Nafsu makan anak dapat ditingkatkan melalui 12 cara: jadwal makan konsisten, porsi kecil, camilan padat gizi, hindari susu berlebihan sebelum makan, variasi menu, libatkan anak, responsive feeding, batasi distraksi, cukupi zinc/protein, paparan berulang makanan baru, aktivitas fisik, dan pantau kurva pertumbuhan.
Tambahkan sumber lemak sehat seperti alpukat, keju, atau minyak zaitun (Extra Virgin Olive Oil), berikan makan dalam porsi kecil namun lebih sering (5–6 kali sehari), dan pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
Kebiasaan memaksa makan justru dapat menurunkan nafsu makan anak dalam jangka panjang, sehingga pendekatan yang konsisten, sabar, dan menyenangkan lebih efektif untuk membantu anak mau makan.
Sebelum membahas cara agar anak mau makan dan gemuk, orang tua perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “berat badan ideal”. Berat badan ideal bukan berarti anak harus terlihat gemuk atau berisi, melainkan berada dalam rentang normal menurut kurva pertumbuhan WHO.
Penilaian ini biasanya menggunakan indikator seperti BB/U (berat badan menurut usia), TB/U (tinggi badan menurut usia), dan BB/TB (berat badan menurut tinggi badan). Anak yang berada dalam rentang -2 hingga +2 standar deviasi dianggap memiliki status gizi normal. Anak dengan tubuh kecil belum tentu kurang gizi, begitu pula anak yang tampak gemuk belum tentu sehat.
Menurut acuan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan RI, anak usia 1–9 tahun membutuhkan sekitar 1.135–1.650 kkal per hari, tergantung usia dan tingkat aktivitas. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara konsisten, berat badan anak bisa sulit naik meskipun terlihat sering makan.
Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara jumlah makanan dan kualitas nutrisi. Anak yang makan dalam porsi besar tetapi rendah kalori belum tentu mendapatkan energi yang cukup untuk pertumbuhan.
Masalah anak tidak mau makan sering menjadi kekhawatiran utama orang tua. Namun, solusi yang efektif bukanlah memaksa anak makan dalam porsi besar, melainkan mengoptimalkan kualitas asupan dan menciptakan pengalaman makan yang menyenangkan.
Berikut adalah 10 strategi alternatif yang aman, sehat, dan berfokus pada psikologi serta sensorik anak agar ia kembali lahap dan mencapai berat badan ideal.
Jika anak Anda sangat picky dan hanya mau makan satu jenis makanan (misalnya hanya mau kentang goreng), gunakan teknik food chaining. Hubungkan makanan yang ia suka dengan makanan baru yang memiliki profil rasa atau tekstur serupa.
Banyak anak menolak makan karena mereka sangat sensitif terhadap tekstur (sensory defensiveness). Untuk mengatasinya, biarkan mereka bermain kotor (messy play) di luar jam makan. Berikan mereka adonan tepung, slime berbahan dasar makanan, atau biarkan mereka meremas-remas jelly. Semakin terbiasa tangan mereka menyentuh tekstur lengket atau basah, semakin mudah mulut mereka menoleransi tekstur makanan.
Daripada menyajikan piring yang sudah diisi penuh ke hadapan anak, cobalah gaya makan prasmanan keluarga (family-style). Letakkan nasi, lauk, dan sayur di mangkuk-mangkuk besar di tengah meja. Biarkan anak mengambil makanannya sendiri (dengan bantuan Anda jika perlu). Ini memberikan mereka rasa memiliki kontrol dan kemandirian, yang sering kali ampuh menurunkan resistensi mereka terhadap makanan.
Terkadang anak tidak mau makan bukan karena tidak lapar, tetapi karena mengunyah terasa sakit atau melelahkan. Periksa apakah ada sariawan tersembunyi, karies gigi, atau kondisi tongue-tie / lip-tie. Jika Anda berada di wilayah Bogor, jangan ragu untuk mengunjungi dokter gigi anak (Pedodontis) guna memastikan tidak ada kendala fisik pada rongga mulutnya.
Orang dewasa mungkin menganggap makanan hangat adalah yang paling nikmat. Namun, beberapa anak memiliki sensitivitas suhu di mana makanan hangat justru terasa tidak nyaman di lidah mereka. Cobalah menyajikan makanannya dalam suhu ruang (room temperature) atau bahkan sedikit dingin. Perbedaan suhu ini bisa menjadi kunci yang selama ini Anda cari.
Anak-anak memiliki rasa kompetisi alami dan suka meniru teman-temannya. Undang sepupu atau teman sebayanya yang dikenal memiliki nafsu makan bagus untuk makan bersama di rumah. Melihat temannya makan brokoli atau ayam dengan lahap tanpa paksaan sering kali menjadi motivasi terkuat bagi anak untuk ikut membuka mulut.
Jika ruang makan atau kursi makannya (high chair) sudah terlanjur menjadi tempat yang memicu trauma atau stres bagi anak, lakukan sensory reset. Pindahkan lokasi makan! Gelar tikar di halaman belakang rumah, buat piknik kecil di teras sambil menikmati udara segar pagi hari, atau ubah pencahayaan ruang makan menjadi lebih hangat. Suasana baru akan me-reset mood anak.
Anak sangat cerdas menangkap sugesti. Jika Anda sering mengeluh, “Aduh, anakku ini memang susah banget makan,” di depan anak atau kepada tetangga, anak akan menginternalisasi label tersebut sebagai identitasnya. Ubah afirmasi Anda menjadi positif. Pujilah setiap usaha kecilnya, misalnya, “Wah, Kakak hebat sudah mau mengunyah daging hari ini!”
