral. Produk seperti ini bukan pengganti makan utama, melainkan jembatan nutrisi untuk membantu memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi ketika asupan makan belum optimal.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Tidak semua anak susah makan membutuhkan pemeriksaan medis. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai karena dapat mengindikasikan masalah kesehatan lebih serius.

Konsultasi ke dokter dianjurkan bila anak tidak mau makan lebih dari dua minggu, berat badan turun atau tidak naik dalam waktu lama, tampak sangat lemas, mengalami dehidrasi, muntah terus-menerus, atau sulit menelan.

Anak yang hanya mau makan jenis makanan sangat terbatas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari juga perlu dievaluasi lebih lanjut.

Pemantauan penting dilakukan karena Indonesia masih menghadapi masalah gizi pada anak. Data pemerintah menunjukkan prevalensi stunting nasional tahun 2024 berada di angka 19,8%, sehingga kecukupan nutrisi dan pola makan anak tetap menjadi perhatian utama.

FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan Orang Tua

Berapa lama fase anak tidak mau makan biasanya berlangsung?

Fase susah makan normal biasanya berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan, terutama pada usia toddler. Namun bila terlalu lama dan memengaruhi berat badan, perlu evaluasi lebih lanjut.

Apakah memaksa anak makan boleh dilakukan?

Tidak dianjurkan. Memaksa makan justru dapat membuat anak trauma terhadap waktu makan dan semakin menolak makanan.

Apa bedanya “tidak mau makan” dengan picky eater?

Anak tidak mau makan menolak hampir semua makanan, sedangkan picky eater masih mau makan tetapi sangat memilih jenis makanan tertentu.

Kapan harus memberi vitamin penambah nafsu makan?

Vitamin diberikan bila ada indikasi kekurangan nutrisi atau rekomendasi dokter. Tidak semua anak susah makan membutuhkan suplemen.

Apakah anak yang tidak mau makan pasti stunting?

Tidak selalu. Namun bila asupan nutrisi kurang dalam jangka panjang, risiko gangguan pertumbuhan memang meningkat.

Bolehkah memberi susu sebagai pengganti makan?

Susu tidak sebaiknya menggantikan makan utama karena anak tetap membutuhkan variasi nutrisi dari makanan padat.

Apa makanan paling efektif untuk anak yang sangat susah makan?

Makanan padat kalori dan tinggi nutrisi seperti telur, alpukat, yoghurt, ikan, dan keju biasanya lebih efektif membantu memenuhi kebutuhan energi anak.

Bagaimana cara mengatasi anak yang hanya mau makan nasi atau karbo saja?

Tambahkan sumber protein dan sayur secara bertahap ke makanan favorit anak tanpa memaksa. Konsistensi dan variasi sangat penting.

Apakah susu bisa membantu anak yang susah makan?

Susu pertumbuhan seperti Susu Morigro 200gr dengan Formula GROMAX yang mengandung Minyak Ikan (Omega-3) untuk membantu nafsu makan, Probiotik BB536 & Prebiotik FOS untuk pencernaan, serta protein, kalsium, dan vitamin D dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi anak susah makan. Namun, susu tetap tidak menggantikan makan utama dan sebaiknya diberikan sebagai selingan di antara jam makan.

Kesimpulan

Anak tidak mau makan merupakan kondisi yang sangat umum terjadi, terutama pada usia bayi dan balita. Penyebabnya dapat berasal dari faktor medis, psikologis, fisiologis, maupun pola makan sehari-hari. Karena itu, penanganannya perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.

Langkah paling penting adalah membangun pola makan yang konsisten, menciptakan suasana makan menyenangkan, memberikan variasi makanan, serta menghindari pemaksaan. Orang tua juga perlu memahami bahwa perubahan perilaku makan anak sering membutuhkan waktu dan konsistensi.

Bila anak mengalami penurunan berat badan, tampak lemas, atau menolak makan dalam waktu lama, konsultasi ke dokter diperlukan agar penyebabnya dapat dievaluasi lebih lanjut dan anak tetap mendapatkan nutrisi optimal untuk tumbuh kembangnya.


Referensi

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015). Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Sulit Makan pada Bayi dan Anak. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). Makan Kok Diemut Sih?. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/makan-kok-diemut-sih
  • NHS Website Editorial Team. (2020). Fussy Eaters. NHS UK. https://www.nhs.uk/baby/weaning-and-feeding/fussy-eaters/
  • Raising Children Network. (2022). Toddler Not Eating? Ideas and Tips. https://raisingchildren.net.au/toddlers/nutrition-fitness/common-concerns/toddler-not-eating
  • Kementerian Kesehatan RI. (2025). SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%. https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198
  • Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. (2025). Prevalensi Stunting Tahun 2024 Turun Jadi 19,8 Persen. https://www.kemenkopmk.go.id/prevalensi-stunting-tahun-2024-turun-jadi-198-persen-pemerintah-terus-dorong-penguatan-gizi
  • World Health Organization. (2023). Infant and Young Child Feeding. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding
Morigro mendukung program ASI Eksklusif