Pijat Tui Na adalah salah satu metode pijat lembut pada titik-titik meridian tertentu di tubuh anak (seperti area perut, telapak tangan, dan kaki). Banyak praktisi kesehatan meyakini bahwa pijatan ini dapat melancarkan aliran darah, memperbaiki fungsi limpa dan lambung, serta merangsang nafsu makan secara alami tanpa obat-obatan.
Terkadang rasa frustrasi anak saat makan muncul karena alat makannya sulit digunakan. Sendok yang terlalu lebar, mangkuk yang mudah bergeser, atau garpu yang tumpul membuat mereka lelah sebelum makanan habis. Berinvestasilah pada alat makan ergonomis, seperti mangkuk dengan suction (suction bowl) dan sendok bersudut yang sesuai dengan genggaman tangan mungilnya.
Baca Juga: Rekomendasi Susu untuk Meningkatkan Berat Badan Si Kecil
Berikut adalah contoh makanan yang memiliki kepadatan kalori tinggi dan cocok untuk membantu meningkatkan berat badan anak secara sehat:
| Makanan | Kalori per 100g | Lemak Baik | Cara Penyajian |
| Alpukat | 160 kkal | Ya | Dihaluskan atau smoothie |
| Keju cheddar | 400 kkal | Ya | Campur nasi/pasta |
| Minyak zaitun | 884 kkal | Ya | Tambahan makanan |
| Kacang almond bubuk | 575 kkal | Ya | Campur bubur |
| Ubi jalar | 86 kkal | Rendah | Kukus/puree |
| Telur | 155 kkal | Ya | Rebus/orak-arik |
| Yogurt full cream | 61 kkal | Ya | Camilan |
| Selai kacang | 588 kkal | Ya | Oles roti |
Tabel ini membantu orang tua memahami bahwa meningkatkan berat badan anak tidak harus dengan makanan dalam jumlah besar, tetapi dengan pemilihan makanan yang tepat.
Dalam upaya meningkatkan berat badan, banyak orang tua tanpa sadar melakukan kesalahan yang justru menghambat.
Salah satu kesalahan paling umum adalah memaksa anak untuk makan. Tekanan ini bisa membuat anak mengasosiasikan waktu makan sebagai pengalaman negatif, sehingga nafsu makan semakin menurun.
Kesalahan lainnya adalah memberikan susu kental manis dengan tujuan “menggemukkan” anak. Produk ini sebenarnya tinggi gula tetapi rendah protein dan mikronutrien, sehingga tidak mendukung pertumbuhan yang sehat. Bahkan, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas dan kerusakan gigi.
Selain itu, banyak orang tua terlalu fokus pada volume makanan tanpa memperhatikan kualitasnya. Anak mungkin makan banyak, tetapi jika kandungan gizinya rendah, berat badan tetap sulit naik.
Kurangnya tidur juga sering diabaikan. Padahal, hormon pertumbuhan (growth hormone) dilepaskan secara optimal saat anak tidur. Anak yang kurang tidur cenderung mengalami gangguan nafsu makan dan pertumbuhan.
Nafsu makan anak tidak hanya dipengaruhi oleh makanan, tetapi juga oleh pola tidur dan aktivitas fisik.
Anak yang aktif secara fisik cenderung memiliki nafsu makan yang lebih baik. Bermain di luar rumah, berlari, atau aktivitas motorik lainnya membantu meningkatkan kebutuhan energi tubuh, sehingga anak lebih mudah merasa lapar.
Sementara itu, tidur yang cukup sangat penting untuk proses pemulihan dan pertumbuhan. Kurang tidur dapat mengganggu regulasi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
Dengan kata lain, untuk meningkatkan nafsu makan anak, orang tua perlu memperhatikan gaya hidup anak secara menyeluruh, bukan hanya pola makan.
Selain makanan utama, selingan juga memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan kalori harian anak. Selingan yang baik adalah yang mengandung kombinasi karbohidrat, protein, dan lemak sehat.
Dalam konteks ini, susu dapat menjadi salah satu pilihan praktis. Susu pertumbuhan seperti Morigro dengan Formula GROMAX dapat dijadikan selingan pagi atau malam hari untuk menambah asupan kalori dan protein harian dengan kandungan tinggi kalori (sekitar 180 kkal) dan protein per saji, namun rendah gula, sehingga membantu kenaikan berat badan anak secara sehat. Pemberiannya sebaiknya sekitar 150–200 ml dan diberikan dalam jeda waktu, minimal satu jam sebelum atau setelah makan utama, agar tidak mengganggu nafsu makan anak.
Perlu diingat bahwa susu hanya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utama.
Perubahan berat badan biasanya terlihat dalam beberapa minggu hingga bulan, tergantung konsistensi pola makan dan kondisi anak.
Aman jika dalam jumlah wajar dan menjadi bagian dari diet seimbang.
Sekitar 1.000–1.200 kkal per hari, tergantung aktivitas.
Tidak direkomendasikan karena tinggi gula dan rendah nutrisi penting.
Gunakan makanan padat kalori, porsi kecil, dan frekuensi makan lebih sering.
Susu fortifikasi seperti Morigro dapat membantu menambah kalori harian sebagai selingan bergizi, namun bukan pengganti makanan utama.
Ya, karena variasi nutrisi terbatas, sehingga perlu strategi kreatif dalam penyajian makanan.